Saturday, March 23, 2013

Perhatian

Seorang ibu masuk bersama anaknya. Tempat duduk dalam mobil ini sudah nyaris penuh. Mereka harus duduk terpisah. Sang anak duduk di depan saya dan ibu itu duduk di pintu. Sebelum anaknya duduk, ibu itu tidak mau duduk. Setelah memastikan anaknya nyaman, baru ia duduk dan kemudian tersenyum pada anaknya.

Anak perempuan ini kira-kira berusia tujuh-delapan tahun. Tapi, ia tidak seperti anak-anak perempuan lainnya. Saya tidak tahu apakah ia mengidap penyakit tertentu, tapi wajah anak itu berbeda. Matanya besar, mungkin dua kali lipat dari mata anak seumurannya. Pun lebih besar dari mata saya. Kepalanya pun lebih besar dari anak-anak kebanyakan. Mulutnya terus tersenyum. Kadang tersenyum pada ibunya, kadang tersenyum jika ia memandang keluar jendela.

Bukan hanya saya yang memperhatikan perbedaan anak itu. Saya kemudian beralih pada orang-orang di dalam angkutan umum. Seorang bapak yang duduk di sebelah kanannya jelas-jelas memandang dengan rasa ingin tahu. Beberapa kali ia menolehkan kepala, bahkan badannya, agar bisa melihat dengan lebih baik. Dahinya berkerut-kerut, bukan hal yang baik pikir saya.  Di sebelah kiri anak itu, ada seorang ibu. Terlihat ibu itu juga penasaran, tapi pandangannya lebih lembut. Ibu itu duduk bersama anaknya dan mungkin itulah yang membandingkan pandangan seorang bapak di sebelah kanan dan seorang ibu di sebelah kiri.

Lalu, teringat seorang teman yang pernah saya tanya, "Kamu ngga risih apa diliatin orang mulu gara-gara rambut kamu pirang gitu?" Ia menjawab, "Oiya? Aku ngga meratiin. Tapi emang sih dulu agak risih, tapi lama-lama biasa juga kok." Sekitar setengah-satu jam kemudian, saya mendapati ia mengetwit bahwa bahkan tidak ada yang mau duduk di sebelahnya dalam angkutan umum itu. Saya merasa bersalah. Padahal jika sebelumnya saya tidak bertanya, tentu ia akan biasa-biasa saja dan tidak akan memperhatikan sekitarnya.

Anak kecil dan teman saya itu berbeda. Anak kecil dengan wajah sepeti orang dewasa. Teman saya, perempuan, dengan gaya yang berani serta rambut pirangnya. Mereka jadi bulan-bulanan mata orang-orang. Ada yang melihat dengan aneh, penasaran, bingung, melecehkan, dan tidak mengerti. Namun dua orang perempuan ini punya caranya masing-masing untuk tidak peduli pada tatapan seperti itu.

Saya tidak bisa demikian. Saya merasa rikuh jika diperhatikan oleh orang-orang yang tidak saya kenal. Buat apa memandang kalau dalam pandangan itu penuh dengan sorot yang negatif. Membuat saya begitu tidak nyaman.

Apakah hal yang tidak wajar selalu patut dijadikan tontonan? Apakah perlu orang tidak dikenal itu bereaksi dengan gelengan kepala, sama seperti yang saya lihat di angkutan umum ketika teman saya yang berambut keren itu duduk?

Rasanya mengurusi urusan sendiri jauh lebih penting daripada ikut campur dan mau tahu urusan orang lain. Apalagi dengan orang yang tidak dikenal.

Friday, March 22, 2013

Gadis Kretek dan Amba (lalu Entrok)



Bisa jadi akhirnya saya jatuh cinta pada penulis Ratih Kumala. Dua bukunya, Kronik Betawi dan Gadis Kretek membawa saya pada pengalaman membaca yang berbeda. Ia tidak terlalu serius tapi juga tidak cengeng. Tidak mengandai-andai dan juga tidak berlebihan. Mengangkat kisah cinta sebagai fondasinya kemudian dilebur bersama kekhasan suku tertentu. Gadis Kretek membawa kita pada aroma kretek dari masa penjajahan Jepang sampai Indonesia menjadi modern seperti sekarang. Bagaimana kretek menjadi suatu hal yang penting untuk kebutuhan sehari-hari, menjadi sumber kekuasaan dan pertikaian, menjadi alat propaganda, menjadi bukti cinta, dan menjadi hal yang menyedihkan.

Lalu saya berlanjut ke buku Amba karya Laksmi Pamuntjak. Keinginan menyelesaikan buku ini begitu tertatih-tatih. Bagi saya Amba terlalu “kering” dan energi yang dikerahkan penulis tidak merata di setiap babnya. Saya begitu memaksakan diri menyelesaikan buku ini, sampai-sampai terus melihat halaman, sudah di halaman berapa saya membaca buku ini. Nyatanya ini bukan hanya dialami saya saja. Menurut dua teman saya, mereka juga mengalami hal yang serupa.

