Di antara kalian, pernah ngga dulu diberitahu kalau menelan biji buah nanti di perutnya akan tumbuh pohon buah itu? Saya dulu pernah diceritakan tentang hal itu dan tentu saja sebagai anak kecil saya percaya pada informasi itu.
Sebenarnya banyak hal-hal yang dulu sangat menakutkan dan kita percayai menjadi hal yang lucu ketika kita sudah tahu kebenarannya. Contoh lain, kalau pegangan tangan atau ciuman nanti bisa hamil. Hahaha...
Baru saja tadi, beberapa saat sebelum saya menulis di sini, saya mengingat tentang biji buah. Saya sedang menikmati makan buah kemunting. Eh. ada yang tahu buah kemunting itu apa? Nih, saya beri fotonya.
Sekilas wujud buah ini mirip duku, tapi ketika dipencet, lebih lunak. Isinya seperti gambar dua. Terdiri dari tiga buah, atau ada yang lima buah isi. Bijinya kecil dan tipis, seperti biji sirsak. Airnya banyak dan rasanya manis. Buah ini dibawa oleh saudara saya dari Bangka, dan saya memang belum pernah menemukan buah ini di daerah sini.
Saat senang asyik menghisap sari buah kemunting, tidak sengaja bijinya saya telan. Entah kenapa saya tiba-tiba panik dan berpikir, "Wah, nanti bakal tumbuh pohon kemunting nih di perut." Setelah tersadar, bahwa saya sempat berpikir demikian, langsunglah saya tertawa dan menyadari kebodohan saya. Ternyata cerita rekaan semasa kecil masih terbawa sampai sekarang.
Informasi yang didapat sejak kita anak-anak memang merupakan landasaan dari informasi-informasi yang kita cerna selanjutnya. Tapi saya tidak menyangka, di alam bawah sadar saya, saya masih mempercayai kalau menelan biji buah maka nanti pohon buahnya akan tumbuh di perut. Hahaha...
Saturday, April 14, 2012
Tuesday, April 10, 2012
Kabar Baik, Semoga Baik
Pada akhirnya, saya bisa menyampaikan kabar baik itu. Dengan tawa lebar bercampur rasa malu. Terlalu terlambat memang, tapi ini waktu punya saya.
Akan menjadi kabar yang lebih baik ketika nanti saya sudah melaluinya dengan baik.
Doakan saya, kawan. Doakan saya. Semoga baik. Semoga baik.
Akan menjadi kabar yang lebih baik ketika nanti saya sudah melaluinya dengan baik.
Doakan saya, kawan. Doakan saya. Semoga baik. Semoga baik.
Catatan 27 Maret 2012
Ola! Setelah sekian lama saya ngga curhat di blog ini, kini saya muncul lagi. Hahaha... Apa sih? Catatan kali ini sudah kelewat lama tersimpan dan baru sempat saya post hari ini. Mungkin agak sedikit basi, tapi karena catatan ini memang saya tulis untuk blog, jadi yah di sinilah dia.
Heidegger mengatakan (dalam Budiman, 2007: 62)
bahwa kita gembira dan menjadi bahagia seperti juga mereka; kita membaca dan
menilai kesusasteraan seperti cara mereka membaca dan menilainya; kita menjadi
terkejut tentang hal-hal yang mereka anggap mengejutkan. Mereka, yang
dalam kenyataannya kita tidak tahu siapa, adalah salah satu bentuk dari bereksistensi
kita.
Ini adalah cara bereksistensi dari kebanyakan
orang yang oleh Heidegger disebut dengan istilah Das Man. Hidupnya
hanyalah mengikuti “seperti yang dilakukan oleh semua orang” dan kalau kita
tanyakan kepada tiap orang yang ada, ternyata tiap orang ini mengikuti “semua
orang” ini. Sehingga “semua orang” ini sama dengan “tidak seorang pun”, dia
hanyalah alasan untuk membenarkan cara bereksistensi kita, yang menolak
kemerdekaan (Budiman, 2007:62).
