Rindu itu ketika selesai membaca buku lalu membahasnya.
Rindu itu ketika selesai menonton film lalu membahasnya.
Rindu itu ketika selesai menonton pertunjukan teater lalu membahasnya.
Membahasnya dalam sebuah tulisan utuh.
Rindu itu mereka.
Tuesday, September 8, 2015
Saturday, August 22, 2015
Bigbang Made Tour Indonesia
Bigbang made VIP
VIP made Bigbang
Sebenernya konser ini sudah berlangsung tiga minggu kemarin, tepatnya 1 Agustus 2015, tapi sampai sekarang saya masih tidak bisa melupakan bagaimana rasanya berhadapan langsung dengan mereka.
Ya, saya VIP, sebutan untuk penggemar Bigbang. Kadang, teman-teman saya saja masih mencibir kalau saya ngomongin kekerenan mereka. Tapi, asal tahu saja, Bigbang adalah satu-satunya musisi/artis/atau apa pun sebutannya yang saya kejar sejak saya mengenal mereka. Seumur hidup sampai hari ini, tidak ada yang lain yang bisa membuat saya "seniat" itu.
Promotor memberitahu kalau penonton bisa mulai mengantri sejak pukul 07.00. Saya sudah duduk manis mengantri sekitar pukul 08.00 dengan ribuan penggemar yang lain. Dengan menguras tabungan, saya membeli tiket festival karena saya tahu saya akan menyesal jika saya tidak berada sedekat mungkin dengan mereka.
Beberapa hal membuat saya kecewa sejak mengantri. Awalnya kami antri di luar venue. Lalu kami diperbolehkan masuk dan mengantri di dalam, di ruangan yang dilengkapi pendingin udara. Sebelum masuk, semua makanan dan minuman dikeluarkan dan dibuang, tidak boleh dibawa masuk. Betapa kecewanya saya harus membuang makanan dan minuman yang sangat berharga itu.
Sampai di dalam banyak terlihat food truck. Ah, pantas saja tidak boleh membawa makanan, rupanya promotor bekerja sama dengan penjual-penjual itu. Betapa sedihnya saya melihat makanan di depan pintu masuk yang diabaikan begitu saja.
Kami pun duduk mengantri. Tapi lagi-lagi saya kecewa. Tidak ada batasan antrian per kelas tiket yang baik. Sampai akhir malah tidak ada pengecekan tiket yang berulang. Jika saya jahat, bisa saja saya masuk ke lokasi antrian tiket yang berbeda karena memang tidak diperiksa. Yang datang belakangan malah bisa masuk antrian depan karena tidak ada pembatas.
Lelah, marah, frustasi, dan tidak sabar. Saling serobot dengan anak-anak tanggung membuat saya berpikir, membeli tiket mahal, punya banyak uang bukan berarti kamu tahu cara mengantri yang baik. Dalam hati saya memaki "dasar mental tidak tahu aturan" dan saya pun akhirnya ikut menyerobot karena kesal.
Awalnya mungkin di depan saya hanya ada 100-200 orang, tapi lama-lama bertambah menjadi 500 lebih orang di depan saya. Bagaimana kami yang datang lebih dahulu tidak kesal. Belum lagi beberapa kali kami disuruh pindah posisi antri, makin banyak lagi yang menyelonong maju.
Jadwal tertulis di tiket pukul 18.30, tapi sampai pukul 18.00 kami belum masuk. Udara mulai panas, terlebih di antrian festival Pink. Saling serobot, saling maki karena banyak yang tidak bisa menghargai. Sampai mulai masuk pun tetap saling serobot ingin masuk lebih dulu.
Perasaan saya sendiri tidak bisa digambarkan. Sangat tidak sabar ingin melihat pertunjukan yang akan ditampilkan Bigbang. Antusias VIP memang luar biasa, melihat video musik yang diputar saja bisa membuat kami bernyanyi bersama.
Pukul 19.00 masih belum dimulai dan penonton masih banyak yang belum masuk. Sampai akhirnya lampu diredupkan dan mereka muncul!
