Friday, September 30, 2011

Kenangan Tentang SMP


Saya sering menghadirkan kembali kenangan-kenangan yang menyenangkan ketika saya takdapat lelap. Seperti malam, atau subuh ini. Sekarang pukul 03.30, mata saya masih nyalang. Saya menyerah pada kantuk yang takkunjung datang, padahal sudah dari pukul 00.30 saya bersiap untuk tidur.

Kali ini kenangan yang tiba-tiba muncul adalah kenangan semasa SMP. Ada banyak kenangan yang dapat saya munculkan dari masa-masa itu. Satu-persatu muncul. Wajah-wajah para sahabat muncul. Kejadian-kejadian menarik muncul.

Kenangan pertama yang muncul adalah kenangan ketika saya duduk di bangku kelas 2. Waktu itu saya ditunjuk menjadi ketua kelas. Saya menerimanya karena sewaktu duduk di kelas 1 pun saya menjadi ketua kelas. Kalau tidak salah, di caturwulan ke-3 (seingat saya waktu itu belum sistem semester) beberapa anak lelaki protes kepada wali kelas. Mereka ingin saya turun.

Saya masih ingat kenapa mereka ingin saya turun. Saya sekelas dengan pria jagoan di angkatan saya. Jelas dia seorang jagoan, badannya lebih besar dan lebih kekar. Lagipula ia jago berkelahi (tiba-tiba terlintas lagu Jagoan di film Petualangan Sherina :P). Sang jagoan itu tidak suka dipimpin oleh seorang perempuan, karenanya dia menghasut para lelaki pendukungnya untuk menurunkan saya dari jabatan ketua kelas.

Awal kejadian penurunan jabatan saya karena ocehan salah satu pendukung sang jagoan itu, seorang guru enggan mengajar di kelas saya. Saya sebagai ketua kelas mendatangi guru tersebut dan meminta maaf. Lalu, sekembalinya saya dari ruang guru, di kelas saya memarahi si pendukung sang jagoan itu. Lalu sang jagoan pun turun tangan. Ia tidak suka saya memarahi pendukungnya. Dia marah pada saya. Lalu kami berdua pun adu mulut di depan kelas.

Saya tidak ingat dari mana saya mendapatkan keberanian menantang sang jagoan itu di depan kelas. Di puncak emosinya dia berkata, “Untung lo cewe, kalo ngga udah gw tonjok muka lo!”. Hahahaha... Sungguh, kalau diingat itu kejadian lucu! Saya bahkan masih ingat teman-teman dari kelas lain sampai keluar dari kelasnya dan menonton ‘pertunjukan’ saya dan sang jagoan. Padahal saat itu pelajaran sedang berlangsung. Bahkan guru yang sedang mengajar pun muncul di balik jendela ruang kelas saya. Saya lupa bagaimana adu mulut itu berakhir, tapi saya ingat setelah kejadian itu saya mendatangi wali kelas dan saya minta mundur. Saya katakan lebih baik sang jagoanlah yang menjadi ketua kelas. Lagipula memang itu yang diinginkan teman-teman yang kontra pada saya.

Lalu, hal serupa pernah saya alami ketika di kelas 3. Saya lupa apa alasan saya bertengkar dengan teman lelaki di kelas saya. Tapi dia bukan jagoan. Waktu itu jam istirahat. Saya di sudut kelas yang satu dan dia di sudut kelas yang lain. Dari masing-masing sudut kami bertengkar. Itu tidak kalah hebohnya mendatangkan penonton, maklum, jam istirahat. Saya dan dia sampai kejar-kejaran di ruang kelas. Saya bahkan mulai melemparkan benda-benda yang dapat saya jangkau. Sayangnya tidak kena. Sampai akhirnya saya mengambil sebuah kursi, pertengkaran itu pun dihentikan oleh teman-teman lain yang mulai gelisah. Hahahaha... Lucu!

Bahkan sampai sekarang saya heran kenapa dulu saya bisa bertengkar dengan dua lelaki ketika SMP. Biasanya teman-teman perempuan saya bertengkar dengan teman-teman perempuan lainnya. Wah, itu tidak kalah serunya! Tapi ternyata saya lebih memilih bertengkar dengan dua orang lelaki. Dan karena saya perempuan, saya menang. Mereka tidak berani kepada saya. Hahahaha...

