Thursday, December 27, 2012

Selamat Natal 2012


dari google

SELAMAT NATAL!
Ho Ho Ho..
SELAMAT NATAL!

Harap kami masih sama, semoga kami dapat beribadah di gedung Gereja kami sendiri. Semoga perjuangan selama 23 tahun ini berhasil kami dapatkan. Dan semoga, tidak ada polisi yang siaga berjaga di depan gereja-gereja kami. Beribadat dengan penjagaan itu tidak pernah membuat saya nyaman, merasa ada yang diburu dan yang memburu. Harap kami masih sama.

Semoga damai Natal akan senantiasa hadir di tengah-tengah kita. Jadilah terang dan garam dunia. Bersorak-sorailah karena Ia sudah datang.

Tuhan memberkati.

Saturday, December 22, 2012

22 Desember 2012

21 Desember 2012 katanya kiamat.
Tapi nyatanya hari ini para Ibu kembali dibanggakan oleh mereka yang pernah tinggal di dalam rahimnya.

Selamat hari Ibu bagi semua Ibu yang telah meminjamkan rahimnya untuk sebuah kehidupan.

Foto: Google

Pulang - Leila S. Chudori


Rumah adalah tempat kita bisa pulang.

Kira-kira itulah yang diucapkan Dimas Suryo ketika mengingat apa itu yang dinamakan rumah. Dimas ingin pulang, ingin kembali ke rumah, tapi oleh kekejaman pemerintah ia tidak bisa menginjakkan kakinya di tanah kelahirannya.

Membaca Pulang merupakan angin segar beberapa minggu ini. Setelah beberapa minggu ini mata berkutat pada buku terjemahan, buku ini mengingatkan bahwa masih ada sastrawan Indonesia yang patut diapresiasi. Anak emas sastra Indonesia, Leila S. Chudori, berhasil menyelesaikan Pulang setelah enam tahun lamanya.

Dengan berbagai riset tentang peristiwa G30S (yang diujungnya ditambahkan PKI), gerakan Mei 1968 di Paris, dan peristiwa Mei 1998, Leila menulis novel ini berdasarkan fakta-fakta yang ada. Sebuah fiksi tentang kenyataan keluarga korban dari ketika peristiwa berdarah tersebut (ah, gerakan Mei 1968 di Paris mungkin tidak tepat disebut peristiwa berdarah).

Kepustakaan Gramedia Populer, Batu Api, Layar Kita, dan Jurusan Jurnalistik Unpad pun mengadakan diskusi dan launching buku ini pada tanggal 18 Desember 2012 kemarin. Kebetulan saya yang sengaja menghabiskan buku ini sebelum tanggal tersebut pun datang. Dan nyatanya, mungkin dari 30-40 orang yang hadir, saya hanyalah salah satu atau salah dua dari mereka yang membacanya.

Pembicara Seno Gumira Ajidarma dan Leila S. Chudori. Beberapa yang datang mungkin malah untuk melihat Seno, bukan untuk Pulang bersama Leila. Lalu sesi tanya-jawab yang absurd berlangsung. Saya harus bersabar mendengar beberapa pertanyaan, misalnya, mengapa Leila mengambil setting G30S, apa alasan Leila menerbitkan buku dengan tema itu pada saat ini, apakah membuat fiksi dari sebuah fakta tidak malah mengubah anggapan pembaca, apa tanggapan Seno tentang karyanya yang dianggap pragiat (astaga!), dan mengapa-apa yang lain. Dua kali Seno menjawab dengan pertanyaan balik pada penanya, "Saya malah ingin bertanya, bagaimana pemikiranmu sampai kamu bisa menanyakan pertanyaan seperti itu", dan "Saya malah mau bertanya tentang pertanyaanmu karena saya tidak mengerti apa yang kamu tanyakan". Sesi tanya-jawab itu sungguh absurd!

Pulang, kisah perjalanan hidup Dimas Suryo yang dianggap sebagai bagian dari sayap kiri. Padahal Dimas tidak memilih ikut bersama yang kiri atau yang kanan. Hanya karena ia berkecimpung dan hidup bersama kaum gerakan kiri, ia dianggap bagian dari mereka.

Dalam novel ini saya menemukan beberapa kesamaan tentang tokoh Dimas Suryo, Hananto Prawiro, dan Sagara Alam. Mereka diceritakan memiliki wajah yang rupawan dan bentuk tubuh yang bagus. Karisma yang mereka miliki pun sama, sama-sama mampu memikat kaum hawa dan entah sudah berapa perempuan yang naik ranjang bersama mereka. Kesan jantan menguar dari tubuh mereka. Berbeda dengan sosok Tjai, Risjaf, Nara, dan Bimo yang tidak terlalu populer karena mereka digambarkan sebagai sosok yang tidak jantan seperti penggambaran Dimas, Hananto, dan Alam--meskipun wajah Nara dan Bimo termasuk rupawan.

