Jangan lupa pasang spion kanan dan kirimu dengan sudut yang tepat sebelum kamu melangkah. Spion akan sangat memandumu agar kau tidak disakiti dari belakang, agar kau belajar peduli bukan hanya yang ada di hadapanmu tapi juga di belakang matamu.
Tapi, jangan pula terlalu sering melihat spion sehingga kamu lupa bahwa jarak di depanmu ternyata sudah habis dimakan ketergesaan. Kau tidak hanya akan menyakiti dirimu tapi juga sesamamu.
Tidak habis bercermin, tidak habis waktu berjalan sia-sia karena sebuah cermin. Semua berbuah manis jika pupuk yang kau gunakan sesuai dengan kebutuhan. Jangan berlebihan. Jangan melenceng dari aturan. Sirami dengan penuh pengertian dan kesabaran. Dan lihat, bahwa kamu tidak berjalan sendirian.
Sunday, October 14, 2012
Monday, October 1, 2012
Selamat Tiba, Oktober
Bulan favorit saya setelah bulan Februari adalah bulan Oktober. Dan kali ini ia datang tepat waktu. Eh, kapan sih waktu tidak tepat waktu? :P
Secara kebetulan banyak hal yang saya tunggu di bulan ini tahun ini. Salah duanya, peluncuran buku pertama dari penerbit tempat saya bekerja (Puji Tuhan!) dan datangnya (satu-satunya) boyband Korea yang saya sukai ke Indonesia, Bigbang. Hahahaha... Agak kontras yah yang saya tunggu-tunggu bulan ini :D
Selamat tiba kembali, Oktober. Semoga kamu menakjubkan dan diberkati. Mari berjalan beriringan bersama angin manis yang bermain di ujung jemarimu :)
Secara kebetulan banyak hal yang saya tunggu di bulan ini tahun ini. Salah duanya, peluncuran buku pertama dari penerbit tempat saya bekerja (Puji Tuhan!) dan datangnya (satu-satunya) boyband Korea yang saya sukai ke Indonesia, Bigbang. Hahahaha... Agak kontras yah yang saya tunggu-tunggu bulan ini :D
Selamat tiba kembali, Oktober. Semoga kamu menakjubkan dan diberkati. Mari berjalan beriringan bersama angin manis yang bermain di ujung jemarimu :)
Sunday, September 30, 2012
Mawar Jepang - Rei Kimura
"Aku tidak membenci siapa pun. Ini perang dan darah semua orang tertumpah di semua pihak, dan pada akhirnya, takada yang benar-benar menang."
Kalimat itu diucapkan oleh Reiko, sahabat satu-satunya yang dimiliki Sayuri Miyamoto semasa Jepang berperang melawan Amerika. Saat itu, Sayuri dan Reiko mendaftarkan dirinya menjadi perawat di rumah sakit di Tokyo. Mereka pergi meninggalkan hangatnya keluarga dan desa kecil mereka yang nyaman untuk bergabung bersama pemuda dan pemudi mengadapi perang di Tokyo. Tapi, hal yang paling utama mendorong mereka pergi adalah kepergian adik lelaki Sayuri, Hiro, dan tunangan Reiko, Yukio, yang dipanggil untuk menjadi tentara.
Jepang menyerang Pearl Harbor, seolah membangkitkan macan tidur. Amerika pun tidak tinggal diam, dengan senang hati mengajak Jepang dalam peperangan. Pada saat itu, pemerintah mengharuskan pemuda-pemuda di atas 20 tahun untuk bergabung dalam militer. Lalu, usia diturunkan, bagi pemuda yang sudah berusia 17 tahun wajib bergabung dengan militer. Hati ibu mana yang rela melepaskan anak laki-lakinya untuk bergabung dalam perang yang kemungkinan untuk hidupnya kecil. Hiro, yang saat itu nyaris berusia 18 tahun dipaksa masuk militer.
