Sunday, February 24, 2013

Seperempat Abad

Waktu memang akan menyembuhkan segala. Segala kegelisahan, segala ketakutan, segala luka, segala waktu di masa lalu. Tapi, hanya kekuatan diri sendiri yang bisa berjalan seiringan dengan waktu.

Sekarang saya punya teman di kamar. Sebuah boneka beruang kecil yang mukanya mirip Daesung Bigbang. Bagi saya. Hahaha... Maksa yah? Ngga kok. Terima kasih pada kalian yang sudah memberi seorang teman bagi saya di kala lampu kamar padam di malam hari.

Selamat berjalan menjauh dari seperempat abad. Jika Tuhan mengizinkan, akan ada seperempat abad lagi di masa depan. Berharap setiap langkah membuat pribadi jadi lebih baik.


Monday, February 11, 2013

Kukatakamu

Halo! Sudah lama tidak mampir ke sini. Padahal saya sama sekali tidak sibuk. Hanya saja, mood menulis sedang jalan-jalan keliling dunia. Hahahaha...

Selamat tahun baru Cina. Selamat ulang tahun Cina buat saya. Minggu depan saya ulang tahun lagi. Jangan lupa ya :P

Rumah saya nampak baru. Maklum baru dicat lagi sejak terakhir kali pengecatan sekitar tahun 1996/1997. Atapnya pun dibenahi dan akhirnya rumah tidak lagi bocor. Yang masih mengkhawatirkan adalah banjir. Sudah maklum nampaknya. Bahkan pagi ini air sungai naik lagi. Semoga saja tidak banjir untuk yang ketiga kalinya tahun ini.

Selamat hari Senin. Semoga panas mentari takmembakar ujung rambutmu :)

Friday, January 25, 2013

Peristiwa Rem Blong


Puji Tuhan. Puji Tuhan. Puji Tuhan.
Segala puji pada-Nya. Segala ucap syukur pada-Nya.

Satu hari masih direstui oleh-Nya. Tubuh ini masih diberikan keselamatan oleh-Nya. Segala puji dan syukur pada-Nya.

Bukan tiba-tiba sok religius, tapi kadang kita perlu teguran untuk ingat pada-Nya. Hari ini, rem motor yang saya kendarai tiba-tiba blong di jalanan yang menurun. Bagaimana tidak panik, rem tidak berfungsi sedangkan laju kendaraan tiba-tiba makin cepat. Pun saya membawa motor teman dan seorang teman lain duduk di belakang saya. Puji Tuhan kaki masih bisa berfungsi sebagai rem meski baru berapa meter kemudian motor berhenti dengan aman, di halaman sebuah rumah.

Dada seketika berdegup dengan kencang, tangan dan kaki langsung bergetar dengan hebat. Karena ketika terasa rem tidak berfungsi, pikiran buruk datang bertubi-tubi, ‘bagaimana kalau...?’, ‘bagaimana kalau...?’, ‘bagaimana kalau...?’. Teman-teman yang lain segera menghampiri dan menenangkan. Puji Tuhan. Lagi-lagi Puji Tuhan dan takhenti Puji Tuhan. 

Dua pemuda keluar dari rumah dan bertanya ada apa. Seketika mereka membantu, menyiramkan air pada rem depan. Asap segera keluar dan rem bisa berfungsi kembali. Katanya sudah biasa, rem motor matic akan panas apalagi di jalanan seperti tempat itu.

Segera saya berpindah posisi, saya yang diboncengi teman saya, pemilik motor. Bukannya tidak percaya, tapi saya selalu tidak nyaman jika diboncengi apalagi di medan yang jalanannya turun seperti itu.

Beberapa jam kemudian, posisi kembali seperti semula. Saya memboncengi teman saya yang tadi saya bonceng ketika peristiwa rem blong terjadi. Katanya semua ini memang sudah rencana Tuhan. Meskipun rem blong, tapi kita masih bisa berhenti di tempat yang tepat dan dibantu oleh orang yang tepat. Ya, semua pasti ada campur tangan Tuhan. Puji Tuhan.

Hari ini, saya bersama beberapa teman mengunjungi salah satu tempat yang tinggi di kawasan Cicaheum, Bandung. Tujuan kami Warung Daweung. Tinggi karena beberapa kali teman saya harus turun dan berjalan kaki karena motor tidak kuat membonceng. Kinerja motor meningkat karena jalanan yang memang menanjak. Pake banget!

Perjalannya memang sebanding dengan tempat tujuan. Pemandangan yang ditawarkan menyenangkan. Udara begitu segar dan suasana jauh dari kebisingan. Tidak menyesal akhirnya ikut ke sana.