Entah mungkin kebetulan atau tidak, perbedaan penggambaran tokoh-tokoh laki-laki tersebut menjadikan perbedaan peran pula dalam novel ini. Dimas, Hananto, dan Alam menjadi tokoh sentral dan Tjai, Risjaf, Nara, serta Bimo menjadi tokoh pendamping.

Begitu pula tokoh sentral perempuan, Vivienne Deveraux, Lintang Utara, dan Surti Anandari. Para perempuan itu digambarakan memiliki wajah yang cantik dan tubuh yang menarik. Memiliki mata dan bibir yang memikat para pria.

Lintang merupakan anak dari pasangan Dimas dan Vivienne. Hidup Dimas ditarik dari dua sisi berseberangan, Paris (Vivienne) dan Indonesia (Surti). Pun begitu dengan Lintang, ditarik dari dua sisi berseberangan, Paris (Nara) dan Indonesia (Alam). Dimas dan Lintang sama-sama pula merasakan Indonesia adalah tempat pulang.

Menurut saya, Dimas Suryo ingin pulang bukan karena ia rindu pada tanah kelahirannya itu melainkan karena sosok Surti yang tidak bisa lepas dari bayangannya. Sosok Surti ditandai dengan setoples cengkih dan setoples kunyit yang selalu diletakkan Dimas di rumahnya. Dan meskipun di akhir cerita tidak dilanjutkan apa yang dipilih oleh Lintang, saya bisa menyimpulkan bahwa Lintang lebih memilih Indonesia dan Alam. Karena kesamaan-kesamaan yang terdapat pada sosok Dimas dan Lintang.

Dimas pulang, dia berpulang. Dalam tanah merah di Karet ia berpulang setelah rezim Orde Baru runtuh. Dimas berpulang dan Lintang memilih pulang.

Ah, ketika sesi tanda tangan, Leila dengan wajah gembira berkata bahwa pasti saya sudah membaca bukunya. Dengan gembira pula saya menjawab 'ya'. Lalu ia bertanya nama saya dan memberikan tanda tangannya pada dua buku Pulang yang saya miliki. Saya mendapat satu buku karena bisa menjawab pertanyaan Seno. Buku yang lama saya jual dengan setengah harga pada Chagie untuk menggenapi perkataanya bahwa ia akan mendapat Pulang dari saya. Ya, dariku Pulang untukmu :D

Fragmen Malam

Sementara... teduhlah, hatiku
Tidak lagi jauh
Belum saatnya kau jatuh
Sementara... ingat lagi mimpi
Juga janji-janji
Jangan kau ingkari lagi

Percayalah, hati
Lebih dari ini pernah kita lalui
Jangan henti disini

Sementara... lupakanlah rindu
Sadarlah, hatiku
Hanya ada kau dan aku
Dan, sementara... akan kukarang cerita
Tentang mimpi jadi nyata
Untuk asa kita berdua

Percayalah, hati
Lebih dari ini pernah kita lalui
Takkan lagi kita mesti jauh melangkah
Nikmatilah lara

Percayalah, hati
Lebih dari ini pernah kita lalui
Takkan lagi kita mesti jauh melangkah
Nikmatilah lara

Percayalah, hati
Lebih dari ini pernah kita lalui
Takkan lagi kita mesti jauh melangkah
Nikmatilah lara
Untuk sementara saja

Sementara... teduhlah, hatiku
Tidak lagi jauh
Belum saatnya kau jatuh
Sementara... ingat lagi mimpi
Juga janji-janji
Jangan kau ingkari lagi

Percayalah, hati
Lebih dari ini pernah kita lalui
Jangan henti disini

Sementara... lupakanlah rindu
Sadarlah, hatiku
Hanya ada kau dan aku
Dan, sementara... akan kukarang cerita
Tentang mimpi jadi nyata
Untuk asa kita berdua

Percayalah, hati
Lebih dari ini pernah kita lalui
Takkan lagi kita mesti jauh melangkah
Nikmatilah lara

Percayalah, hati
Lebih dari ini pernah kita lalui
Takkan lagi kita mesti jauh melangkah
Nikmatilah lara

Percayalah, hati
Lebih dari ini pernah kita lalui
Takkan lagi kita mesti jauh melangkah
Nikmatilah lara
Untuk sementara saja