Kenangan lain yang muncul adalah kenangan di akhir kelas 3. Entah kerasukan apa, saya dan dua orang teman saya memutuskan untuk menyatakan perasaan kepada orang yang kami sukai. Sungguh! Saya tidak tahu kenapa saya seberani itu!

Teman pertama mengungkapan perasaannya lewat wartel di dekat rumah saya. Waktu itu saya menemaninya. Setelah telepon ditutup, wajahnya sumringah. Dia lega meskipun pria itu tidak merasakan hal yang sama. Paling tidak ia lega karena ia sudah mengutarakan perasaannya.

Tinggalah saya dan seorang teman. Kami putuskan kami akan memberi surat cinta (cieeelaaaahhh...) pada saat acara perpisahan. Dan bodohnya saya, saya lupa membawa surat yang sudah saya persiapkan itu! Benar-benar lupa! Mungkin saking gugupnya surat itu tidak terbawa oleh saya. Teman saya berhasil memberikan suratnya dan ternyata jawabannya pun sama, ia ditolak. Tapi, wajahnya tetap sumringah. Ia lega.

Tersisalah saya seorang. Awalnya saya ragu akan memberikan surat itu atau tidak pada teman yang sudah saya sukai sejak kelas 5 SD. Bayangkan! Saya suka pada orang yang sama selama lima tahun! Hahahaha... Tapi karena merasa tidak enak kepada dua orang teman saya itu, saya putuskan untuk memberikan surat ketika penandatanganan ijazah.

Saya masih ingat cara saya memberikan surat itu. Waktu itu dia sedang berjalan masuk ke ruang penandatanganan ijazah. Dengan cepat saya panggil namanya dan saya berikan surat itu. Saya tidak tahu apakah banyak teman yang menyaksikan atau tidak. Saya terlalu gugup. Bahkan setelah menyerahkan surat, saya langsung lari ke arah yang berlawanan. Saya ingin tertawa terbahak-bahak sekarang, tapi karena sudah pukul 04.00 saya tahan tawa saya. Bhahahahahahahahaha...

Karena perjanjiannya hanya menyatakan perasaan, surat yang saya tulis itu isinya memang hanya pernyataan rasa suka saya. Seingat saya, saya tidak menuliskan ingin tahu apa perasaannya pada saya. Intinya setelah kejadian itu saya lega dan saya jadi gelisah. Mungkin rasa gelisah saya itu datang dari pernyataan yang satu arah. Kedua teman saya tahu jawaban atas pernyataan mereka dan saya tidak. Gelisah saya kemudian jadi rasa canggung ketika bertemu dengan teman yang saya beri surat.

Tapi rasa canggung itu sudah hilang sekarang. Ketika bertemu dengan teman saya itu, saya sudah biasa saja. Kadang saya lupa kalau dulu saya pernah menyatakan perasaan saya kepadanya. Kejadian itu toh sudah delapan tahun berlalu. Yang tertinggal hanya rasa lucu dan bingung kenapa saya berani bertindak seperti itu.

Kenangan-kenangan semasa SMP selalu menyenangkan. Banyak hal menyenangkan yang dapat saya ingat. Hal menyenangkan lain, saya akrab dengan beberapa teman lelaki yang kemudian menjadi sebuah kelompok band. Saya yang satu-satunya wanita ditunjuk menjadi manager band itu. Hahahaha... Tugas saya adalah menyimpan uang dari mereka untuk dipakai menyewa studio band. Saya juga bertugas mengontak tempat studio itu. Selain itu ternyata selera musik saya juga diperhitungkan di sana. Saya jadi kritikus di kelompok band saya. Bahkan saya pernah direkrut untuk menjadi manager band teman saya yang lain. Tentu saja saya menolaknya karena alasan persahabatan :D

Saya juga ingat saya pernah diberi sebatang cokelat oleh seorang guru yang dikenal galak. Guru itu tidak tanggung-tanggung main tangan ketika ia marah. Itu tidak patut dicontoh. Tapi entah kenapa saya tidak takut pada guru itu, saya malah menyukainya karena cara mengajarnya menyenangkan. Kagetlah saya ketika suatu jam istirahat, saya ke ruang guru dan diberi sebatang cokelat.

