Thursday, September 26, 2013
Tes Pauli dan Perkenalan Tanpa Nama
Ceritanya Senin dan Selasa kemarin saya mengikuti tes di salah satu stasiun televisi. Kalau kamu pencari kerja seperti saya, pasti kamu tahu stasiun televisi itu. Mereka buka pendaftaran di berbagai kota, rasanya jadi seperti ajang pencarian bakat.
Pun ketika tiba di tempat saya merasa sedang mengikuti audisi pencarian bakat. Pelamar via web ada 2500-an orang, belum lagi ditambah yang melamar di tempat. Antriannya panjaaaaaannngggggg sekali.
Nah, hari Senin saya sama sekali tidak menyapa seorang pun. Saya kan sebenarnya pemalu. Jadilah tidak mendapat kenalan sama sekali. Tes hari itu adalah tes psikologi dan tes pengetahuan umum. Selama ini saya tidak pernah berkesempatan mengikuti tes psikologi semacam itu, jadi ini kali pertama.
Tes pertama adalah tes Pauli atau tes koran karena lembar kertasnya besar seperti koran. Isinya angka, sejauh mata memandang hanya ada angka. Cara mengisinya adalah dengan cara menjumlahkan dua angka, lalu dua angka berikutnya, dan berikutnya.
Mata sampai berkabut karena tes ini. Tapi seru sih, nanti rencananya mau saya print terus saya kerjain di rumah. Saking ngga ada kerjaannya. Hahahahaha...
Hari kedua tes wawancara. Hari yang panjang. Berangkat dari pukul 05.00 dan sampai di rumah pukul 21.30. Padahal sudah tidak berharap lolos tes hari pertama. Tapi ternyata nama saya ada di list dan datanglah saya di hari kedua, di tes wawancara.
Hari itu saya memutuskan akan membuat pertemanan baru. Tapi ternyata ketika antre, perempuan di belakang saya suka sekali ngobrol. Nah, saya kurang suka pada orang seperti itu. Satu per satu diajaknya ngobrol. Karena saya berdiri di depannya, saya tidak diajak ngobrol karena saya tidak membalikan badan. Sampai akhirnya tidak ada yang bisa diajak ngobrol, saya pun kena. Dia bertanya, saya menjawab. Tapi saya tidak balas bertanya. Untuk apa? Toh, sejak dari pintu masuk sampai ke meja registrasi saya tahu semua ceritanya.
Sampai akhirnya saya diajak ngobrol oleh seorang laki-laki. Awalnya basa-basi. Lalu datang seorang laki-laki lagi. Namanya tidak ada di pengumuman, ternyata ia salah informasi. Mulailah kami bertiga ngobrol dengan seru. Dari tanya ini sampai cerita itu. Sayangnya laki-laki dua harus pulang. Buat apa pula ia di sana, namanya tidak ada. Jadinya tinggal saya dan laki-laki pertama. Kami pindah tempat duduk, masuk ke ruangan. Dan bertemu lagi dengan seorang laki-laki dari Bandung.
Kami bertiga, saya, laki-laki pertama, dan laki-laki ketiga, selalu bersama dari siang sampai kami masuk ruang wawancara. Ngobrol ke sana ke mari, mengeluh sama-sama, makan bersama, pokoknya semua bersama. Tapi yang lucu adalah tidak ada di antara kami yang tahu nama masing-masing. Hahahahaha... Saya menunggu ditanya, bukan karena saya tidak mau bertanya, tapi saya penasaran kapan kami akan mulai mengenalkan identitas masing-masing. Rasanya lucu saja, kami akrab tapi nama pun kami tidak tahu.
Yah, semoga kami bertiga diterima dan nanti saya akan memperkenalkan diri dengan benar. Sampai jumpa kalian-kalian. Semoga kita beruntung :)
Sunday, September 22, 2013
Kecemasan pada Angin
Hidup saya tidak luput dari segala bentuk kecemasan, baik kecemasan yang muncul akibat lingkungan sekitar maupun kecemasan yang muncul akibat pemikiran diri sendiri. Sejak saya mengenal rasa cemas, ia terus mengganggu. Bahkan saya membiarkannya terus berkembang, tanpa mencari tahu bagimana cara menghilangkannya. Saya hanya abai, tanpa berusaha keluar dari zona ketidaknyamanan itu.
Setelah nyaris tujuh tahun hidup dalam zona nyaman lingkungan kampus, saya harus kembali pulang. Mungkin kalian yang dekat dengan saya, atau yang mengikuti perkembangan catatan saya di blog ini akan bosan mengetahui bagaimana saya membicarakan hidup saya. Tapi, tulisan adalah satu-satunya cara (yang saya kuasai) untuk melepaskan kecemasan itu.