Sayuri Miyamoto adalah seorang perempuan yang menyamar menjadi laki-laki, yang bergabung dalam angkatan udara. Ia mendaftarkan diri sebagai pilot kamikaze. Rencana tempur Jepang yang saat itu paling dibanggakan oleh Jepang, menabrakan pesawatnya dengan pesawat musuh. Pilot-pilot kamikaze inilah yang nantinya akan mengemudi pesawat bunuh diri demi negara itu.
Berbekal nafsu membalaskan dendam atas kematian adik dan sahabatnya, Sayuri memotong rambut hitam panjangnya. Tanda ia memutuskan dirinya dengan kehidupan dan masa lalunya sebagai perempuan. Peraturan militer menolak perempuan menjadi bagian di dalamnya dan dengan tekat kuat, Sayuri memalsukan jati dirinya. Digunakannya nama adiknya, Hiro Miyamoto.
Bahkan Sayuri tidak menyangka pada akhirnya seorang pemuda mengetahui identitasnya dan mereka jatuh cinta. Takushi, kekasih Sayuri, merupakan pelatih para pilot kamikaze. Ia sendiri adalah seorang pilot kamikaze yang sedang menunggu tanggal terbangnya.
Perasaan cinta membuat niat Sayuri perlahan luntur. Ia ingin memadu cinta lebih lama dengan Takushi. Tapi jika identitas perempuannya diketahui oleh pemimpin angkatan udara, nyawa mereka belum tentu bisa selamat. Mereka bisa saja ditembak mati dengan tidak terhormat. Maka, berlanjutlah hidup mereka sambil menunggu tanggal kematian mereka.
Saatnya tiba. Takushi mendapatkan tanggalnya dan berhasil menempatkan nama Sayuri pada tanggal yang sama. Mereka akan berbang sebagai Angin Tuhan pada saat yang sama.
Pesawat Takushi berhasil menabrakkan diri, tapi tidak dengan pesawat Sayuri. Pesawatnya ditembak oleh musuh dan jatuh di laut. Ia kemudian diselamatkan oleh musuh dan dijadikan tawanan negara. Pihak Amerika bertanya-tanya mengapa seorang perempuan boleh menjadi seorang pilot kamikaze padahal setahu mereka posisi itu hanya untuk para lelaki. Sayuri hanya berkata dalam tiap-tiap introgasinya bahwa ia pilot kamikaze.
Jepang setuju saling menukar para tahanan. Kembalilah Sayuri dengan perasaan malu, sedih, dan tidak berdaya. Pada saat itu, pilot kamikaze yang selamat merupakan aib yang paling memalukan. Ketika dalam pelatihan, otak mereka dicuci bahwa kamikaze adalah tugas yang paling mulia untuk mengharumkan nama negara. Pulang dengan selamat merupakan hal yang paling memalukan.
Bersama para pilot kamikaze yang selamat lainnya, Sayuri tinggal dalam sebuah kamp. Di tempat itu mereka disebut idiot, tidak berjiwa patriot, dan dianggap pengecut karena berhasil selamat dari sebuah pertempuran. Sayuri yang masih berpura-pura menjadi laki-laki merasa sangat tertekan. Ia telah menipu negaranya, menyamar menjadi laki-laki, berhasil menjadi pilot kamikaze, tapi berhasil hidup. Sebuah aib bukan hanya bagi angkatan udara tapi juga bagi negara itu.
Bahkan negeri mereka sendiri tidak menyambut mereka sebagai warga negara. Mereka diperlakukan seperti tawanan perang asing. Meski pulang ke Jepang, mereka tidak benar-benar pulang. Berjam-jam mereka dimaki, dijatuhkan harga dirinya karena tidak berhasil mati untuk negara dan membuat malu kaisar dan Jepang.
