Monday, October 17, 2011

Mei 1998


Hakuna matata. Jangan khawatir.

Sebuah broadcast message singgah di handphone saya. Isinya tentang peringatan kepada orang-orang keturunan Tionghoa di Jakarta dan sekitarnya. Kabarnya akan ada aksi demo untuk menurunkan presiden, seperti peristiwa tahun 1998 yang lalu. Dikhawatirkan akan ada peristiwa kerusuhan lagi seperti tahun berdarah itu. Ini bukan kali pertama saya mendapatkan message seperti itu. Dan tiap kali saya membacanya, kerongkongan saya seperti disumbat.

Saya coba berpikir positif. Saya berpikir bahwa kerusuhan itu tidak akan pernah terjadi lagi. Manusia akan terus berubah. Pasti menuju hal yang lebih baik. Namun, tetap saja kegelisahan dan kenangan pahit menderas di kepala saya.

Peristiwa Mei 1998 itu muncul di mata saya. Lagi-lagi bukan kali pertama. Dan perasaan saya tetap sama. Saya masih takut.

Waktu itu saya masih duduk di bangku kelas 4 SD, hanya seorang anak kecil yang awalnya tidak tahu apa-apa. Pagi itu saya marah kepada papa saya yang tidak mengizinkan saya sekolah. Tidak ada pesan apa-apa, saya hanya disuruh berganti baju dan disuruh tidak meninggalkan rumah.

Berkelebat bayangan papa saya yang putus asa di depan telepon menanti kabar, bayangan saya dan seisi keluarga menunggu mama yang takkunjung pulang dari toko, memantau televisi yang isinya berita-berita mengerikan, bayangan papa yang menyuruh kami lari ke sawah jika rumah kami diserbu oleh orang-orang yang pasti tidak kami kenal, bayangan kegelisahan dan kesedihan.

Peristiwa satu hari yang membekas sampai hari ini. Selalu diingatkan bahwa saya dan keluarga harus hati-hati. Saya masih bertanya-tanya, bahkan sampai sekarang, apa salah kami orang yang hanya keturunan Tionghoa? Undian apa yang menyebabkan kami terpilih menjadi korban? Saya tetap tidak menemukan jawabannya.

Sering kali kata ”Cina” membuat pikiran saya terlontar pada peristiwa Mei tersebut. Saya gusar. Bahkan saya lebih suka mengatakan bahwa saya ini bukan orang Cina, saya orang Indonesia. Kadang saya merasakan bahwa ketika saya berkata seperti itu saya marah. Saya marah karena saya tidak dianggap Indonesia seperti orang Indonesia lainnya. Kalimat itu juga merupakan bentuk kekecewaan saya pada orang-orang yang tidak bisa lepas dari kenangan masa lalu. Hidupnya hanya berputar, menjadikan masa lalu sebagai pedoman hidup.

Saya berkali-kali gelisah, berharap kejadian Mei itu tidak akan pernah terulang lagi di negara yang saya cintai ini. Di mana saya harus tinggal selain di rumah sendiri? Tapi bahkan rumah itu sering kali membuat sekat yang meninggalkan jejak busuk. Saya gelisah. Gelisah.

Hakuna matata. Jangan khawatir.

4 comments:

  1. baca tulisanmu di atas, aku kayak baca novel dong. kejadian yang biasanya cuman aku liat di tipi, pilem, dan aku baca di novel, cerpen, atau berita, kini bener-bener aku baca dari blog seorang temen yang aku kenal. santai, fe, cina itu udah termasuk etnis Indonesia, etnis yang besar malahan. hampir di setiap daerah di jawa ada kawasan etnis cina. di semarang, misalnya, ada yang namanya kawasan pecinan dan itu sungguh-sungguh besar di semarang. :D

    ReplyDelete
  2. mungkin karena aku sendiri yang ngalamin makanya aku jadi ngga bisa santai kali yah..

    udah banyak banget temen yang ngingetin kalo zaman sekarang banyak yang berubah, tapi tetep aja rasa takut itu masih ada di dalam diri aku, wen..

    makasi yah, wnn :*

    ReplyDelete
  3. terima kasih.

    hmm.. kamu siapa yah? maap, maap. fotonya ngga keliatan jelasss >.<

    ReplyDelete