Ya Tuhan (sungguh saya seperti remaja kebanyakan)! Rasanya tidak bisa dibayangkan! Mereka luar biasa! Bigbang luar biasa! VIP pun luar biasa!
Tapi lagi-lagi saya mengumpat "dasar mental bajakan!" Dari awal sampai akhir saya terhalang oleh ponsel-ponsel, kamera, dan alat perekam lainnya yang tidak habis-habisnya dikeluarkan. Saya tahu mereka ingin mengabadikan momen yang langka, tapi ini konser dan seharusnya mereka menikmati nyanyian dan tarian, bukannya sibuk merekam.
Aksi dorong pun terus terjadi sepanjang pertunjukan. Sampai-sampai Taeyang (atau Seungri, lupaaaaaa) berkata bahwa kami harus mundur beberapa langkah. Tidak ada yang patuh, tentu saja. Kami sibuk berteriak dan memuaskan mata. Dan penonton pun banyak yang jatuh pingsan.
Seperti yang sudah diketahui banyak penggemar K-Pop, konser ini akhirnya menuai kritikan, terlebih ditujukan kepada promotor yang bersangkutan, Mecimapro. Petisi pun dimulai untuk meminta klarifikasi akan beberapa hal.
Dari beberapa poin dalam petisi itu, saya tahu persis kejadiannya. Ketika penonton mulai pingsan, yang menolong memang kru dari Korea. Beberapa kali saya melihat mereka sibuk menjaga penonton agar tidak jatuh. Bahkan mereka membagikan air kemasan. Air! Hal yang sangat penting, hal yang tidak boleh dibawa masuk ke dalam!
Kru dari promotor tidak banyak membantu. Ketika saya datang, mencari antrian dan menanyakan pada mereka yang memakai ID Card, mereka tidak bisa menjawab. Mereka bergerombol di sana-sini, tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Layar besar sebelah kanan mati. Mikrofon juga beberapa kali aneh. Saya sampai merasa malu, ingin tahu apa pendapat Bigbang tentang hal ini.
Lalu saya dapat kabar bahwa tiket kelas VIP ternyata terjual sekitar 1.200 tiket. Pantas saja kelas VIP dan Pink yang satu area itu terasa sangat sesak. Sampai-sampai kalau kamu pingsan pun kamu tidak akan jatuh.
Tapi, beberapa hal itu tidak membuat saya menyesal datang. Saya puas bisa menonton mereka di Indonesia. Meskipun nanti kalau saya punya rezeki lebih, saya ingin menonton di negara lain yang koordinasinya jauh lebih baik.
Lebih membahagiakan ketika GD menggunggah foto dengan tulisan tentang betapa kerennya VIP Indonesia. Saya sampai terharu berkali-kali kalau ingat hal itu. Seungri pun berkata bahwa dia mencintai VIP Indonesia dan "this is the best concert". OKE! CUKUP! Ahahhahahaha..
Sampai sekarang saya masih terus mencari jejak, mengikuti setiap langkah, dan ingin tahu apa yang mereka lakukan. Katakan saya ABG labil, saya terima. Karena kalau sudah berkaitan dengan Bigbang, saya adalah VIP-nya mereka.
Daebak! Jjang! Jjang!
Friday, July 3, 2015
IQRA!
Tidak banyak membaca, tidak banyak menonton film, tidak banyak bertemu orang baru, tidak pernah menulis membuat saya jadi tidak produktif mengasah otak kanan. Ya, otak kiri juga gini-gini aja sih. Membaca blog orang lalu membuat saya iri. Mereka bahkan bisa bercerita tentang hal yang paling sederhana. Dan saya cuma bisa berpikir, harus saya tulisi apa lagi blog ini.
Saya lalu sadar betapa menulis membuat kepribadian dan daya pikir saya berkembang. Membuat saya bisa lebih sabar dan lebih mengerti orang lain. Membuat saya bisa berpikir lebih matang dan jauh lebih baik. Paling tidak membuat saya lebih daripada ini.