Pulangnya saya membuat kecemasan bukannya berkurang. Saya dihadapkan lagi dengan proses adaptasi. Betapa tidak saya merasa canggung melihat lingkungan tempat saya tumbuh telah berubah, berproses tanpa saya hadir di dalamnya.
Sampai sekarang saya masih canggung bertemu dengan tetangga-tetangga yang dulu rumahnya masih berupa lahan kosong tempat ilalang berkembang. Ingatan saya hanya sebatas masa lalu, tidak mengikuti proses lingkungan yang ada. Saya kembali harus beradaptasi.
Tapi, saya menyadari toh semua bertumbuh. Saya seketika takjub melihat anak-anak di sekitar saya tumbuh begitu menakjubkan. Terlebih tiga anak laki-laki. Dulu, tiba-tiba saya benci kata ini, mereka masih kecil, masih menggayut di tangan ibu. Mereka masih anak-anak lucu yang menyapa-disapa. Mengetahui tubuh mereka berkembang begitu indah begitu menakjubkan. Mereka menjadi sosok laki-laki di awal kedewasaannya.
Saya merasa kecil, merasa tidak berkembang melihat pertumbuhan mereka. Betapa mereka tiba-tiba menjauh dan asing. Merindukan suara-suara teriakan di sela permainan mereka. Mereka bertumbuh dan saya harus beradaptasi dengan itu.
Kecemasan tidak berhenti di sana. Ia kemudian muncul dalam bentuk perbandingan dan pertanyaan. Harus memulai menjawab tanya tanpa bisa lepas bertanya. Anak kecil tumbuh dengan bertanya. Saya, di usia saya sekarang, tumbuh dengan menjawab. Menjawab segala pertanyaan yang tidak ada habisnya. Menjawab pertanyaan yang tidak pernah saya sukai. Tapi sebagai orang dewasa, saya harus menjawab demi etika dan teman-temannya.
Ada kalanya saya menyalahi kecemasan. Kenapa hidup tidak hanya sekadar memikirkan hari ini. Padahal Tuhan telah bersabda bahwa cukuplah kekhawatiran sehari hanya untuk sehari karena besok akan ada lekhawatirannya sendiri. Tapi saya berlomba-lomba mengumpulkan kecemasan bahkan untuk tahun depan.
Mulut berkata "masa bodoh", tapi hati yang paling tahu. Ia merenyit, mengatakan bahwa bohong pada diri sendiri itu jauh lebih menyakitkan daripada membohongi orang lain.
Dulu saya menghibur diri dengan mengatakan bahwa saya sedang jalan-jalan santai bersama angin yang membelai pipi, tapi benarkah angin punya waktu untuk jalan santai bersama saya?
Tuesday, September 17, 2013
Pernikahan
kalau nikah cuma biar enak dilihat, yah nikahlah sekarang.Terkadang saya jago bikin kalimat-kalimat sok bijaksana seperti di atas. Tapi sungguh, itu keluar dari berbagai pertimbangan dan pemikiran.
tapi, kalo lo berdua belom punya apa-apa untuk dibawa ke rumah tangga lo, cari dulu baru nikah.
Menikah buat saya bukan hal yang mudah. Bukan sekadar menyatukan dua pribadi dan dua keluarga. Menikah itu juga berarti penyesuaian, kebahagiaan, keabadian, penyelarasan, ketidakbosanan, kesanggupan, dan sebagainya dan sebagainya dan sebagainya yang akan panjang jika saya tuliskan di sini.
Ketika perkataan itu keluar dari kepala saya, saya hanya ingin berharap agar pernikahan itu bukan hanya kata "sekadar" tapi "akhir", bukan "akhirnya". Ngerti maksudnya? Ngga? Sama, saya juga. Hahahaha...
Bagi saya, pernikahan itu di atas sakral. Sangat rumit. Sangat...
Malas Berbahasa
Tahu berita tentang Vicky Prasetyo? Iya, yang itu, yang bahasanya tinggi tapi kacau itu. Tulisan ini bukan sekadar ikut-ikutan membahas orang itu. Hanya saja ada hal kebetulan yang ingin saya sampaikan.
Beberapa minggu yang lalu, sebelum kasus Vicky ini terangkat di media, saya dan beberapa teman sedang asik mengobrol tentang bahasa. Bagaimana awalnya saya lupa, hanya saja poin ini yang paling saya ingat betul, masalah penggunaan kata-kata yang rumit.