Dua paragraf di atas kemudian menjadikan
tulisan ini begitu berat dan mungkin terasa pintar. Pakailah kutipan yang
meyakinkan, voila, jadilah tulisan ini begitu serius. Tapi saya yakinkan
kalian, isi tulisan ini jauh dari pintar dan tidak ada kaitannya dengan
pembahasan eksistensi apa pun. Tulisan ini lebih banyak berisi rasa kesal dan
kegelisahan saya semata.
Hari ini, 27 Maret 2012, Indonesia bertemu
lagi dengan ribuan atau mungkin puluh ribuan atau mungkin ratus ribuan pendemo yang bisa jadi terlihat lebih banyak karena bercampur baur dengan aparat keamanan,
media, orang-orang yang numpang lewat, dan mereka yang sekadar ingin tahu. Aksi
demo diadakan untuk menentang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Dan
saya, tidak akan ikut-ikutan merasa pintar berkomentar tentang itu.
Saya sadari saya pura-pura bodoh (atau memang
benar-benar bodoh) untuk mengerti mengapa BBM harus naik ataukah mengapa BBM
tidak boleh naik. Ruang lingkup saya kecil, hanya empat dinding ini yang
senantiasa menemani saya sepanjang hari, setahun belakang. Saya toh tidak mau
ambil pusing terhadapnya karena sudah cukup banyak orang-orang yang rela
berpusing-pusingan untuk memikirkannya.
Jika kalian bilang harga minyak mentah dunia
naik, saya akan mengerenyitkan alis. Hal itu di luar pengetahuan saya. Dunia
lebih luas dari yang saya bisa jangkau, jadi untuk apa saya berusaha menjangkau
apa yang tidak perlu saya jangkau. Jika kalian bilang seribu, lima ratus, atau
berapa rupiah pun itu berharga bagi orang banyak, begitu pula dengan saya. Bagi
saya, kehilangan seratus rupiah berarti kehilangan seribu rupiah. Apa artinya
sembilan ratus jika tidak ada seratus rupiah?
Mengarah pada perkataan Heidegger di atas,
itulah yang terjadi beberapa hari belakangan. Lini masa Twitter penuh
dengan kata-kata BBM, demo, mahasiswa, aparat, koalisi, dan sebagainya dan
sebagainya. Tidak mengherankan kemudian saya menjadi muak membaca lini masa
yang berisi pikiran-pikiran dan caci-maki para kawan. Mereka kemudian menjadi
merasa pintar telah masuk ke ranah itu. Saya sendiri termasuk orang
mencaci-maki mereka yang berkomentar tentang itu.
Kalian berpikir, salah siapa punya Twitter,
untuk apa ikut campur pada urusan mereka, dan unfollow saja cukup. Tidak
bagi saya. Karena mereka berhak mengeluarkan pendapat mereka, saya juga berhak
mengeluarkan pendapat saya di lini masa tersebut. Mereka beramai-ramai berkomentar karena yang lain berkomentar dan
saya pun berkomentar karena yang lain juga berkomentar. Saya toh termasuk mereka.
Apa yang menjadi kegelisahan mereka juga
menjadi kegelisahan saya, tapi nyatanya kegelisahan saya jauh lebih dalam dari
mereka. Kegelisahan saya berbeda. Sejarah menjadikan semuanya tidak bisa saya
nikmati.
Ketika isu kenaikan BBM dan demo meruak,
muncul pula orang-orang yang tidak bertanggungjawab menyebarkan isu pengulangan
Mei 1998. Membaca “Mei 1998” saja sudah membuat perut saya bergejolak, membuat
saya berdebar-debar, dan sulit tidur. Bagi mahasiswa dan aparat, Mei 1998
tentang anarkis. Bagi saya, Mei 1998 sebuah sejarah yang tidak mau kembali saya
ingat.
Media komunikasi yang semakin canggih kemudian
menjadikan setiap isu berkembang, lebih berkembang dari tangan ke tangan.
Inilah yang dilakukan oleh orang-orang yang tiba-tiba muncul atas dasar agama
dan suku. Mereka dengan seenak jidatnya berlaku seperti orang tidak beradab.
Membuat tulisan-tulisan menghasut, menjadikan orang-orang mencaci-maki dan
mengeluarkan sumpah serapah yang paling kotor, dan mereka mungkin hanya
tertawa-tawa melihatnya.