Pada akhirnya, lagi-lagi, Puji Tuhan. Saya masih bisa selamat dan bisa berbagi kisah ini pada kalian. Bahkan ketika membayangkan kejadian itu pun saya masih berdebar kencang. Tangan ini serasa merasakan bagaimana tiba-tiba rem tidak berfungsi meski sudah berkali-kali ditekan.

Puji syukur bagi-Mu, Tuhan.

NB: Maaf dan terima kasih padamu si empunya motor dan padamu yang aku boncengi.

Jatinangor, 24 Januari 2013

Tuesday, January 15, 2013

Pada Hujan

meski ragu
tanah merah di bawah kakimu rindu hangat matahari


Selamat sore, Hujan. Jangan terlalu lama turun, nanti rumahku kedatangan genangan air yang tinggi.
Sampaikan pesan pada Awan, jangan bersedih. Besok Matahari pasti berkunjung.

Tuesday, January 1, 2013

Selamat Tiba 2013

Selamat tiba 2013. Harapku agar kau senantiasa baik tiap harinya.

Terima kasih 2012. Kau penuh berkat dan kasih. Terima kasih atas hari-hari yang membuatku terus belajar agar tiap bangun di esok harinya, aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik.

2012, kenangan sudah disimpan dan akan selalu siap dibuka karena ia akan abadi dan siap dijejaki lagi langkahnya. Terima kasih atas kelulusan dan pekerjaan. Terima kasih atas kesehatan dan rezeki yang cukup. Terima kasih atas hati dan pikiran. Terima kasih atas orang tua, saudara, dan para sahabar. Terima kasih.

Selamat menuju 2013. Bertambah baik dan berkembanglah. Berjalanlah bersama angin manis sampai senja tertidur dalam warna jingga.


Thursday, December 27, 2012

Selamat Natal 2012


dari google

SELAMAT NATAL!
Ho Ho Ho..
SELAMAT NATAL!

Harap kami masih sama, semoga kami dapat beribadah di gedung Gereja kami sendiri. Semoga perjuangan selama 23 tahun ini berhasil kami dapatkan. Dan semoga, tidak ada polisi yang siaga berjaga di depan gereja-gereja kami. Beribadat dengan penjagaan itu tidak pernah membuat saya nyaman, merasa ada yang diburu dan yang memburu. Harap kami masih sama.

Semoga damai Natal akan senantiasa hadir di tengah-tengah kita. Jadilah terang dan garam dunia. Bersorak-sorailah karena Ia sudah datang.

Tuhan memberkati.

Saturday, December 22, 2012

22 Desember 2012

21 Desember 2012 katanya kiamat.
Tapi nyatanya hari ini para Ibu kembali dibanggakan oleh mereka yang pernah tinggal di dalam rahimnya.

Selamat hari Ibu bagi semua Ibu yang telah meminjamkan rahimnya untuk sebuah kehidupan.

Foto: Google

Pulang - Leila S. Chudori


Rumah adalah tempat kita bisa pulang.

Kira-kira itulah yang diucapkan Dimas Suryo ketika mengingat apa itu yang dinamakan rumah. Dimas ingin pulang, ingin kembali ke rumah, tapi oleh kekejaman pemerintah ia tidak bisa menginjakkan kakinya di tanah kelahirannya.

Membaca Pulang merupakan angin segar beberapa minggu ini. Setelah beberapa minggu ini mata berkutat pada buku terjemahan, buku ini mengingatkan bahwa masih ada sastrawan Indonesia yang patut diapresiasi. Anak emas sastra Indonesia, Leila S. Chudori, berhasil menyelesaikan Pulang setelah enam tahun lamanya.

Dengan berbagai riset tentang peristiwa G30S (yang diujungnya ditambahkan PKI), gerakan Mei 1968 di Paris, dan peristiwa Mei 1998, Leila menulis novel ini berdasarkan fakta-fakta yang ada. Sebuah fiksi tentang kenyataan keluarga korban dari ketika peristiwa berdarah tersebut (ah, gerakan Mei 1968 di Paris mungkin tidak tepat disebut peristiwa berdarah).

Kepustakaan Gramedia Populer, Batu Api, Layar Kita, dan Jurusan Jurnalistik Unpad pun mengadakan diskusi dan launching buku ini pada tanggal 18 Desember 2012 kemarin. Kebetulan saya yang sengaja menghabiskan buku ini sebelum tanggal tersebut pun datang. Dan nyatanya, mungkin dari 30-40 orang yang hadir, saya hanyalah salah satu atau salah dua dari mereka yang membacanya.