Suatu hari, akan diadakan pengecekan fisik para tahanan. Saat itulah Sayuri mendatangi pimpinan kamp dan memberitahu siapa dirinya. Sebuah hukuman menantinya. Ia tahu ia tidak akan keluar tanpa adanya hukuman yang dilimpahkan padanya. Ia harus memilih, membunuh Sayuri Miyamoto dan menjadi Rika Kobayashi serta tidak berhubungan lagi dengan keluarganya atau tetap menjadi Sayuri Miyamoto tapi ia dan seluruh keluarganya akan dibunuh. Sayuri memilih yang pertama.
Keluarganya diberitahu bahwa Sayuri meninggal dalam suatu misi perang. Diadakan acara pemakaman bagi dirinya. Sayuri mati bersama kenangannya di masa lalu. Ia kemudian hidup dengan nama Rika Kobayashi.
Sejarah hidupnya sebagai pilot kamikaze perempuan akhirnya bisa ia ceritakan pada seorang sejarawan. Pada awalnya ia selalu menolak jika ada yang menanyakan Sayuri Miyamoto. Tapi ia sudah tua dan tidak kuat menampung cerita muram itu. Berpuluh tahun bayangan Reiko, Hiro, dan Takushi menghantui. Trauma-trauma muncul dalam mimpi-mimpi buruk. Dan sebelum ia mati, ia ingin membagi kisahnya.
Tidak ada perang yang tidak merugikan. Semua korban adalah anak, suami, istri, atau kekasih seseorang. Darah yang ditumpahkan dari semua pihak tidak ada yang sedikit. Dan banyak kenyataan yang ditutupi agar sebuah negara tidak malu pada kesalahan rakyatnya. Sayuri Miyamoto adalah perempuan yang dibungkam oleh perang. Tidak ingin memalukan sejarah kamikaze, ia disuruh membunuh hidup dan masa lalunya.
Tidakkah mereka yang berperang tahu bahwa perang akan terus berlanjut karena mereka yang mengelukan balas dendam. Sedangkan balas dendam sendiri akan terus muncul dan tenggelam. Tapi nyatanya, di sisi hati mereka yang terkecil, mereka juga ingin agar perang segera selesai sehingga mereka bisa bertemu dengan keluarga yang tersisa.
Mawar Jepang, Kisah Pilot Kamikaze Perempuan yang Dibungkam dalam Sejarah merupakan karya Rei Kimura. Buku sebelumnya, Catatan Ichiyo, Perempuan Miskin di Lembar Uang Jepang, pernah pula saya tuliskan dalam blog ini. Jepang bukan satu-satunya negara yang tidak ingin memperlihatkan sejarah yang sebenarnya. Banyak pula kisah-kisah yang dibungkam karena tidak ingin menjelekkan nama negaranya. Orang-orang kecil dibungkam. Dibiarkan merana dalam kenangan buruknya sendiri terhadap perang.
Friday, September 28, 2012
Namaku Hiroko - Nh. Dini
Namanya Hiroko. Saya sempat bertemu dengan Hiroko ketika duduk di bangku SMA. Nama itu mengisi selembar atau dua lembar buku pelajaran bahasa Indonesia. Ketika membaca sepenggal cerita itu, saya penasaran ingin tahu cerita sebelum dan sesudahnya. Tidak banyak cerita yang dikutip begitu panjang dalam sebuah buku pelajaran, dan cerita itu melekat pada kepala saya.
Sampai akhirnya saya utuh bertemu dengan Hiroko. Nh. Dini menceritakan Hiroko dengan begitu keras. Ia buat hidup Hiroko begitu rumit. Anak dari keluarga yang tidak berada, tidak bisa melanjutkan sekolah, menjadi pembantu rumah tangga, pindah ke pulau lain dan kembali lagi menjadi rumah tangga. Dibuatnya Hiroko akhirnya hidup sedikit mapan namun malah menjadi penari telanjang dan menjalin hubungan terlarang dengan pria milik perempuan lain. Betapa kerasnya hidup Hiroko.