Saya begitu kesal pada seorang teman yang
mengirimkan berita akan adanya isu pembantaian beberapa suku pada hari ini.
Orang yang membuat isu itu bodoh, tapi lebih bodoh lagi teman saya yang
menyebarkannya tanpa membaca dan mengkritisinya lebih jauh. Namun, jika dia
saya katakan bodoh, maka masih banyak orang bodoh lain yang sama
terpengaruhnya.
Tidak heran kemudian saya menjadi muak melihat
isi lini masa yang berlomba-lomba menelurkan kalimat-kalimat paling bijak atau
kalimat-kalimat yang dirasa mencerminkan masa sekarang. Tidak melihat lini
masa, saya tidak tahu berita, membuat saya lebih cemas membayangkan hal yang
tidak-tidak. Melihat lini masa, mau takmau berita bercampur dengan
komentar-komentar para kawan. Serba salah.
Kegelisahan saya berbeda dengan kegelisahan
mereka. Kami sama-sama gelisah. Tapi jika BBM tetap naik atau tidak naik,
kegelisahannya akan hilang. Akan ada hasil akhir yang sudah ditetapkan. Toh
kegelisahan mereka hanya di permukaan. Kegelisahan saya bercampur dengan rasa
takut dan muak dengan keadaan. Ketika nanti ternyata BBM naik dan banyak orang
tidak setuju, demo berjalan lagi. Dan terus dan terus dan terus. Dan saya akan
terus gelisah.
Banyak yang mungkin tidak mengerti kegelisahan
yang saya rasakan. Toh katanya masa itu sudah lama berlalu. Di alam bawah sadar
saya mereka tidak pernah berlalu. Banyak masa kecil saya yang tidak bisa saya
ingat, tapi kenangan ketakutan pada saat itu malah tidak bisa saya lupakan.
Tidak usah ikut-ikutan merasa yang paling
pintar. Saya membenahi diri sendiri saja susah. Tapi nampaknya banyak orang
yang sudah hidup dalam kebenaran yang dianggapnya paling benar.
Semua berubah. Waktu menjadikan manusia
berubah. Tapi tidak disangka, menjadi dewasa malah membawa perubahan yang tidak
pernah saya bayangkan. Yah, apa yang saya baca dengan apa yang mereka baca
berbeda. Saya tenggelam dalam kisah-kisah petualangan anak-anak, dan mereka,
entah apa. Mungkin, saya saja yang tidak berkembang.
___________________
Budiman, Arief. 2007. Chairil Anwar Sebuah
Pertemuan. Tegal: Wacana Bangsa.
Tuesday, March 20, 2012
Sapardi Djoko Damono, 72 Tahun
Selamat ulang tahun Sapardi Djoko Damono. Usiamu genap 72 tahun. Dan aku masih tetap menantikan datangnya cinta lewat puisi-puisi magismu.
Selamat mengulang tahun. Semoga panjang usia dan panjang jiwamu. Titip salam untuk wajah senja yang selalu baru.
NB: Semoga ini penghabisan *memandang Kolam dengan penuh harapan
Monday, March 19, 2012
The Golden Road - Lucy M. Montgomery
Tidak saya duga ternyata buku yang saya beli
di toko buku itu merupakan kelanjutan dari The Story Girl. Padahal buku
ini, The Golden Road, saya pilih karena harganya masih dapat saya
jangkau dan karena saya merasa “mengenal” pengarangnya, Lucy M. Montgomery.
Hahaha.. Agak bodoh sebenarnya, kenapa saya tidak ingat bahwa Lucy M.
Montgomery adalah pengarang The Story Girl.
Buku ini masih menceritakan Gadis Dongeng dan
sahabat-sahabatnya. Kisah ini dimulai dengan rencana mereka membuat sebuah
majalah. Setelah disepakati, mereka memberi nama majalah mereka Our Magazine.
Isi majalah itu bermacam-macam, dari kisah fiksi, tips rumah tangga, sampai
humor.
Berbagai kejadian seru pun menarik saya masuk
ke dalam petualangan mereka. Ikut berjalan-jalan bersama anak-anak itu dalam
setiap kunjungan dari rumah ke rumah. Ikut menikmati cerita-cerita yang keluar
dari mulut Gadis Dongeng.