Ah, masih banyak lagi kenangan yang menyenangkan tersimpan di ingatan saya. Mereka akan saya keluarkan satu-persatu. Jika dikeluarkan semua, perut saya bisa keram dan air mata saya bisa terkuras habis karena tertawa.

Selamat pagi! Azan subuh sudah berkumandang tapi saya masih tetap tidak mengantuk. Pokoknya, selamat pagi!

Djati



November ini usiamu akan genap 11 tahun, Djati. Kau beranjak remaja. Tapi langkahmu masih pelan, jalanmu masih tertatih. Takapa, jalan di depan masih panjang. Aku hanya berharap umurmu juga sepanjang jalan-jalan di depan.

Sudah lima tahun saya hidup di dalam Djati dan Djati pun hidup di dalam saya. Sudah begitu banyak pelajaran yang saya terima dari Djati. Rumah ini penuh dengan banyak hal. Banyak pula orang yang sudah lalu-lalang. Lima tahun dalam perjalanan penuh semak dan duri. Lima tahun dalam perjalanan penuh bunga dan aroma manis. Lima tahun ia mencoba bertahan.

Ketika mengenang perjalanan selama lima tahun bersamanya, saya selalu merasa saya rindu. Padahal ia begitu dekat, tapi ia sulit dijangkau. Saya mencoba merangkulnya, tidak sendiri, dan ia tetap terasing sepi dalam sudut remang. Ia terkucilkan. Saya tahu. Saya bisa merasakan kesedihan dan kesendiriannya.

Banyak orang yang sudah hilir-mudik datang silih-berganti. Banyak yang melupakannya, banyak pula yang merindukannya. Banyak pula yang bertanya, “Oh, Djati masih ada?” Ah, ini yang namanya sakit teriris sembilu. Pilu.

Sebegitu taknampakkah ia di mata orang-orang yang mengenalnya? Sebegitu terasingkah dia?

Kini kami yang masih bertahan dan kami yang baru memulai mengenal Djati, berusaha semampu kami untuk menopangnya agar tetap tegak. Kami masih terus membimbingnya berjalan dengan langkah tegap. Kami masih terus sabar menjawab bahwa Djati masih hidup, bahwa ia butuh sentuhan dan perlakuan tidak hanya janji-janji kosong yang menggiurkan.

Saya tahu saya egois. Perihal Djati saya selalu egois. Saya hanya ingin membuatnya selalu bertahan dan mengurangi rasa sakit yang menggerus tubuhnya terus-menerus.

Saya rindu ketika kami latihan kami serius latihan. Kami ingin tahu apa itu teater, apa itu keajaiban yang bisa kami hasilkan dengan organ-organ tubuh kami. Saya rindu pertanyaan-pertanyaan yang mengusik kepala. Saya rindu usulan-usulan yang saking berlimpahnya tidak dapat kami tampung. Saya rindu mereka yang benar-benar ingin hidup di dalam Djati.

Djati bukan hanya tempat persinggahan. Bukan itu yang ia inginkan. Ia ingin mereka menetap, walau sejenak. Ia ingin mereka menyerap apa yang dapat mereka serap. Ia ingin mereka dapat bersatu, dalam satu nafas.

Bagi saya Djati bukan hanya sekadar nama, bukan hanya sekadar perkumpulan, bukan hanya sekadar tempat untuk menunjukan jati diri. Bagi saya ia... Bahkan saya pun takmampu menjelaskan apa arti Djati bagi saya. Akarnya sudah menancap begitu dalam. Gairahnya begitu bergelora dalam semilir darah saya. Mungkin menurut sebagian dari kalian apa yang saya utarakan itu berlebihan, tapi bagi kalian yang mengenal saya dan mengenal Djati, kalian akan mengerti.

Saya senantiasa berharap ia akan hidup sampai tidak terhitung generasi yang dihasilkannya. Saya berharap masih banyak orang yang senantiasa akan membantu ketika ia merangkak menuju ketidakpastian. Saya hanya berharap paling tidak masih ada segelintir orang yang menyayanginya.

Semoga kegelisahan saya tidak beralasan. Saya hanya terlalu sentimen ketika berbicara tentangnya.