Sementara teduhlah hatiku 
Tidak lagi jauh 
Belum saatnya kau jatuh
 
Sementara ingat lagi mimpi
Juga janji janji
Jangan kau ingkari lagi
 
Percayalah hati lebih dari ini
Pernah kita lalui 
Jangan henti di sini
 
Sementara lupakanlah rindu 
Sadarlah hatiku hanya ada kau dan aku
Dan sementara akan kukarang cerita
Tentang mimpi jadi nyata 
Untuk asa kita berdua
 
Percayalah hati lebih dari ini
Pernah kita lalui 
Takkan lagi kita mesti jauh melangkah 
Nikmatilah lara 
Jangan henti di sini
 
Float - Sementara 

Teruntuk kalian yang membuatku rindu dalam fragmen malam. Tiap tetes keringat akan segera menguap dan kita akan memulai lagi segalanya dari pori-pori nafas segar pagi ini.

Saturday, December 15, 2012

Andika



Saya yang sering sulit tidur kadang memunculkan beberapa kenangan. Kadang kenangan itu muncul sendiri tanpa diminta. Semalam, dalam gelap kamar, seorang teman yang sudah tenang di surga muncul dalam kepala saya.

Halo, Ndi. Sedang apa di sana? Surga pasti penuh hiasan Natal ya?

Andika sudah pergi mendahului kami nyaris tiga tahun yang lalu. Atau dua tahun lalu? Bener kan, Ndi? Sebentar lagi tahun baru dan tidak ada SMS darinya lagi yang mengajak kami bakar-bakar makanan di rumah salah seorang teman.

Yang paling saya rindukan dari Andika adalah pesan singkat ketika perayaan Natal, Paskah, tahun baru, dan ulang tahun saya. Andilah yang pertama memberi ucapan pada perayaan-perayaan itu karena sejak SMA kelas 3 ia pindah ke Australia. Waktu di sana lebih cepat dan SMS-nyalah yang pertama kali masuk.

Hari itu, ketika berulang tahun ada yang aneh padanya. Saya telah menunggu SMS darinya sepanjang hari. Hal itu selalu hal yang saya nantikan karena Andi memang ingat pada hal-hal kecil tentang teman-temannya. Namun, bahkan sampai hari berganti pun SMS takkunjung datang. Bulan Maret tiba, dan Andi akan berulang tahun. Lalu, siang itu sebuah telepon tidak dikenal masuk. Saya yang baru bangun tidur mengangkatnya setengah tidak sadar.

Teman SMP saya menelepon. Kabar yang disampaikannya sampai membuat saya bangun seperti disiram air. Andika meninggal. Berkali-kali saya tanyakan apakah hal itu benar, takut saya masih bermimpi. Bukankah kita baru merayakan tahun baru bersama?

Dengan kalut saya pergi ke warnet dekat kosan saya, mencoba mencari tahu lewat facebook. Jejari saya bahkan takhenti bergetar ketika menekan tuts-tuts keyboard. Air mata mulai berurai, takkunjung henti ketika melihat ucapan belasungkawa yang sudah memenuhi wall Andi. Ia pergi. Untuk selama-lamanya ia pergi.

Kepergian Andi begitu mengejutkan. Kami tidak tahu bahwa selama ini ia menderita sakit yang cukup serius karena ia tidak pernah menceritakan dan mengeluhkannya pada kami. Andi yang selama ini kami temui adalah Andi yang biasa, yang penuh dengan energi dan positivitas. Dalam tubuhnya ternyata penyakit sudah bersarang.

Ah, main futsal sama siapa di sana, Ndi? Gimana nanti tahun baru? Baik-baik yah, Ndi.

 

Life of Pi - Yann Martel



“Kata Bapu Gandhi, ‘semua agama baik adanya’. Aku cuma ingin mengasihi Tuhan,” kataku, lalu aku menunduk dengan wajah merah.
(Yann, Martel, 2007: 112)


Seorang anak lelaki India bernama Piscine Molitor Patel—yang lebih ingin dipanggil dengan sebutan Pi Patel—berusia 16 tahun saat itu ketika ia dan keluarganya bertemu dengan seorang pastor, imam, dan pedande. Ketiga pemimpin agama itu memuji Pi karena ia pemuda yang religius, yang senantiasa beribadah dengan rajin. Terkejutlah semua yang ada di sana, tidak bagi Pi. Masing-masing pemimpin agama yakin bahwa Pi memeluk agamanya dan Pi hanya bisa diam sampai akhirnya ucapan yang saya kutip di atas menutup perbincangan mereka. Kalimat itu mampu membuat pastor, imam, dan pedande pergi dengan muka merah karena telah bertengkar dengan sesamanya.