Si A berkata bahwa ia suka menggunakan suatu kata yang rumit dalam beberapa tulisannya. Hanya suka saja, tapi tidak mengerti makna sebenarnya dari kata itu apa. Si B berkata bahwa ia suka menggunakan kata-kata yang rumit yang sebenarnya tidak nyambung dengan tulisannya, di blog pribadinya. Tapi Si B tahu arti setiap kata yang ia gunakan. Si B ingin mengetes pembaca blognya apakah protes atau tidak ketika ia menggunakan kata yang salah. Dan ternyata pembacanya tidak ada yang mempermasalahkan itu.
Tiba-tiba Vicky muncul. Kebetulan yang memang kebetulan. Tiba-tiba obrolan kami diberi contoh yang paling nyata. Penggunaan bahasa tingkat tinggi yang kerap salah tempat membuat Vicky jadi bahan omongan masyarakat luas. Bahkan tidak mempertanyakan kasus yang Vicky hadapi hingga membuatnya ada di penjara.
Vickyisme memang nampak baru, tapi sebenarnya kesalahan berbahasa sudah terjadi jauh sejak kemunculan Vicky. Banyak orang yang menggunakan kata-kata rumit agar terlihat keren dan berpendidikan. Apalagi ketika Vicky berbicara sebagai calon kepala desa yang notabene tidak semua warganya berpendidikan tinggi. Mereka mungkin saja percaya bahwa orang ini, yang menggunakan bahasa yang tidak saya mengerti, yang bahasanya rumit, yang baru saya dengar sekarang, adalah orang yang pintar dan tahu banyak hal.
Namun sayangnya, para penikmat televisi banyak yang tingkat pendidikannya jauh lebih tinggi sehingga tahu bahwa apa yang dikatakan Vicky itu aneh, tidak jelas, apa sih maksudnya. Bahkan menganggap Vicky sok pintar, sok ngenglish, dan sok sok yang lainnya. Lalu Vicky pun jadi bahan olokan di banyak tempat dan di banyak komunitas.
Contoh Si A, yang dengan sadar, sering menggunakan kata yang rumit untuk tulisannya pun membuat saya tergelitik. Si A tidak mengerti makna kata itu apa, tapi karena kata itu keren jadi ia gunakan dan pembacanya pun tidak ada yang protes.
Di obrolan dengan teman yang lain saya berkata bahwa kebanyakan orang Indonesia itu malas berbahasa. Malas mencari kata dengan padanan yang tepat dan masih mengagungkan "ketinggian" bahasa kita. Seberapa rumit dan susahnyakah kita mencari padanan yang lebih tepat atau mencari kata yang lebih sederhana untuk bahasa yang kita gunakan?
Dalam Pikiran Rakyat, 14 September 2013, Matdon mengatakan bahwa bahasa adalah satu-satunya hiburan yang murah-meriah. Saya sepakat dengan Matdon. Lihat bagaimana ikon-ikon dengan bahasa yang aneh akhirnya banyak ditiru orang. Menjadikan bahasa sebagai hiburan sekaligus sebagai pelecehan.
Tapi saya rasa, fenomena berbahasa seperti ini akan sulit dihilangkan. Masih banyak orang seperti Vicky di luar sana, hanya saja kebetulan saja ia bukan tunangan seorang penyanyi dangdut sehingga tidak masuk tayangan televisi :D
Beberapa minggu yang lalu, sebelum kasus Vicky ini terangkat di media, saya dan beberapa teman sedang asik mengobrol tentang bahasa. Bagaimana awalnya saya lupa, hanya saja poin ini yang paling saya ingat betul, masalah penggunaan kata-kata yang rumit.
Si A berkata bahwa ia suka menggunakan suatu kata yang rumit dalam beberapa tulisannya. Hanya suka saja, tapi tidak mengerti makna sebenarnya dari kata itu apa. Si B berkata bahwa ia suka menggunakan kata-kata yang rumit yang sebenarnya tidak nyambung dengan tulisannya, di blog pribadinya. Tapi Si B tahu arti setiap kata yang ia gunakan. Si B ingin mengetes pembaca blognya apakah protes atau tidak ketika ia menggunakan kata yang salah. Dan ternyata pembacanya tidak ada yang mempermasalahkan itu.
Tiba-tiba Vicky muncul. Kebetulan yang memang kebetulan. Tiba-tiba obrolan kami diberi contoh yang paling nyata. Penggunaan bahasa tingkat tinggi yang kerap salah tempat membuat Vicky jadi bahan omongan masyarakat luas. Bahkan tidak mempertanyakan kasus yang Vicky hadapi hingga membuatnya ada di penjara.