Pembicara Seno Gumira Ajidarma dan Leila S. Chudori. Beberapa yang datang mungkin malah untuk melihat Seno, bukan untuk Pulang bersama Leila. Lalu sesi tanya-jawab yang absurd berlangsung. Saya harus bersabar mendengar beberapa pertanyaan, misalnya, mengapa Leila mengambil setting G30S, apa alasan Leila menerbitkan buku dengan tema itu pada saat ini, apakah membuat fiksi dari sebuah fakta tidak malah mengubah anggapan pembaca, apa tanggapan Seno tentang karyanya yang dianggap pragiat (astaga!), dan mengapa-apa yang lain. Dua kali Seno menjawab dengan pertanyaan balik pada penanya, "Saya malah ingin bertanya, bagaimana pemikiranmu sampai kamu bisa menanyakan pertanyaan seperti itu", dan "Saya malah mau bertanya tentang pertanyaanmu karena saya tidak mengerti apa yang kamu tanyakan". Sesi tanya-jawab itu sungguh absurd!

Pulang, kisah perjalanan hidup Dimas Suryo yang dianggap sebagai bagian dari sayap kiri. Padahal Dimas tidak memilih ikut bersama yang kiri atau yang kanan. Hanya karena ia berkecimpung dan hidup bersama kaum gerakan kiri, ia dianggap bagian dari mereka.

Dalam novel ini saya menemukan beberapa kesamaan tentang tokoh Dimas Suryo, Hananto Prawiro, dan Sagara Alam. Mereka diceritakan memiliki wajah yang rupawan dan bentuk tubuh yang bagus. Karisma yang mereka miliki pun sama, sama-sama mampu memikat kaum hawa dan entah sudah berapa perempuan yang naik ranjang bersama mereka. Kesan jantan menguar dari tubuh mereka. Berbeda dengan sosok Tjai, Risjaf, Nara, dan Bimo yang tidak terlalu populer karena mereka digambarkan sebagai sosok yang tidak jantan seperti penggambaran Dimas, Hananto, dan Alam--meskipun wajah Nara dan Bimo termasuk rupawan.

Entah mungkin kebetulan atau tidak, perbedaan penggambaran tokoh-tokoh laki-laki tersebut menjadikan perbedaan peran pula dalam novel ini. Dimas, Hananto, dan Alam menjadi tokoh sentral dan Tjai, Risjaf, Nara, serta Bimo menjadi tokoh pendamping.

Begitu pula tokoh sentral perempuan, Vivienne Deveraux, Lintang Utara, dan Surti Anandari. Para perempuan itu digambarakan memiliki wajah yang cantik dan tubuh yang menarik. Memiliki mata dan bibir yang memikat para pria.

Lintang merupakan anak dari pasangan Dimas dan Vivienne. Hidup Dimas ditarik dari dua sisi berseberangan, Paris (Vivienne) dan Indonesia (Surti). Pun begitu dengan Lintang, ditarik dari dua sisi berseberangan, Paris (Nara) dan Indonesia (Alam). Dimas dan Lintang sama-sama pula merasakan Indonesia adalah tempat pulang.

Menurut saya, Dimas Suryo ingin pulang bukan karena ia rindu pada tanah kelahirannya itu melainkan karena sosok Surti yang tidak bisa lepas dari bayangannya. Sosok Surti ditandai dengan setoples cengkih dan setoples kunyit yang selalu diletakkan Dimas di rumahnya. Dan meskipun di akhir cerita tidak dilanjutkan apa yang dipilih oleh Lintang, saya bisa menyimpulkan bahwa Lintang lebih memilih Indonesia dan Alam. Karena kesamaan-kesamaan yang terdapat pada sosok Dimas dan Lintang.

Dimas pulang, dia berpulang. Dalam tanah merah di Karet ia berpulang setelah rezim Orde Baru runtuh. Dimas berpulang dan Lintang memilih pulang.

Ah, ketika sesi tanda tangan, Leila dengan wajah gembira berkata bahwa pasti saya sudah membaca bukunya. Dengan gembira pula saya menjawab 'ya'. Lalu ia bertanya nama saya dan memberikan tanda tangannya pada dua buku Pulang yang saya miliki. Saya mendapat satu buku karena bisa menjawab pertanyaan Seno. Buku yang lama saya jual dengan setengah harga pada Chagie untuk menggenapi perkataanya bahwa ia akan mendapat Pulang dari saya. Ya, dariku Pulang untukmu :D