Saat itu Pi memeluk tiga agama. Agama pertamanya adalah Hindu karena ia dibesarkan dalam agama itu. Lalu, dalam sebuah liburan, ia mengenal pastor Martin yang membawanya mengenal Yesus. Pada waktu itu usianya 14 tahun. Di hari terakhir liburannya, ia kunjungi pastor Martin dan minta dibabtis. Tidak sampai setahun kemudian ia mengenal Allah dan Islam lewat seorang penjual roti.

Pi merasakan bisa dirinya bisa berhubungan dengan Tuhan lewat tiga agama yang dikenalnya itu, lewat kisah-kisah Kristiani, lewat shalat, dan lewat Dewa-Dewi Hindu. Ia menjadi pemeluk yang baik ketiga agama itu.

Setelah ketiga pemimpin agama itu tahu bahwa Pi memeluk tiga agama yang berbeda, Pi dikucilkan dari rumah ibadah masing-masing. Mereka tidak bisa menerima Pi yang percaya pada Tuhan yang lain selain agama mereka. Pi merasa sedih namun tetap percaya pada apa yang diyakininya.

Konflik-konflik agama dalam novel ini begitu segar dan membuat saya semakin mengerti bahwa kita tidak bisa lepas dari agama yang lain. Saya penasaran apa reaksi mereka yang dangkal tentang agama ketika membaca novel ini. Apa reaksi mereka ketika agama mereka dijadikan lelucon dalam novel ini. Apakah mereka akan ikut tertawa atau marah-marah karena agamanya dijadikan bahan tertawaan.

Bagi saya, Tuhan tidak seserius yang orang bayangkan, yang tidak bisa ikut tertawa bersama umatnya. Bukannya kita ciptaan-Nya dan kita dijadikan serupa dengan-Nya?

Ayah Pi pemilik suatu kebun binatang di Pondicherry, India. Pi yang besar di kebun binatang turut belajar mengenal binatang, mengenal kebiasaan dan sifat-sifat mereka. Dan ternyata, pelajaran itu sangat membantu Pi ketika suatu peristiwa yang tidak dibayangkan terjadi.

Kemelut di India membuat ayah Pi memutuskan pindah ke Kanada. Seluruh isi kebun binatang dijual. Pi dan keluarganya pindah menumpang kapal barang Tsimtsum milik Jepang pada tanggal 21 Juni 1977. Beberapa hewan turut bersama mereka dalam kapal itu, akan dijual di Amerika.

Siapa yang menyangka bahwa tenggelamnya kapan hanya milik Titanic. Meskipun tidak menabrak batu es, kapal ini tenggelam tanggal 2 Juli 1977 di samudera Pasifik. Hanya Pi yang selamat, menempati sebuah sekoci bersama seekor hyena, zebra yang kakinya patah, orang utan betina, dan seekor harimau royal bengal seberat 225 kg. Pertualangan bersama para hewan ini dimulai dalam sekoci yang panjangnya 8 meter.

Pi berhasil bertahan selama—kalau saya tidak salah ingat—227 hari, lebih dari tujuh bulan di atas sekoci. Sesuai hukum alam, rantai makanan terjadi. Hyena yang awalnya ragu karena ada superior di atasnya, harimau, akhirnya memakan zebra itu sedikit demi sedikit. Lalu pertarungan antara hyena yang jantan dan orang utan betina dimenangkan oleh hyena jantan. Dan akhirnya, keluarlah harimau itu, Richard Parker, dari tempat sembunyinya dan menyerang hyena. Tinggal Pi dan Richard Parker yang selamat di atas kapal.

Pi sadar ia akan menjadi santapan berikutnya kalau ia tidak melakukan sesuatu. Bertahan hidup di samudera luas berat dan lebih berat lagi kalau hidup bersama harimau buas di samudera luas. Selama lebih dari tujuh bulan itu Pi bertahan hidup dan mempelajari Richard Parker. Ia menyadari jika hanya ia sendiri yang berada di atas sekoci itu, ia tidak akan hidup lebih lama. Ia menyadari bahwa Richard Parker yang menjadi motivasinya untuk terus bertahan hidup.

Kisah ini kisah nyata yang sekarang filmnya sedang tayang di perbioskopan Indonesia. Karena gembar-gembor film itulah yang membuat saya kemudian membaca novel ini dan bukannya berburu film di bioskop terdekat. Saya penasaran akan seperti apa filmnya, akan seberapa banyak adegan dalam novel ini dipotong agar bisa memenuhi durasi.