Satu cerita yang diceritakan oleh Gadis
Dongeng yang saya sukai adalah tentang Buluh yang Mendesah. Begini
ceritanya.
Itu kisah yang sangat sederhana, yaitu tentang
buluh ramping cokelat yang tumbuh di tepi kolam hutan dan selalu merasa sedih
dan mendesah karena tidak bisa mengeluarkan musik seperti sungai, burung, dan
angin. Segala sesuatu yang terang dan indah di sekitarnya mengejek dan
menertawakannya. Siapa yang akan mencari musik di dalam makhluk biasa, cokelat,
dan tidak indah seperti buluh itu? Tapi, suatu hari seorang pemuda datang
melewati hutan; dia setampan musim semi, dia memotong si buluh cokelat dan
membentuknya sesuai keinginannya; kemudian dia meletakkannya ke bibirnya dan
meniupnya; dan, oh, musik mengambang melalui hutan ini! Musik itu sedemikian
memikat sehingga segala sesuatu—anak sungai, burung, dan angin—terdiam untuk
mendengarkan. Belum pernah sesuatu yang begitu indah terdengar; itu adalah
musik yang telah sekian lama terkurung dalam jiwa si buluh yang mendesah dan
akhirnya dibebaskan melalui rasa sakit dan penderitaannya. (274-275)
Saya yang selalu suka dengan cerita dongeng dapat
membayangkan ternyata itu cerita dari pohon-pohon bambu yang mengeluarkan suara
desahan.
Tapi, tidak semua yang indah akan berakhir
indah. Di akhir buku ini dikisahkan bahwa Gadis Dongeng harus pergi bersama
ayahnya ke Perancis. Pada akhirnya mereka hanya dapat mematri setiap kenangan
indah di masa kecil mereka dan di sisi lain harus tumbuh menjadi orang-orang
dewasa.
Catatan 16 Maret 2012
Entah mengapa tiba-tiba malam ini saya
berpikir tentang umur dan kedewasaan. Mungkin karena buku yang saya baca,
mungkin pula karena film yang saya tonton, atau karena diskusi singkat dengan
seorang teman. Semua menyangkut masalah umur dan kedewasaan.
Saya selalu yakin bahwa tidak semua orang yang
semakin tua, semakin dewasa pula dirinya. Saya selalu yakin bahwa dewasa itu
paksaan, bukan pilihan. Jika boleh memilih, mungkin banyak orang yang memilih
menjadi anak-anak. Tapi toh hidup tidak selalu memberikan banyak pilihan.
Rasa-rasanya baru kemarin saya takut
menghadapi umur 20. Saya masih ingat malam itu, 17 Februari 2008, saya bertanya
pada seorang senior yang umurnya delapan tahun lebih tua, apa rasanya menjadi
orang yang berumur 20. Reaksi pertama yang dia berikan adalah tawa. Saya rasa
saya mengerti mengapa dia tertawa. Pertanyaan itu pasti pertanyaan konyol yang
pernah didengarnya. Mungkin ketika ada seorang yang bertanya pertanyaan seperti
itu pada saya, saya juga akan tertawa.
Lalu dia berkata bahwa hidup itu untuk
dijalani. Tidak ada bedanya ketika kamu berumur 19 atau 20 tahun. Dan ternyata
dia benar. Hanya perubahan angka, dari 1 menjadi 2, dan itu bukan perbedaan
yang besar nyatanya.
Tidak semua hal yang ada di sekeliling kita
harus berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Saya selalu mengingatkan
diri saya bahwa saya tidak boleh menjadi senior yang dulu saya maki-maki karena
tidak bisa mengerti apa yang saya dan teman-teman saya inginkan. Jika sekarang
saya seperti mereka, apa bedanya saya dengan mereka yang dulu saya maki-maki. Setiap
orang punya masanya. Dan tidak setiap masa dapat berjalan beriringan. Manusia
toh diciptakan dengan isi kepala yang berbeda bukan? (Sumpah, ini sok dewasa
banget!)
Yah, saya masih dalam tahap penjajakan pendewasaan.
Saya masih berjiwa anak-anak, tapi saya kadang suka menjadi dewasa. Atau suka
menjadi sok dewasa? Hahahaha...