Vickyisme memang nampak baru, tapi sebenarnya kesalahan berbahasa sudah terjadi jauh sejak kemunculan Vicky. Banyak orang yang menggunakan kata-kata rumit agar terlihat keren dan berpendidikan. Apalagi ketika Vicky berbicara sebagai calon kepala desa yang notabene tidak semua warganya berpendidikan tinggi. Mereka mungkin saja percaya bahwa orang ini, yang menggunakan bahasa yang tidak saya mengerti, yang bahasanya rumit, yang baru saya dengar sekarang, adalah orang yang pintar dan tahu banyak hal.
Namun sayangnya, para penikmat televisi banyak yang tingkat pendidikannya jauh lebih tinggi sehingga tahu bahwa apa yang dikatakan Vicky itu aneh, tidak jelas, apa sih maksudnya. Bahkan menganggap Vicky sok pintar, sok ngenglish, dan sok sok yang lainnya. Lalu Vicky pun jadi bahan olokan di banyak tempat dan di banyak komunitas.
Contoh Si A, yang dengan sadar, sering menggunakan kata yang rumit untuk tulisannya pun membuat saya tergelitik. Si A tidak mengerti makna kata itu apa, tapi karena kata itu keren jadi ia gunakan dan pembacanya pun tidak ada yang protes.
Di obrolan dengan teman yang lain saya berkata bahwa kebanyakan orang Indonesia itu malas berbahasa. Malas mencari kata dengan padanan yang tepat dan masih mengagungkan "ketinggian" bahasa kita. Seberapa rumit dan susahnyakah kita mencari padanan yang lebih tepat atau mencari kata yang lebih sederhana untuk bahasa yang kita gunakan?
Dalam Pikiran Rakyat, 14 September 2013, Matdon mengatakan bahwa bahasa adalah satu-satunya hiburan yang murah-meriah. Saya sepakat dengan Matdon. Lihat bagaimana ikon-ikon dengan bahasa yang aneh akhirnya banyak ditiru orang. Menjadikan bahasa sebagai hiburan sekaligus sebagai pelecehan.
Tapi saya rasa, fenomena berbahasa seperti ini akan sulit dihilangkan. Masih banyak orang seperti Vicky di luar sana, hanya saja kebetulan saja ia bukan tunangan seorang penyanyi dangdut sehingga tidak masuk tayangan televisi :D
Sunday, August 4, 2013
Ternyata B!
Ceritanya, hari ini perdana saya donor darah.
Horeeee!!! *prok prok prok prok* Hahahaha.. Tapi sungguh itu yang saya rasakan,
senang. Akhirnya setelah memupuk niat sekian lama, saya berani juga mendonorkan
darah.
Alasan pertama, saya takut jarum suntik.
Apalagi katanya jarum untuk donor darah lebih besar. Alasan kedua dan terakhir,
saya takut pembuluh darah saya susah ditemukan. Beberapa tahun yang lalu saya
pernah ke rumah sakit dan diambil darah. Ada empat-lima suster yang
mengelilingi saya dan mencoba mencari di mana pembuluh tangan saya. Entah
berapa kali pula saya ditusuk sampai akhirnya berhasil. Nah, kenangan itu yang
selalu muncul ketika saya ingin mendonorkan darah.
Minggu kemarin, di pengumuman gereja diberitahukan
bahwa minggu depan akan ada aksi donor darah. Saya pun memutuskan untuk mencoba
dan datanglah saya hari ini. Dada saya berdegup kencang. Sungguh. Terlebih saya
sendirian dan memang saya memilih untuk memulainya sendiri. Saya mendaftar.
Beberapa kali ditanya sudah berapa kali donor darah dan beberapa kali pula saya
berkata ini pertama kalinya.
Lalu saya dipanggil untuk periksa HB. Mbak
yang memeriksa bertanya berapa berat badan saya. Saya jawab saya “Pokoknya
berat”. Hahahaha... Lalu darah saya diambil dari jari tengah tangan kanan. HB
saya normal. Degdegdegdegdegdeg... Makin tegang bercampur senang.
Mbak itu kemudian berkata bahwa golongan saya
B.
“Hah? Masa sih, Mbak? Setahu saya golongan
saya O,” kata saya sambil melongo.
Sambil mengaduk-aduk cairan darah yang baru
dites mbak itu berkata, “Iya, ini B kok.”
Oke, saya pun berdiri dan menuju tempat
berikutnya sambil memperhatikan kertas yang diberi mbak tadi. Dokter yang akan
memeriksa tekanan darah saya sambil menegur. “Kenapa? Kok tegang banget, kayak
yang baru ngambil rapor.”
“Ini, Dok. Saya baru tahu kalau golongan saya
B. Setahu saya O.”
“Kok bisa? Papa kamu apa?”