Namun, Hiroko tidak mengeluh. Tujuan hidupnya hanyalah untuk uang, untuk benda-benda yang dapat ia lihat dan ia sentuh. Bahkan ia tidak merasa terjerumus dalam dunia malam tetapi menikmati karena bisa mendapatkan uang tambahan. Menjadi simpanan pria beristri pun bukan hal yang tidak diinginkan. Ia berpikir semua demi uang yang akan memenuhi isi tabungannya.
Mengambil latar tempat di Jepang, menjadikan novel ini lebih segar dibandingkan beberapa novel Nh. Dini yang pernah saya baca. Sosok Hiroko pun lebih menarik ketimbang perempuan-perempuan lain yang pernah Nh. Dini buat, lagi-lagi sejauh yang pernah saya baca.
Hiroko bahkan tidak peduli dengan sebutan "perempuan simpanan". Ia merasa hidupnya bahagia meskipun pria yang mungkin dicintainya itu adalah suami sahabatnya sendiri. Entah mana yang lebih kejam, Nh. Dini atau hidup ini sendiri. Tapi toh Hiroko menikmatinya. Tidak ingin ambil pusing karena rumah idaman sudah didapat dan uang tidak akan pergi ke mana-mana.
Sampai akhirnya saya utuh bertemu dengan Hiroko. Nh. Dini menceritakan Hiroko dengan begitu keras. Ia buat hidup Hiroko begitu rumit. Anak dari keluarga yang tidak berada, tidak bisa melanjutkan sekolah, menjadi pembantu rumah tangga, pindah ke pulau lain dan kembali lagi menjadi rumah tangga. Dibuatnya Hiroko akhirnya hidup sedikit mapan namun malah menjadi penari telanjang dan menjalin hubungan terlarang dengan pria milik perempuan lain. Betapa kerasnya hidup Hiroko.
Namun, Hiroko tidak mengeluh. Tujuan hidupnya hanyalah untuk uang, untuk benda-benda yang dapat ia lihat dan ia sentuh. Bahkan ia tidak merasa terjerumus dalam dunia malam tetapi menikmati karena bisa mendapatkan uang tambahan. Menjadi simpanan pria beristri pun bukan hal yang tidak diinginkan. Ia berpikir semua demi uang yang akan memenuhi isi tabungannya.
Mengambil latar tempat di Jepang, menjadikan novel ini lebih segar dibandingkan beberapa novel Nh. Dini yang pernah saya baca. Sosok Hiroko pun lebih menarik ketimbang perempuan-perempuan lain yang pernah Nh. Dini buat, lagi-lagi sejauh yang pernah saya baca.
Hiroko bahkan tidak peduli dengan sebutan "perempuan simpanan". Ia merasa hidupnya bahagia meskipun pria yang mungkin dicintainya itu adalah suami sahabatnya sendiri. Entah mana yang lebih kejam, Nh. Dini atau hidup ini sendiri. Tapi toh Hiroko menikmatinya. Tidak ingin ambil pusing karena rumah idaman sudah didapat dan uang tidak akan pergi ke mana-mana.
Undangan
Satu
kedip. Dua. Tiga. Berkali-kali Ara mengedipkan mata, nama itu tidak berubah. Sebuah
nama yang membangkitkan kenangan yang sudah ia simpan di hatinya yang paling
bawah. Nyaris berdebu sampai ia melihat nama itu lagi.
Sebuah
undangan pernikahan dengan nama yang sama. Lagi-lagi Ara berkedip. Masih nama
yang sama. Dan seketika degupan jantung berpacu dengan gerak bibir yang membaca
kata demi kata pada layar komputer Ara. Udangan elektronik itu ia baca
berkali-kali. Mungkin berharap mendapatkan nama yang berbeda. Nyatanya seratus
kali pun ia berkedip, nama dan tanggal pernikahan itu tetap sama. Sakit. Bahkan
melihat undangan pernikahannya pun sakit.