Sekarang saya sedang membaca Entrok karya Okky Madasari. Saya belum bisa bercerita banyak tentang buku ini karena masih dibaca. Tapi sejauh ini saya tidak mendapat gangguan yang berarti ketika membaca buku ini.

Tiga buku tentang perempuan dan ditulis oleh perempuan ini saya baca dalam waktu yang berurutan. Sayangnya sebelum membaca Entrok saya tergoda oleh buku terjemahan, A Beautiful Lie karya Irfan Master. Niatnya, di bulan ini saya hanya akan membaca buku (novel) Indonesia yang ditulis oleh perempuan. Tidak ada alasan khusus, hanya tiba-tiba saya ingin menyempatkan diri.

Jeng Yah bagi saya bukan tokoh utama dalam Gadis Kretek. Meskipun kisah tentangnya kuat, tapi ia bukan tokoh utama. Tokoh Amba dalam Amba membuat saya kecewa. Katanya ia perempuan yang kuat. Apalagi cover buku ini meyakinkan saya bahwa tokoh Amba adalah sosok yang kuat. Terlebih, ini tentang 65. Sayangnya, kekuatan Amba akan luluh jika berhadapan dengan Bisma dan seks. Kalau Entrok sih sejauh ini baik-baik saja. Hahahaha…

The Man Who Forgot How To Read - Howard Engel




Saya tidak bisa membayangkan jika suatu hari saya tidak bisa membaca. Jika huruf-huruf yang muncul seolah berubah menjadi bahasa yang tidak saya kenal. Jika setiap kata dan kalimat tidak bisa saya mengerti artinya. Tidak bisa membayangkan jika saya mengalami nasib yang sama dengan Howard Engel.

Howard Engel tiba-tiba tidak bisa membaca setiap tulisan di koran paginya. Ia merasa kata-kata itu berubah bentuk menjadi bahasa yang tidak ia pahami. Pergilah ia ke dokter dan divonis bahwa ia menderita stroke. Ia yang seorang penulis tidak bisa membaca.

Setelah diperiksa, Engel dinyatakan masih bisa menulis namun tidak bisa membaca, bahkan tulisan yang baru saya ia tulis. Bagaimana ia tetap bisa menjadi seorang penulis bahkan tulisannya sendiri pun tidak bisa ia baca?

The Man Who Forgot How to Read bisa dikatakan sebuah autobiografi yang ditulis oleh Engel sendiri. Ia mengalami suatu kondisi langka yang disebut alexia sine agraphia. Ia bisa tetap menulis, tapi takmampu lagi membaca. Buku ini mengisahkan bagaimana perjuangan Engel menghadapi sakitnya sampai akhirnya ia pelan-pelan bisa membaca lagi.

Buku ini saya temukan di area diskon. Judul itu menarik bagi saya yang gemar membaca. Tapi sayangnya, buku ini (bukan termasuk pengalaman penulis) tidak begitu memikat saya sebagai pembaca. Bahkan saya membutuhkan waktu sebulan lebih—dengan terpaksa—untuk menyelesaikannya.

Bagaimana kalau suatu saat saya tidak lagi bisa menikmati setiap kata yang muncul di mata saya? Bagaimana kalau sesuatu yang membuat saya nyaman itu direnggut dari diri saya?

Sunday, February 24, 2013

Seperempat Abad

Waktu memang akan menyembuhkan segala. Segala kegelisahan, segala ketakutan, segala luka, segala waktu di masa lalu. Tapi, hanya kekuatan diri sendiri yang bisa berjalan seiringan dengan waktu.

Sekarang saya punya teman di kamar. Sebuah boneka beruang kecil yang mukanya mirip Daesung Bigbang. Bagi saya. Hahaha... Maksa yah? Ngga kok. Terima kasih pada kalian yang sudah memberi seorang teman bagi saya di kala lampu kamar padam di malam hari.

Selamat berjalan menjauh dari seperempat abad. Jika Tuhan mengizinkan, akan ada seperempat abad lagi di masa depan. Berharap setiap langkah membuat pribadi jadi lebih baik.


Monday, February 11, 2013

Kukatakamu

Halo! Sudah lama tidak mampir ke sini. Padahal saya sama sekali tidak sibuk. Hanya saja, mood menulis sedang jalan-jalan keliling dunia. Hahahaha...

Selamat tahun baru Cina. Selamat ulang tahun Cina buat saya. Minggu depan saya ulang tahun lagi. Jangan lupa ya :P

Rumah saya nampak baru. Maklum baru dicat lagi sejak terakhir kali pengecatan sekitar tahun 1996/1997. Atapnya pun dibenahi dan akhirnya rumah tidak lagi bocor. Yang masih mengkhawatirkan adalah banjir. Sudah maklum nampaknya. Bahkan pagi ini air sungai naik lagi. Semoga saja tidak banjir untuk yang ketiga kalinya tahun ini.