“O.”
“Mama?”
“O juga?”
“Masa sih?”
“Iya, di KTP sih begitu.” (kok gw jadi kayak
ngelawak ya? hahahaha...)
“Yah, sekali-kali diajak donor darah ya?”
Setelah diperiksa, saya diperbolehkan
mendonorkan darah. Dan duduklah saya menunggu.
Tik. Tik. Tik. Hampir setengah jam saya
disuruh siap-siap. Rasanya seperti dipanggil interview. Hahahahahaha...
Setelah berbaring, saya berkata pada mbak yang
menangani saya.
“Mbak, saya deg-degan nih.”
“Baru pertama ya?”
“Iya.”
Saya mengharapkan semangat dari mbak itu tapi
ternyata dia diam saja. Yah, mbak itu pasti sudah sering kali mendapatkan
pendonor yang pertama kali donor darah. Biasa saja bagi mbak itu. Tapi bagi
saya, ini pengalaman luar biasa.
Saya meminta diambil darah dari tangan kiri,
karena pulang saya mengendarai motor dan tangan kanan lebih banyak digerakkan.
Dan... Kejadian di rumah sakit dulu terulang. Pembuluh darah saya tidak bisa
ditemukan.
Lalu saya pindah tempat dan giliran tangan
saya dieksekusi. Lagi-lagi mbak itu tidak bisa menemukan pembuluh darah di
lengan saya.
Cuss... Lengan
saya ditusuk tapi ternyata itu bukan pembuluh darah. Sakit dan saya panik. Mbak
itu lebih panik. Sambil tersenyum-senyum kesal dan malu, dia memanggil
seniornya dan meminta maaf. Saya lebih meminta maaf.
Datang mbak senior itu menangani saya. Voila.
Sekali sentuh, pembuluh darah itu berhasil ditemukan. Mengucurlah darah saya.
Berhasil saya jadi pendonor darah.
Pengalaman ini luar biasa. Sungguh. Karena
sudah lama saya ingin sekali menjadi pendonor darah dan tidak berani. Kali ini
saya berani dan nanti saya akan lebih berani. Dan, ternyata golongan darah saya
memang B!
Jadi, di SMP saya pernah praktikum golongan
darah. Saya mengetes sendiri golongan darah saya di lab. sekolah. Hasilnya B.
Tapi, karena saya tahu orangtua saya golongan darahnya O, saya meragukan
keakuratan praktikum itu dan memutuskan sendiri bahwa saya bergolongan darah O.
Kalau dipikir-pikir jadi lucu. Karena selama ini saya percaya bergolongan darah
O. Bahkan, ketika saya dan teman-teman iseng mencari sifat-sifat berdasarkan
golongan darah, saya mencari yang O.
Harus mengucapkan selamat tinggal pada genk
(gayanyaaa...) golongan darah O. Saya pindah haluan ke B. Hahahaha...
Ternyata B!
![]() |
| Akhirnya punya kartu ini juga! |
Sunday, July 21, 2013
Sekadar Kisah di GBK
Bermula dari sebuah twit seorang teman tadi subuh. Begini isinya:
Dua minggu ini GBK "merah". Minggu kemarin kita kedatangan Arsenal dan kemarin Liverpool bertandang. Tentu ini saat-saat yang dinantikan oleh para The Gooners dan Liverpudlian Indonesia. Pun bagi saya dan dua kawan, meskipun tujuan kami berbeda.
Di dua acara itu, kami berjualan. Sejak konser yang batal waktu itu, kami mencari alternatif lain dan inilah event yang Puji Tuhan ternyata datang di waktu yang tepat. Besangkutan dengan twit teman saya itu, saya ingin berbagi cerita ketika berjualan.
Barang yang saya jual berupa tatto sticker dengan pilihan gambar bendera Indonesia serta logo klub yang menjadi lawan Indonesia. Hasil penjualan mengejutkan saya pribadi. Ternyata logu klub malah yang lebih laris ketimbang gambar bendera Indonesia. Beberapa pembeli yang saya tawarkan bendera Indonesia menolak, bahkan cukup tidak mengenakkan., "Saya dukung Arsenal kok", "Saya dateng buat Liverpool".
Dan seingat saya, di antara sekian banyak orang itu hanya ada satu yang menolak membeli logo klub, ketika Arsenal bermain. Dia malah berjengit ketika saya menawarkan logo Arsenal, sambil menggelengkan kepala dia berkata "Saya dukung Indonesia, Arsenalnya kan udah ada di kaos saya". Ya, dia memang memakai jersey Arsenal dan karena omongannya itu saya rasanya ingin memeluk Mas itu. Hehehehe...