Tapi memang dari dulu mood membaca saya datang dan pergi. Kadang dari satu buku bisa ke buku yang lain. Kadang berbulan baru menyelesaikan satu buku. Itu dulu. Sekarang kadang melihat buku saja tidak punya perasaan rindu apa-apa.
Mungkin nanti blog ini akan kembali saya isi dengan beberapa cerita, tentang keluh kesah, tentang pendapat saya tentang buku, film, atau remah-remah kecil kehidupan saya. Paling tidak, saya ingin membersihkan sedikit demi sedikit sarang laba-laba di sini.
IQRA! BACA!
Friday, May 1, 2015
Rutinitas. Kenyamanan. Jenuh.
"Kenapa lo mau resign?"
"Karena gw udah terlalu nyaman di sini."
Kenyamanan kadang membuat kita malah merasa jenuh. Dulu, ketika masih di Jatinangor, saya membatasi kota itu menjadi zona nyaman saya. Saya jatuh cinta nyaris gila dengan kota itu. Beberapa kali mencoba keluar, tapi segan. Beberapa kali pula jenuh dengan rutinitas yang itu melulu.
Rutinitas. Sebenarnya hal itu yang membuat jenuh. Rutinitas yang nyaman membuat saya malas bergerak dan akhirnya tidak berkembang jadi apa-apa.
Belakangan ini, sebenarnya siklus ini terus berulang, saya terus berpikir akan ada hal apa yang terjadi hari ini, apakah yang terjadi tidak jauh dari hari kemarin.
Bangun dengan alarm. Melihat ponsel sebentar. Dengan mata kantuk menuju meja makan. Sarapan. Lalu mandi dan berangkat kerja. Macet. Panas. Macet. Panas. Kerja. Kerja. Ha ha hi hi. Makan siang. Ha ha hi hi. Kerja. Kerja. Kerja. Ha ha hi hi. Kerja. Kerja. Kerja. Ha ha hi hi. Sudah malam. Pulang. Macet. Macet. Sampai di rumah ganti baju. Melihat ponsel sampai kantuk datang. Lalu tidur dan bangun keesokannya dengan alarm.
Belakangan ini pula saya berpikir, apa saya tidak ingin melakukan hal luar biasa di luar sana, pergi ke antah berantah, bertemu dan tinggal dengan orang yang tidak saya kenal dan tidak mengenal saya, apa hidup melulu harus penuh dengan ritme yang seperti ini.
Sejauh mana kenyamanan membuat saya jenuh? Sejauh saya menghela nafas karena hidup saya ada di tempat yang sama. Bertemu dengan orang yang sama. Memulai drama hidup yang sama.
Saya belum jadi apa-apa. Puji Tuhan saya selalu diberi apa-apa.
Mungkin, hidup melulu dengan rutinitas. Lalu nyaman. Kemudian jenuh. Dan lagi saya hidup dengan tiga hal itu. Saat ini.
Thursday, October 9, 2014
"Wreck This Journal" - Keri Smith
Beberapa minggu belakangan ini saya sedang menggemari sebuah buku. Judulnya Wreck This Journal karangan Keri Smith. Yep, "Hancurkan Buku Ini"! Baru kali ini saya menemukan buku yang terserah mau saya apakan. Terserah!
Dengan petunjuk di setiap halamannya, membuat saya senyum-senyum, ketawa-ketawa sendiri. Saya cinta buku ini! Buku yang rela saya injak, saya robek, saya jilat, saya kasih ingus, saya bawa tidur, bahkan saya beri air sampai ia kuyup!
Kalau kalian punya banyak pikiran, stress akan kehidupan sehari-hari, beli buku ini! Membantu mengurangi stress dan membuat kita jadi lebih kreatif.
Selamat beraksi!
Dengan petunjuk di setiap halamannya, membuat saya senyum-senyum, ketawa-ketawa sendiri. Saya cinta buku ini! Buku yang rela saya injak, saya robek, saya jilat, saya kasih ingus, saya bawa tidur, bahkan saya beri air sampai ia kuyup!