Jarinya
perlahan mengklik sebuah gambar. Ya, itu dia. Lutut Ara lemas, seolah bangku
yang ia duduki tidak mampu menampung dirinya. Itu dia. Dia menikah dengan
perempuan yang tidak Ara kenal. Cantik. Ah, tidak. Tapi memang cantik. Tapi...
Sudah
lama Ara takbertemu pria itu, bahkan salam dan basa-basi menanyakan kabar pun
entah kapan berlalu. Ia menarik hatinya dari pria itu bertahun yang lalu. Merasa
sudah selesai, merasa mampu meninggalkan kenangan bahagia yang dikumpulkan
bersama pria itu. Tapi, nampaknya separuh hati Ara masih tertinggal di pemilik
senyum berlesung pipi itu.
Ara
sulit jatuh cinta. Dan pria itu membuat Ara tahu apa yang dinamakan cinta. Tidak
terlalu terlambat untuk tahu bahwa pria dan wanita bisa berbagi perasaan yang
seperti itu. Lagi-lagi undangan pernikahan itu membuat hati Ara tergerus luka.
Diambilnya
telepon genggam dari dalam tasnya. Diketiknya sebuah kalimat. Dihapus. Diulangi.
Dihapus lagi. Ara ragu. Haruskah ia mengirim pesan pada pria itu? Sekadar ingin
tahu kebenarannya? Atau, ingin menambah gerus di hatinya?
Akhirnya
beberapa kalimat berhasil diketiknya. Pesan terkirim. Berdebar-debar Ara
menunggu jawaban. Akankah lama? Mungkin ia sibuk. Ah, tidak. Sebuah pesan
masuk. Dari pria itu. Pertanyaan basa-basi tentang kabar memulai. Nada bahagia.
Dan benar, ia akan menikah. Dua minggu lagi katanya. Ara harus datang sebagai
teman lama. Ya, teman lama. Kebahagiaan membuat ia lupa.
Ucapan
selamat Ara sampaikan. Dan berjanjilah bahwa ia akan datang. Tidak begitu jujur
ia ucapkan bahwa ia ikut senang.
Ternyata
waktu hanya berhenti pada diri Ara. Pria itu terus berjalan dan melewati pagar
yang dulu Ara bangun di sekitarnya.
Ruang
kamarnya lalu kabur di matanya.
Saturday, September 22, 2012
Hilang
Ia
hanya bisa pandangi tubuh lemah di hadapannya. Takhenti tangannya eluskan
semangat. Berharap semua akan baik-baik saja.
Baginya,
dunia gelap. Hujan turun begitu deras sampai lupa memanggil pelangi. Udara
begitu dingin, bahkan matahari malas menggantung tinggi.
“Kamu
pasti baik-baik aja, Ra. Kamu pasti kuat, Ra,” tapi air mata terus menetes. Jatuh
dari setiap semangat yang diucapkan.
Hidupnya tidak akan
lagi sama. Hatinya tidak akan lagi sempurna. Separuhnya jiwanya hilang dibawa
istrinya yang takberdaya.
Ia abaikan denyut
jantung yang menurun. Ia abaikan kenyataan yang ada di hadapannya.
“Kamu ngga sendiri,
Ra. Bangun, Ra.”
Dan bunyi panjang
tanpa putus ternyata menyadarkannya bahwa hidup bukan miliknya. Tinggal tangan
yang mendingin yang menyambungkan hatinya pada istrinya dan tetes air mata yang
mengantarkannya.
Ibu Meluntur
“Bu, Bu, Ibu di
mana?” Teriak perempuan itu memanggil Ibunya.
“Ibu di mana, Bu.
Di mana, Bu?” Kali ini di sela-sela senguk-tangisnya.
Lalu perempuan itu
diam. Hanya bisa pandangi gambar hitam-putih di pangkuannya. Dengan jejari
keriputnya ia bawa gambar masa lalunya ke mulutnya. Ia kecup penuh haru. Biru.