Ada pula bukan orang Indonesia yang malah membeli gambar bendera Indonesia. Rasanya dia orang Malaysia, atau Singapura, atau mungkin India, pokoknya dia membeli logo bendera Indonesia.
Sebenarnya saya agak menyangkan hal itu, meskipun komentar saya tidak semiris ayah teman saya itu. Tapi saya mengerti. Di sisi lain juga saya memahami perasaan para supporter itu. Hanya saja memang benar, kita, tidak semua kita, membiarkan diri kita sendiri mengolok-olok bangsa ini. Dan itu menyedihkan.
Saya rasa hal yang sama akan berlaku minggu depan, ketika giliran Chelsea yang akan bertandang. Tidak menutup kemungkinan apa yang sudah terjadi di dua pertandingan kemarin juga terjadi minggu depan.
NB: ada persamaan antara penggemar pertandingan bola dan konser K-Pop. Para penggemar sama-sama rela menghabiskan uang untuk membeli atribut. Dan, antusias mereka yang tergabung dalam satu suara selalu membuat saya merinding.
Dua minggu ini GBK "merah". Minggu kemarin kita kedatangan Arsenal dan kemarin Liverpool bertandang. Tentu ini saat-saat yang dinantikan oleh para The Gooners dan Liverpudlian Indonesia. Pun bagi saya dan dua kawan, meskipun tujuan kami berbeda.
Di dua acara itu, kami berjualan. Sejak konser yang batal waktu itu, kami mencari alternatif lain dan inilah event yang Puji Tuhan ternyata datang di waktu yang tepat. Besangkutan dengan twit teman saya itu, saya ingin berbagi cerita ketika berjualan.
Barang yang saya jual berupa tatto sticker dengan pilihan gambar bendera Indonesia serta logo klub yang menjadi lawan Indonesia. Hasil penjualan mengejutkan saya pribadi. Ternyata logu klub malah yang lebih laris ketimbang gambar bendera Indonesia. Beberapa pembeli yang saya tawarkan bendera Indonesia menolak, bahkan cukup tidak mengenakkan., "Saya dukung Arsenal kok", "Saya dateng buat Liverpool".
Dan seingat saya, di antara sekian banyak orang itu hanya ada satu yang menolak membeli logo klub, ketika Arsenal bermain. Dia malah berjengit ketika saya menawarkan logo Arsenal, sambil menggelengkan kepala dia berkata "Saya dukung Indonesia, Arsenalnya kan udah ada di kaos saya". Ya, dia memang memakai jersey Arsenal dan karena omongannya itu saya rasanya ingin memeluk Mas itu. Hehehehe...
Ada pula bukan orang Indonesia yang malah membeli gambar bendera Indonesia. Rasanya dia orang Malaysia, atau Singapura, atau mungkin India, pokoknya dia membeli logo bendera Indonesia.
Sebenarnya saya agak menyangkan hal itu, meskipun komentar saya tidak semiris ayah teman saya itu. Tapi saya mengerti. Di sisi lain juga saya memahami perasaan para supporter itu. Hanya saja memang benar, kita, tidak semua kita, membiarkan diri kita sendiri mengolok-olok bangsa ini. Dan itu menyedihkan.
Saya rasa hal yang sama akan berlaku minggu depan, ketika giliran Chelsea yang akan bertandang. Tidak menutup kemungkinan apa yang sudah terjadi di dua pertandingan kemarin juga terjadi minggu depan.
NB: ada persamaan antara penggemar pertandingan bola dan konser K-Pop. Para penggemar sama-sama rela menghabiskan uang untuk membeli atribut. Dan, antusias mereka yang tergabung dalam satu suara selalu membuat saya merinding.
Friday, July 19, 2013
Malaikat dan Iblis, Sebagai Novel dan Film
Jadi ceritanya kangen ngerjain tugas, kaya masa-masa kuliah kemarin. Bongkar-bongkar folder dan nemu ini. Yah, Dan Brown selalu jadi salah satu favorit saya.
Angels and Demos, Film yang Tidak Dapat
Menvisualisasikan Imajinasi Pengarangnya
Malaikat dan
Iblis adalah sebuah buku yang menjadi international bestseller buah
karya pengarang asal Amerika, Dan Brown. Dan Brown dulu dikenal sebagai penulis
novel bestseller yang berjudul The Da Vinci Code. Malaikat dan
Iblis kemudian diadaptasi menjadi sebuah film yang baru beredar berjudul Angels
and Demons.