Hmmm.. Pilihan yang paling menyenangkan
mungkin menjadi dewasa tanpa melupakan sisi anak-anak :D
NB: Kata siapa galau itu cuma buat “ababil”?
Ngga percaya? Liat aja isi lini masa Twitter, atau Facebook, atau
media sosial kalian yang lain :P
Ilana Tan
Pantas saja jika keempat novel Ilana Tan, Summer
in Seoul, Autumn in Paris, Winter in Tokyo, dan Spring in London,
begitu banyak dinikmati pembaca sekarang karena buku-buku ini begitu ringan dan
menyenangkan untuk dibaca. Tokoh-tokoh dalam keempat novel ini saling
berkaitan, jika digambarkan dapat membuat lingkaran sempurna.
Siapa yang tidak tahu Seoul. Kebudayaan Korea
Selatan sekarang sedang digandrungi, tidak hanya oleh remaja-remaja, bahkan
orang tua pun banyak yang menggandrungi artis-arti dari Korsel. Mulai dari
drama, boyband, girlband, dan band dari Korsel terkenal ke seluruh
penjuru bumi. Bisa jadi karena kegandungan inilah yang membuat Ilana Tan
menjadikan Seoul sebagai latar penulisan bukunya yang pertama.
Kesamaan dari keempat novel ini adalah keempat
tokoh utama wanitanya adalah keturunan Indonesia. Ibu dari kempat tokoh ini
orang Indonesia. Dalam Summer in Seoul, tokoh Han Soon-Hee atau Sandy
mempunyai ibu orang Indonesia dan ayah orang Korea. Dalam Autumn in Paris,
tokoh Tara Dupont mempunyai ibu orang Indonesia dan ayah orang Paris. Tokoh
Sandy dan Tara adalah saudara sepupu. Dalam Winter in Tokyo dan Spring
in London, tokoh utama wanitanya
adalah anak kembar, Ishida Keiko dan Ishida Naomi yang mempunyai ibu orang
Indonesia dan ayah orang Jepang.
Benang merahnya, dalam Summer in Seoul,
Sandy memiliki sepupu bernama Tara yang akan menjadi tokoh utama dalam Autumn
in Paris. Tokoh utama laki-laki dalam Autumn in Paris, Tatsuya
Fujisawa, bertetangga di Jepang dengan Ishada Keiko yang akan menjadi tokoh
utama dalam Winter in Tokyo. Keiko memiliki kembaran benama Naomi yang
akan menjadi tokoh utama dalam Spring in London. Dan tokoh utama
laki-laki dalam Spring in London, Danny Jo bersahabat dengan Jung
Tae-Woo yang merupakan tokoh utama laki-laki dalam Summer in Seoul. Benang
merahnya berbentuk lingkaran bukan? Semoga kalian tidak pusing membacanya :D
Membaca keempat novel ini seperti menonton
sebuah drama. Semua temanya berputar pada masalah cinta dan masa lalu, tema
yang tidak pernah bosan untuk dibahas. Ceritanya tidak jauh-jauh dari
drama-drama Korea yang pernah saya tonton. Bahkan ada yang mengingatkan saya
pada sinetron Indonesia: hilang ingatan :D
Dari keempat novel ini, saya lebih memilih Summer
in Seoul dan Winter in Tokyo karena kedua buku ini lebih ceritanya
lebih orisinal dibandingkan dua yang lain, meskipun banyak sekali kebetulan
yang terjadi.
Sekarang banyak sekali pilihan ketika kita
ingin membaca. Jika tidak ingin berhadapan dengan sesuatu yang rumit, kalian
bisa saja memilih novel-novel ini sebagai bacaan ‘sekali duduk’ (saya membaca
keempat novel ini dalam satu hari, dari siang sampai malam!). Tapi jika tidak
suka kisah-kisah sentimental dan mengada-ada, sebaiknya kalian jauhkan
novel-novel ini karena kalian akan gemes ketika membacanya.
Tuesday, March 13, 2012
Jody dan Anak Rusa - Marjorie Kinnan Rawlings
Pengarang: Marjorie Kinnan Rawlings
Tebal: 504 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2011
The Yearling karya
Marjorie Kinnan Rawlings memenangkan Pulitzer Prize pada tahun 1939.