“Bu, Bu, Ibu. Sini,
Bu. Ara sendiri, Bu.”
Teriakan panjang
menggema ke sepanjang lorong. Petugas berseragam putih masuk
berbondong-bondong. Tubuh Ara dikerumuni. Ditarik ke semua penjuru arah.
Diikat. Dan sebatang jarum meninabobokannya.
Gambar hitam-putih
itu terinjak-injak.
“Jangan. Jangan
injak Ibuku.”
Suaranya
deru-menderu bersama nafas yang satu-satu.
“Bu... Ara... Bu...”
Seiring irama nafas yang teratur, Ara pulas dipaksa tidur.
Seorang petugas
mengambil gambar di lantai. Dibersihkan dengan tangannya dan ditaruhnya di atas
meja, sebelah ranjang Ara.
“Tuh, Bu. Si Ara
kangen katanya,” kata petugas itu pada gambar hitam-putih.
Sosok dalam gambar itu
diam tidak menjawab. Senyum yang tadinya tergores di bibirnya, luntur.
Dalam tidurnya Ara
tersenyum. Mungkin Ibu datang di mimpinya. Mungkin senyum itu tidak jadi
luntur. Padahal di luar hujan mulai turun.
Tik... tik...
tik... Bunyi hujan di atas genting.
Suara Ibu
samar-samar menjauh. Ara sendiri. Lagi.
Delapan Enam
Jadi, mana yang lebih berat, Mbi? Hidup jadi anak petani, hidup jadi pegawai negeri, hidup dalam penjara, atau hidup dari uang "delapan enam"?
Mana yang lebih menyenangkan, Mbi? Ketika kamu tidak punya uang tapi jujur atau ketika kamu punya banyak tabungan tapi jujur kamu tinggalkan?
Katanya kamu mau berhenti hidup dari uang jualan shabu-shabu. Katanya kamu tidak ingin anakmu kenal penjara dan uang haram. Tapi ternyata hidup butuh uang bukan, Mbi?
Semua serba delapan enam. Hidup dipermudah dengan delapan enam. Sayangnya waktu tidak bisa dikompromi dengan delapan enam.
Lalu cermin bertanya, kapan kamu dan orang-orang yang kenal delapan enam akan meninggalkan delapan enam; kapan kejujuran lebih penting dari setumpuk uang. Perut butuh makan yah, Mbi? Cinta apa lagi yah, Mbi? Orang tuamu bagaimana? Televisi lebih kejam dari dunia nyata loh, Mbi.
Ah, tidak. Dunia nyata jauh lebih kejam, Mbi. Lihat saja orang-orang yang membeli segalanya dengan uang. Delapan enam yah, Mbi. Harga dirimu tidak delapan enam kan, Mbi?
Mana yang lebih menyenangkan, Mbi? Ketika kamu tidak punya uang tapi jujur atau ketika kamu punya banyak tabungan tapi jujur kamu tinggalkan?
Katanya kamu mau berhenti hidup dari uang jualan shabu-shabu. Katanya kamu tidak ingin anakmu kenal penjara dan uang haram. Tapi ternyata hidup butuh uang bukan, Mbi?
Semua serba delapan enam. Hidup dipermudah dengan delapan enam. Sayangnya waktu tidak bisa dikompromi dengan delapan enam.
Lalu cermin bertanya, kapan kamu dan orang-orang yang kenal delapan enam akan meninggalkan delapan enam; kapan kejujuran lebih penting dari setumpuk uang. Perut butuh makan yah, Mbi? Cinta apa lagi yah, Mbi? Orang tuamu bagaimana? Televisi lebih kejam dari dunia nyata loh, Mbi.
Ah, tidak. Dunia nyata jauh lebih kejam, Mbi. Lihat saja orang-orang yang membeli segalanya dengan uang. Delapan enam yah, Mbi. Harga dirimu tidak delapan enam kan, Mbi?
Subscribe to:
Posts (Atom)