Malaikat dan
Iblis mengisahkan Robert Langdon, simbolog Harvard terkemuka, yang
menelusuri jejak-jejak Illuminati dalam sebuah kasus pencurian yang melibatkan
pusat agama Katolik, Vatikan. Seorang peneliti dari Conseil Européean pour
la Recherche Nucléaire (CERN) telah dibunuh dan hasil penelitiannya dicuri.
Antimateri,
itulah hasil penelitian yang dilakukan oleh Leonardo Vetra dengan putrinya,
Vittoria Vetra. Sumber energi terkuat itu mengancam Vatikan dan empat orang
kardinal yang diunggulkan dalam pemilihan paus telah diculik bahkan akan
dibunuh. Robert Langdon berusaha mencari jejak-jejak Illuminati, jejek-jejak
menuju Gereja Pencerahan untuk mengungkap misteri itu.
Menonton filmnya
tidak semenarik membaca bukunya karena ketika sudah difilmkan banyak hal-hal
yang dihilangkan. Alur cerita baik dalam novel maupun dalam film sama. Yang
menjadikannya berbeda adalah ketika cerita tersebut tertuang dalam bentuk film,
cerita yang disajikan akan menjadi kurang mendetail. Menurut saya media film
tidak mampu memvisualisasikan buku setebal 680 halaman ini. Tidak semua
kejadian dalam novel dapat divisualisasikan ke dalam bentuk film.
Dengan membaca
novel kita bisa membayangkan sendiri bagaimana kejadian-kejadian yang terdapat
di dalam novel tersebut. Berbeda ketika kita ingin membuat film dari sebuah
novel. Kita akan terbentur dengan berbagai masalah, misalnya dengan kisah-kisah
itu sendiri. Banyak kejadian-kejadian yang terdapat di novel tidak ada di film.
Misalnya saja
tokoh Maximilian Kohler, Direktur Jendral CERN, tidak dimunculkan dalam filmnya
padahal tokoh ini merupakan tokoh penting dalam Malaikat dan Iblis. Dalam
novelnya, Kohler adalah yang pertama kali menemukan mayat Leonardo Vetra.
Sedangkan dalam filmnya, yang menemukan Leonardo Vetra adalah putrinya sendiri,
Vittoria.
Dikisahkan pula
dalam novel Vittoria sedang mengadakan penelitian biologi di Laut Balearic dan
dalam film tidak dikisahkan demikian. Dalam film, kisah ini dibuka dengan
kegiatan di CERN dan Vittoria ada di dalamnya.
Hal lainnya yang berbeda adalah posisi mayat Leonardo Vetra. Dalam novel
digambarkan tubuh Leonardo Vetra ditelanjangi, dicap dengan lambang Illuminati
dan kepalanya diputar 180°, tapi di dalam film mayat Leonardo Vetra masih menggunakan
pakaian dan kepalanya tidak diputar 180°. Dan yang paling berbeda adalah ketika
dibukanya rahasia dibalik pencuri antimateri tersebut.
Dalam novelnya,
Kohler mendatangi Camerlengo, orang kepercayaan paau, dan membuka rahasia
pencuri antimateri tersebut. Kejadian di ruangan itu direkam dengan menggunakan
kamera kecil yang terdapat di kursi roda Kohler. Tetapi pada filmnya, yang
membuka rahasia itu adalah Komandan Olivetti dan kejadian di ruangan itu direkam
dengan menggunakan kamera keamanan yang diam-diam dipasang di ruangan itu. Saya
menganggap bagian yang berbeda itu menarik karena sutradaranya ditantang untuk
memindahkan sebuah kisah novel ke dalam film dengan imajinasi dan kreasinya
semaksimal mungkin, dan itu tidak mudah.
Karakter
tokoh-tokoh dalam film Angels and Demos menurut saya tidak sekuat yang
ada di dalam novel. Mungkin pemerannya belum bisa masuk ke dalam tokoh sehingga
tokoh-tokoh yang dibawakan tidak sesuai dengan yang ada di novel. Pemilihan
peran begitu penting agar tokoh yang dibawakan dapat sesuai dengan yang
diharapkan. Seperti peran pembunuh bayaran, hassassin.
Dalam novelnya
sosok hassasin diceritakan berdarah timur tengah, berbadan tegap, dan
kuat. Tetapi dalam filmnya saya tidak menemukan sosok yang sama. Dalam bayangan
saya sosok hassassin berkulit cokelat, nyaris hitam, dengan pandangan
mata yang tajam. Tetapi dalam filmnya sosok hassassin berkulit putih,
badannya seperti tidak kuat, dan menggunakan kacamata. Memang kacamata tidak
bisa diidentikkan dengan bukan seorang pembunuh, namun menurut saya peran hassassin
dalam film tidak tepat.