Kalau kalian punya banyak pikiran, stress akan kehidupan sehari-hari, beli buku ini! Membantu mengurangi stress dan membuat kita jadi lebih kreatif.
Selamat beraksi!
Thursday, September 4, 2014
Belanja Online
Kring.. Kring..“Ya?”“Mbak, paketnya udah datang.”“Asikkk.. Makasih yaa..”
Oke, belakangan ini saya rajin banget beli sepatu di Zalora. Awalnya
sih pengen beli sepatu olahraga, tapi apa daya daripada ngga dipake, jadi beli
yang lain. Niat olahraga dulu aja deh yang harus saya beli. Hehehe…
Cari di sista-sista ngga ada yang oke. Pengen nyari sepatu
yang simple, yang murah, tapi nyaman.
Yang slip on gitu. Terus kepikiranlah
nyari di Zalora. Dan jeng jeng jeng jeng… Banyak banget yang lucu!
Gara-gara saya beli sepatu biru dan pink ini, teman kantor jadi pada
pengen. Nitip ini, nitip itu, yang ini lucu, yang itu lucu, jadi pengen beli
semua. Mbak receptionist aja sampai
bilang kalau ada paket dari Zalora pasti buat saya.
Gapapalahya sekali-kali beli banyak sepatu. Dan yang
pastinya, belanja di tempat ini itu mudah, murah, dan berkualitas. Yeayyy..
Tuesday, July 22, 2014
Dear Kegelisahan
Dear Kegelisahan,
Hari ini tanggal 22 Juli 2014. Hari yang akan masuk dalam buku-buku sejarah Negara kita tercinta ini. Nanti, pukul 16.00 WIB akan diumumkan siapa yang akan memimpin Negara ini, yang akan menjadi Iman Negara kita.
Sesungguhnya ini membuat saya deg-degan. Antara ingin segera tahu dan ingin segera melewati hari ini. Jika saya punya remote control kehidupan, mungkin akan saya skip hari ini. Tapi, hidup tidak semudah itu bukan?
Berbagai berita seliweran. Katanya Negara ini siaga satu menghadapi pengumuman hari ini. Tentara dan polisi bersiaga, pun orang-orang dari kubu masing-masing. Saya juga siaga, dengan pikiran yang penuh hal-hal yang menakutkan.
Saya belum lepas dari pengalaman masa lalu. Berita tentang siaga, tentara, dan kerusuhan punya kenangan yang tidak menyenangkan buat saya. Salahkah saya kalau saya takut?
Pagi ini, jalanan agak sepi dari biasanya. Tapi pengguna jalan masih tidak sabaran seperti biasa. Masih banyak bunyi klakson jika kamu jalan terlalu lambat. Masih terasa hawa terburu-buru ingin sampai tempat tujuan. Debu pun masih memenuhi seluruh tempat. Pagi ini masih sama namun taklagi sama.
Semoga hari ini semua berjalan dengan lancar. Semoga hari ini baik-baik saja. Semoga ini hanya sekadar kegelisahan di pikiran saja. Semoga Tuhan masih bersama Negara ini.
Hari ini tanggal 22 Juli 2014. Hari yang akan masuk dalam buku-buku sejarah Negara kita tercinta ini. Nanti, pukul 16.00 WIB akan diumumkan siapa yang akan memimpin Negara ini, yang akan menjadi Iman Negara kita.
Sesungguhnya ini membuat saya deg-degan. Antara ingin segera tahu dan ingin segera melewati hari ini. Jika saya punya remote control kehidupan, mungkin akan saya skip hari ini. Tapi, hidup tidak semudah itu bukan?
Berbagai berita seliweran. Katanya Negara ini siaga satu menghadapi pengumuman hari ini. Tentara dan polisi bersiaga, pun orang-orang dari kubu masing-masing. Saya juga siaga, dengan pikiran yang penuh hal-hal yang menakutkan.
Saya belum lepas dari pengalaman masa lalu. Berita tentang siaga, tentara, dan kerusuhan punya kenangan yang tidak menyenangkan buat saya. Salahkah saya kalau saya takut?