Pi Patel orang yang cerdas. Terbukti bagaimana ia memandang agama, hewan, dan mampu bertahan hidup di samudera Pasifik selama tujuh bulan lebih bersama seekor harimau bengala di atas sekoci. 

Kang Agus



Semalam, dengan jelas saya mendengar suara tokek. Suara itu nyaring terdengar dari kamar saya yang kecil ini. Bunyinya menggema. Tokek itu berbunyi kencang sekitar empat kali lalu semakin pelan dan semakin panjang. Seketika saya mengingat seorang teman bernama Kang Agus.

Kang Agus adalah teman yang saya kenal ketika KKN di Tanjungsari, Cianjur, tahun 2009. Awalnya agak canggung, tapi lama-kelamaan saya mulai dekat dengannya. Kang Agus mengambil ekstensi manajemen angkatan 2007. Meskipun angkatannya lebih kecil dari saya, tapi usianya jauh lebih tua. Hahahaha... Dalam kelompok kami, hanya Kang Agus yang saya panggil dengan sebutan ‘Kang’.

Berkisah tentang tokek, pada suatu siang rumah yang ditempati kami para perempuan kedatangan tamu. Tokek berwarna hijau toska dengan bintik-bintik cerah. Ia menempel pada dinding ruang tamu yang sekaligus kami jadikan tempat rapat dan tempat tidur. Kedatangnya membuat kami kaget terutama saya yang tidak suka dengan binatang seperti itu. Saya benci cicak dan tokek begitu mirip dengan cicak bahkan tubuhnya lebih besar.

Para lelaki sibuk mengusah tokek itu pergi, kecuali Kang Agus. Ia berdiri bersama kami, menonton perang tokek dengan sapu. Lalu, tokek itu marah dan mengeluarkan suara eraman. Suaranya seperti suara kucing yang sedang marah. Dan tokek itu menggigit ijuk di sapu. Berlarilah kami yang sedang menonton, takut tokek itu lompat dan menyerang kami. Ketika sudah di luar rumah, baru saya sadar di antara kami para perempuan yang berteriak dan berlompatan ada pula Kang Agus. Ekspresinya yang paling ekspresif. Dan lalu kami yang menyadari segera tenggelam dalam tawa yang panjang. Kami meledek-ledek Kang Agus yang sama penakutnya seperti kami dan ia pun bersama kami larut dalam tawa yang tergelak-gelak.

Bukan hanya itu kejadian lucu tentang Kang Agus yang ketika mengingatnya bukan hanya senyum yang singgah, melainkan juga tawa. Kang Agus begitu lucu dengan caranya yang unik. Suaranya yang khas, cempreng-cempreng gimana gitu, kadang menjadikan suasana bukannya serius malah jadi panggung lawak. Gestur tubuh dan tindak-tanduknya tidak kala lucu pula.

Ah, di luar terdengar lagi suara tokek, Kang Agus! Jangan-jangan itu tokek yang sama dengan yang di tempat KKN! Hahahaha...

Apa kabar, Kang Agus? Sudah lama kita tidak bersua. Apa kabar kelinci angora di rumahmu itu? Sono sama Kang Agus. Sono ketawa bareng sampai perut sakit.




Friday, December 7, 2012

Kotak Surat

Ketika pekerjaan sudah selesai dikirim namun mata takmau lepas dari layar email, saya suka membuka kembali halaman-halaman email di masa lampau. Rasanya menyenangkan dan menghangatkan bahwa dulu email ini sangat berguna untuk berbagai keperluan. Saya temukan surat-surat tentang tugas kuliah, tentang percakapan remeh-temeh, tentang pengingat berbagai hari yang menyenangkan, tentang pembahasan skripsi, dan lain sebagainya. Melihat mereka membuat hati saya hangat.

Rasanya menyenangkan melihat mereka di kala kepala penuh dengan tulisan perihal pekerjaan. Rasanya tentram dapat menemukan sebuah kesenangan di balik penat surat lain yang berjejalan. Seperti ketika saya haus, ada segelas air dingin yang manis untuk melegakan.

Adakah yang ingin berbagi surat elektronik dengan saya? Dengan manis saya akan membalas kalian. Saya ingin membuat kenangan baru dalam kotak surat yang satu ini. Ingin rasanya mendapat surat di kotak masuk tanda saya hidup di luar pekerjaan saya.

Ting Tong!

Silakan masuk ^.^