Dan Brown selalu
memulai novelnya dengan ketegangan, namun ketegangan itu tetap ada sampai akhir
cerita. Konflik selalu diperkenalkan di awal dan kisahnya tidak dapat
ditebak-tebak. Ternyata dalam novel setebal 680 halaman ini hanya memuat kisah
dalam satu hari saja. Hal ini saja sudah membuat saya terpukau dan
bertanya-tanya tentang kebenaran di dalamnya. Seperti ketika saya membaca
buku-bukunya yang lain, saya merasa tertantang untuk mengetahui lebih banyak
tentang yang diutarakan pengarang dalam karyanya.
Membaca novel
ini menggugah saya untuk lebih jauh mengenal persaudaraan kuno, Persaudaraan
Illuminati. Illuminati adalah sebuah persaudaraan kuno yang pernah ada dan
diyakini masih tetap ada sampai sekarang walaupun tidak ada bukti-bukti nyata
keberadaan persaudaraan ini sampai saat ini. Illuminati berarti Pencerahan
Baru. Para penganut Illuminati disebut
Illuminatus yang berarti Yang Tercerahkan.
Illuminatus
adalah orang-orang yang mencari jawaban apa yang disebut agama sebagai misteri
Tuhan. Menurut mereka dengan ilmu pengetahuan tidak ada lagi misteri Tuhan,
semua ada jawabannya. Sejak saat itu Illuminatus diburu oleh para kaum gereja.
Mereka diburu dan diberi cap salib di dada mereka baru kemudian dibunuh.
Illuminati kemudian bergerak dari bawah tanah sebagai sebuah kelompok rahasia
yang paling dicari oleh gereja.
Para Illuminatus
yang melarikan diri kemudian bertemu dengan kelompok rahasia lainnya yaitu
kelompok ahli batu yang bernama Freemasonry atau lebih sering disebut sebagai
Kelompok Mason. Persaudaraan Illuminati berkembang di bawah naungan Kelompok
Mason tanpa diketahui oleh kelompok tersebut. Bahkan Persaudaraan Illuminati
jauh lebih kuat dan berkembang dibandingkan oleh Kelompok Mason.
Saya juga
tertarik dengan Kelompok Mason. Setelah mengunduh di internet, saya semakin
tercengang ketika membaca bahwa ternyata di Indonesia
pun terdapat tokoh-tokoh Kelompok Mason. Kelompok ini di Indonesia
lebih dikenal dengan kelompok pemuja setan. Sejak zaman pemerintahan Presiden
Soekarno, gerakan ini dilarang di Indonesia.
Yang menarik
lainnya adalah sudut pandang pengarang dan latar tempat. Sudut pandang
pengarang adalah sudut pandang persona ketiga, “dia” mahatahu. Pengarang
menempatkan dirinya sebagai yang mahatahu melalui tokoh-tokoh penting, misalnya
tokoh Robert Langdong, Kohler, dan pembunuh bayaran. Dengan alur yang tidak
mudah ditebak dan penceritaan yang khas membuat novel ini menarik. Lalu latar
tempat yang disajikan begitu memukau.
Banyak tempat
yang dijadikan latar karena tokoh utamanya selalu berpindah-pindah bahkan ke
tempat yang tidak boleh dikunjungi oleh umum. Disajikan pula seni-seni Eropa
yang memukau, seni patung dan seni lukis. Meskipun saya belum pernah melihat
patung-patung dan lukisan-lukisan yang diceritakan, saya dapat membayangkan
keindahannya karena diceritakan dengan mendetail.
Setelah membaca
beberapa novel Dan Brown, saya kemudian bertanya-tanya sebenarnya siapakah Dan
Brown tersebut karena di setiap novelnya Dan Brown menyajikan fakta-fakta yang
mencengangkan. Kebanyakan fakta yang diungkapkan adalah fakta yang negatif
sehingga bukunya menjadi buku yang fenomenal. Menulis novel dengan berbagai
fakta yang diungkapkan pasti harus melalui berbagai penelitian dan memperluas
referensinya.
Jadi, setelah
saya membandingkankan novel dan film Malaikat dan Iblis karya Dan Brown,
dapat ditarik kesimpulan bahwa sebuah novel yang kemudian diadaptasi ke media
film ternyata tidak dapat mengisahkan dengan detail seperti di dalam novel.
Media film tidak dapat memvisualisasikan imajinasi pengarang yang begitu luas.
Namun, perbedaan itu dibuat dengan teliti sehingga tidak mengubah alur cerita
yang disajikan.
Subscribe to:
Posts (Atom)