Pagi ini, jalanan agak sepi dari biasanya. Tapi pengguna jalan masih tidak sabaran seperti biasa. Masih banyak bunyi klakson jika kamu jalan terlalu lambat. Masih terasa hawa terburu-buru ingin sampai tempat tujuan. Debu pun masih memenuhi seluruh tempat. Pagi ini masih sama namun taklagi sama.
Semoga hari ini semua berjalan dengan lancar. Semoga hari ini baik-baik saja. Semoga ini hanya sekadar kegelisahan di pikiran saja. Semoga Tuhan masih bersama Negara ini.
Sunday, June 29, 2014
Hari Ulang Tahun Paling Mengesankan?
Menahan amarah adalah salah satu cara saya untuk belajar lebih dewasa. Kita selalu berharap menjadi anak kecil, tapi waktu selalu melaju ke kanan dan hidup diharapkan menjadi lebih baik. Salah satunya tentang emosi. Sebenarnya tulisan ini sih ngga akan membahas masalah itu. Hehehe..
Beberapa hari yang lalu di radio yang saya dengar sedang membahas hari ulang tahun yang paling mengesankan. Bermacam kenangan pun langsung muncul, tidak banyak, cukup membuat senyum.
Hari ulang tahun yang mana yang paling mengesankan dirimu?
Saya tidak suka acara ulang tahun, terlebih ulang tahun saya. Saya bukan orang yang suka tiba-tiba diberi kejutan seperti itu. Membuat salah tingkah dan tidak tahu harus bersikap seperti apa.
Tapi, peristiwa yang paling saya ingat adalah ulang tahun saya yang ke-17. Sebuah kejutan yang pertama kali saya dapatkan dan benar-benar membuat saya terkejut.
Setelah itu hari ulang tahun tiba-tiba menakutkan. Akan ada apa lagi tahun ini?
Mungkin cara saya menjadi dewasa adalah melewatkan hal-hal yang mencanggungkan diri. Tapi, apakah kemudian saya bisa menjadi dewasa? Bukankah saya malah menyakitkan orang-orang di sekitar saya yang sengaja memberikan kenangan baru di hari ulang tahun saya?
Entahlah, saya selalu merasa kepribadian saya unik, menyerempet aneh. Tidak bisa ditebak. Tidak bisa dijadikan panutan. Tidak bisa dibanggakan. Tapi biarlah. Saya masih terus belajar.
NB: sekian lama tidak menulis ternyata membuat tulisan saya pun tidak berkembang :(
Beberapa hari yang lalu di radio yang saya dengar sedang membahas hari ulang tahun yang paling mengesankan. Bermacam kenangan pun langsung muncul, tidak banyak, cukup membuat senyum.
Hari ulang tahun yang mana yang paling mengesankan dirimu?
Saya tidak suka acara ulang tahun, terlebih ulang tahun saya. Saya bukan orang yang suka tiba-tiba diberi kejutan seperti itu. Membuat salah tingkah dan tidak tahu harus bersikap seperti apa.
Tapi, peristiwa yang paling saya ingat adalah ulang tahun saya yang ke-17. Sebuah kejutan yang pertama kali saya dapatkan dan benar-benar membuat saya terkejut.
Setelah itu hari ulang tahun tiba-tiba menakutkan. Akan ada apa lagi tahun ini?
Mungkin cara saya menjadi dewasa adalah melewatkan hal-hal yang mencanggungkan diri. Tapi, apakah kemudian saya bisa menjadi dewasa? Bukankah saya malah menyakitkan orang-orang di sekitar saya yang sengaja memberikan kenangan baru di hari ulang tahun saya?
Entahlah, saya selalu merasa kepribadian saya unik, menyerempet aneh. Tidak bisa ditebak. Tidak bisa dijadikan panutan. Tidak bisa dibanggakan. Tapi biarlah. Saya masih terus belajar.
NB: sekian lama tidak menulis ternyata membuat tulisan saya pun tidak berkembang :(
Subscribe to:
Posts (Atom)