Judul buku ini kemudian diterjemahkan menjadi Jody dan Anak Rusa dalam
bahasa Indonesia.
Ketika kita membaca buku ini, kita akan dibawa
ke masa ketika rumah tidak terjamah teknologi, sistem keuangan masih mengenal
barter, dan berkuda menjadi sarana transportasi yang utama. Kita dibawa
menjelajah hutan-hutan dan dikenalkan pada kehidupan pertanian pada akhir tahun
1800-an di Florida.
Jody, 12 tahun, adalah anak laki-laki dari
pasangan Baxter. Jody anak satu-satunya, anak yang bertahan setelah sekian
banyak anak yang harus dikubur Pa dan Ma Jody di lahan pertaniannya. Kakak-kakak
Jody yang lain tidak dapat bertahan. Ada yang keguguran, ada yang meninggal
setelah beberapa hari menghirup udara kehidupan.
Karena kehilangan banyak anak, Ma Baxter
menyayangi Jody dengan cara yang berbeda. Ia begitu keras pada Jody. Ia menutupi
rasa sayangnya dengan tameng omelan-omelan tiap harinya. Berbeda dengan Pa. Pa begitu
menyayangi Jody. Dengan sabar Pa mengajari banyak hal pada Jody. Dari
baca-tulis sampai berburu. Dan berburulah yang menjadi pelajaran yang paling
Jody nanti-nantikan.
Pertanian tempat mereka tinggal dinamai Pulau
Baxter. Lahan itu dikelilingi hutan yang penuh dengan hewan-hewan liar, rakun,
rusa, kucing hutan, macan kumbang, kalkun liar, serigala, beruang, dan
sebagainya. Dari sanalah sumber makanan mereka dapatkan.
Tapi Pa Baxter bukan orang yang rakus. Ia seorang
pemburu yang baik. Ia hanya memburu untuk makan, bukan untuk memuaskan hasrat
seorang pemburu, seperti tetangganya, keluarga Forrester. Forrester begitu
berbeda dengan Baxter. Badan mereka besar-besar, anak-anak yang dilahirkan
banyak, kulit mereka lebih gelap, dan mereka rakus. Karena hidup mereka lebih
mapan dibandingkan Forrester, mereka lebih banyak berburu karena kesenangan
semata.
Hari-hari berburu adalah hari yang dinantikan
oleh Jody. Dengan senapan tuanya, yang
bahkan ketika diletuskan bisa membuat tubuh kecil Jody terjungkal, ia
belajar menjadi seorang pemburu kecil yang bijak. Begitu bangganya ketika
pulang ke rumah Jody bisa membawa hasil buruan untuk makan mereka beberapa
minggu ke depan.
Ada satu beruang yang menjadi musuh utama
keluarga Baxter dan Forrester. Beruang itu diberi nama Slewfoot Tua. Slewfoot begitu
meresahkan mereka karena sering kali mencuri hewan ternak. Ia begitu cerdas
dibandingkan beruang-beruang lainnya sehingga menangkapnya memerlukan usaha
yang lebih. Tapi ternyata Pa dan Jody mampu membunuhnya di malam Natal. Itu menjadikan
kado yang begitu istimewa bagi mereka.
Pada suatu hari, babi-babi ternak Baxter tidak
kunjung kembali ke lahan pertaniannya. Pa mengajak Jody untuk mencari babi-babi
itu. Dengan dua anjing tangguhnya, Julia dan Rip, mereka pun mengikuti
jejak-jejak babi itu. Ketika jalan mengarah ke pertanian Forrester, Pa yakin
bahwa babi-babi mereka masuk ke perangkap yang dipasang keluarga Forrester. Tapi
ada kejadian yang lebih penting dibandingkan mencari babi-babi yang hilang itu.
Pa digigit ular derik. Dengan ketenangan luar
biasa, Pa menembak mati ular itu. Tapi bisa ular segera menjalar. Beruntunglah
Pa. Ada seekor rusa betina dan anaknya takjauh dari tempat mereka. Pa menembak rusa
betina dan menyuruh Jody mengambil hati rusa itu. Hati itu kemudian ditempelkan
pada bekas gigitan. Paling tidak itu bisa mengobati, meskipun maut masih jelas
menempel pada Pa.