Selamat hari Senin. Semoga panas mentari takmembakar ujung rambutmu :)

Friday, January 25, 2013

Peristiwa Rem Blong


Puji Tuhan. Puji Tuhan. Puji Tuhan.
Segala puji pada-Nya. Segala ucap syukur pada-Nya.

Satu hari masih direstui oleh-Nya. Tubuh ini masih diberikan keselamatan oleh-Nya. Segala puji dan syukur pada-Nya.

Bukan tiba-tiba sok religius, tapi kadang kita perlu teguran untuk ingat pada-Nya. Hari ini, rem motor yang saya kendarai tiba-tiba blong di jalanan yang menurun. Bagaimana tidak panik, rem tidak berfungsi sedangkan laju kendaraan tiba-tiba makin cepat. Pun saya membawa motor teman dan seorang teman lain duduk di belakang saya. Puji Tuhan kaki masih bisa berfungsi sebagai rem meski baru berapa meter kemudian motor berhenti dengan aman, di halaman sebuah rumah.

Dada seketika berdegup dengan kencang, tangan dan kaki langsung bergetar dengan hebat. Karena ketika terasa rem tidak berfungsi, pikiran buruk datang bertubi-tubi, ‘bagaimana kalau...?’, ‘bagaimana kalau...?’, ‘bagaimana kalau...?’. Teman-teman yang lain segera menghampiri dan menenangkan. Puji Tuhan. Lagi-lagi Puji Tuhan dan takhenti Puji Tuhan. 

Dua pemuda keluar dari rumah dan bertanya ada apa. Seketika mereka membantu, menyiramkan air pada rem depan. Asap segera keluar dan rem bisa berfungsi kembali. Katanya sudah biasa, rem motor matic akan panas apalagi di jalanan seperti tempat itu.

Segera saya berpindah posisi, saya yang diboncengi teman saya, pemilik motor. Bukannya tidak percaya, tapi saya selalu tidak nyaman jika diboncengi apalagi di medan yang jalanannya turun seperti itu.

Beberapa jam kemudian, posisi kembali seperti semula. Saya memboncengi teman saya yang tadi saya bonceng ketika peristiwa rem blong terjadi. Katanya semua ini memang sudah rencana Tuhan. Meskipun rem blong, tapi kita masih bisa berhenti di tempat yang tepat dan dibantu oleh orang yang tepat. Ya, semua pasti ada campur tangan Tuhan. Puji Tuhan.

Hari ini, saya bersama beberapa teman mengunjungi salah satu tempat yang tinggi di kawasan Cicaheum, Bandung. Tujuan kami Warung Daweung. Tinggi karena beberapa kali teman saya harus turun dan berjalan kaki karena motor tidak kuat membonceng. Kinerja motor meningkat karena jalanan yang memang menanjak. Pake banget!

Perjalannya memang sebanding dengan tempat tujuan. Pemandangan yang ditawarkan menyenangkan. Udara begitu segar dan suasana jauh dari kebisingan. Tidak menyesal akhirnya ikut ke sana.

Pada akhirnya, lagi-lagi, Puji Tuhan. Saya masih bisa selamat dan bisa berbagi kisah ini pada kalian. Bahkan ketika membayangkan kejadian itu pun saya masih berdebar kencang. Tangan ini serasa merasakan bagaimana tiba-tiba rem tidak berfungsi meski sudah berkali-kali ditekan.

Puji syukur bagi-Mu, Tuhan.

NB: Maaf dan terima kasih padamu si empunya motor dan padamu yang aku boncengi.

Jatinangor, 24 Januari 2013

Tuesday, January 15, 2013

Pada Hujan

meski ragu
tanah merah di bawah kakimu rindu hangat matahari


Selamat sore, Hujan. Jangan terlalu lama turun, nanti rumahku kedatangan genangan air yang tinggi.
Sampaikan pesan pada Awan, jangan bersedih. Besok Matahari pasti berkunjung.

Tuesday, January 1, 2013

Selamat Tiba 2013

Selamat tiba 2013. Harapku agar kau senantiasa baik tiap harinya.

Terima kasih 2012. Kau penuh berkat dan kasih. Terima kasih atas hari-hari yang membuatku terus belajar agar tiap bangun di esok harinya, aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik.

2012, kenangan sudah disimpan dan akan selalu siap dibuka karena ia akan abadi dan siap dijejaki lagi langkahnya. Terima kasih atas kelulusan dan pekerjaan. Terima kasih atas kesehatan dan rezeki yang cukup. Terima kasih atas hati dan pikiran. Terima kasih atas orang tua, saudara, dan para sahabar. Terima kasih.

Selamat menuju 2013. Bertambah baik dan berkembanglah. Berjalanlah bersama angin manis sampai senja tertidur dalam warna jingga.