Pa memberikan instruksi-instruksi pada Jody. Ia
menyuruh Jody pergi ke pertanian Forrester dan minta tolong pada mereka. Segeralah
Jody pergi ke sana dan minta bantuan. Ternyata tidak semua keluarga Forrester
berhati buruk. Segeralah Buck dan Mill-wheel membantu Jody. Untungnya Pa dapat
selamatkan.
Pikiran Jody sekarang hanya pada anak rusa
itu. Jody membayangkan pasti anak rusa itu sedang kelaparan. Ia memohon pada Pa
agar bisa memelihara anak rusa itu. Sudah lama ia ingin punya hewan peliharaan,
agar ada yang dapat menemaninya bermain dan bercanda. Jody bilang sudah
seharusnya mereka membalas budi pada rusa betina itu dengan cara merawat
anaknya. Dengan persetujuan Pa, Jody pun mencari anak rusa itu.
Kehidupan Jody semakin berwarna dengan adanya
anak rusa itu. Oleh sahabatnya, Fodder-wing, anak rusa itu diberi nama Flag. Fodder-wing
adalah sahabat Jody dari keluarga Forrester. Fodder-wing anak paling kecil dan
terlahir cacat. Kepribadiannya unik, ia begitu suka memelihara hewan-hewan
liar. Karena itulah mereka bisa bersahabat baik. Sayangnya, penyakit
Fodder-wing tidak dapat ditolong. Belum sempat Jody memperkenalkan anak rusanya
pada Fodder-wing, ia sudah meninggal.
Flag tumbuh menjadi rusa jantan yang cantik. Jody
sangat menyayangi Flag. Jody rela mengurangi porsi makannya dan tidak minum
susu agar makanan dan susu itu dapat diberikan pada Flag. Flag menjadi teman
cerita Jody yang paling menyenangkan. Ketika sedang beristirahat, takjarang Pa
dan Ma melihat Jody sedang tidur di bawah pohon bersama Flag.
Tapi ternyata hewan liar tetaplah hewan liar. Semakin
tumbuh dewasa, Flag tidak bisa diajari hal-hal yang seharusnya tidak boleh
dilakukan. Flag sering kali membuat Ma marah, menjatuhi mangkuk-mangkuk berisi
makanan, menginjak ubi yang sedang dijemur, dan yang menjadi puncak kemarahan
Ma adalah ketika Flag memakan tunas jagung yang menjadi sumber makan keluarga
kecil itu. Pa biasanya berada di pihak Jody, namun kali itu Pa tidak bisa
membantunya.
Akhirnya diambil keputusan Jody harus membunuh
Flag di hutan. Tapi, siapa yang bisa membunuh hewan peliharaannya yang telah
disayanginnya dari kecil. Jody memutar otak untuk menyelamatkan Flag. Karena
Jody tidak bisa membunuh Flag, dan Flag kemudian memakan tunas-tunas jagung
lagi, Pa menyuruh Jody masuk ke kamar dan berbicara dengan Ma. Ternyata Pa
menyuruh Ma untuk membunuh Flag. Jody merasa Pa mengkhianati Jody. Ia kabur
dari rumah.
Dalam perjalanan kaburnya, Jody belajar banyak
hal. Ia kelaparan. Ternyata rasa lapar rasanya seperti itu. Perutnya sakit dan
ia berimajinasi duduk di meja makan dengan makanan yang hangat dan enak. Jody
pun akhirnya mengerti mengapa tunas-tunas jagung itu begitu penting bagi Pa dan
Ma. Setelah tiga hari, Jody kembali dan meminta maaf kepada Pa dan Ma.
Membaca buku ini menjadikan kita ikut
merasakan bagaimana kehidupan sederhana keluarga Baxter. Hidup dari lahan
pertanian dan berburu. Kehidupan yang mungkin tidak banyak lagi kenal oleh
masyarakat modern masa sekarang. Dengan penggambaran yang detail, kita bisa
membayangkan apa yang dialami oleh tokoh-tokoh dalam buku ini. Rasanya begitu
menyenangkan dapat berlari bersama Jody dan anak rusanya.
Subscribe to:
Posts (Atom)