Di sini kita bersama melangkah sesuka hati
Takberhenti bagai rumput liar di dalam taman kehidupan

Di sini cerita kita mencoba takmengenal lelah
Mengukir langit nan tinggi selami lautan imaji

Djati, sampaikan diri pada langit harapan
Djati, warnai diri dengan sejuta angan

Di sini rumah sederhana terbuka untuk siapa saja
Berkisah, bersama, takbiarkan mimpi-mimpi mati

(Jingle Djati)

Saturday, September 24, 2011

The Road


Jika bumi ini nanti tidak dapat menghasilkan apa-apa, manusia akan bertahan hidup dengan cara apa pun. Naluri bertahan sudah ada dalam tubuh manusia sejak ia dilahirkan. Ketika ia lapar, ia akan makan. Ketika haus, ia akan minum. Dan nanti, ketika bumi rusak, ketika tidak ada satu pohon pun atau satu hewan pun yang dapat dimakan, manusia mungkin saja memakan sesamanya. Nyatanya, sekarang saja ada manusia yang memakan sesamanya sendiri, meskipun bumi masih memberi kita sumber makanan.

Itulah kisah yang terjadi dalam novel The Road karya Cormac McCarthy. Novel ini memenangkan penghargaan Pulitzer Prize for Fiction 2007. Saya rasa novel ini memang layak untuk memenangkan penghargaan demikian. Berkisah tentang ayah dan anak yang mencoba bertahan hidup, berdua, di jalan.

Tujuan mereka ke selatan. Saya tidak menemukan alasan kenapa sang ayah memutuskan untuk berjalan ke selatan, atau memang saya yang kurang teliti sehingga tidak menangkap maksudnya. Mereka hidup di jalan. Jalan-jalan berdebu, rumah-rumah, rumput, pohon, bahkan manusia yang mereka temukan telah gosong terbakar api. Air yang mengeruh, berubah menjadi hitam. Mereka hanya berdua, ayah dan anak.

Dalam perjalanannya, sang ayah senantiasa memberitahukan hal yang positif kepada anaknya. Saya rasa itu juga membuat dirinya untuk terus berpikir positif. Ketika ia berkata positif, paling tidak aura positif itu tertinggal sedikit dalam pikirannya.

Mereka mencari makan di mana saja. Mereka masuk ke rumah-rumah tidak berpenghuni, ke toko-toko dan tempat-tempat yang sudah habis dijarah sejak bertahun-tahun lamanya. Mengambil apa yang bisa dimakan. Mengambil apa yang bisa digunakan.

Namun, naluri bertahan tidak hanya milik mereka. Di luar mereka berdua, masih banyak juga manusia yang mencoba bertahan hidup. Mereka pemakan manusia. Sang anak pernah memastikan kepada ayahnya bahwa selapar apapun mereka, mereka tidak boleh memakan manusia karena mereka orang baik.

Selama membaca novel ini, saya tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi dengan ayah dan anak itu di lembar-lembar berikutnya. Saya hanya dapat berpikir apakah mereka akan mendapat makanan dan minuman yang layak dan tempat yang aman untuk beristirahat. Saya was-was apakah nanti mereka akan bertemu dengan orang-orang jahat. Saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi di lembar terakhir dalam novel ini. Saya bersama ayah dan anak itu hanya berpikir untuk bertahan hidup selama mungkin.

Lalu, saya teringat dengan sebuah film yang ceritanya hampir mirip dengan novel ini. Judul film itu adalah The Book of Eli. Kata seorang teman, novel The Road juga sudah diadaptasi ke dalam bentuk film, tapi saya belum menontonnya. Saya tidak tahu kebetulan apa yang terjadi antara novel dan buku ini. Yah, mungkin memang hanya sebuah kebetulan.

Film The Book of Eli kurang lebih sama. Tokoh bernama Eli sedang dalam perjalanan ke Barat. Ia membawa sebuah buku, buku terakhir yang ada di bumi, untuk diselamatkan agar berguna bagi manusia-manusia yang hidup pada masa itu. Dalam film itu digambarkan bahwa bumi telah hancur. Rumah, mobil, dan jalan sudah hancur. Dan manusia, seperti layaknya hukum rimba, bertahan hidup dengan cara apapun termasuk memakan sesamanya.

Lebih dalam, film ini menyatakan bahwa benua Amerikalah yang akan membawa perubahan. Kita tahu bahwa barat sendiri diasosiasikan ke sana. Di akhir cerita pun tergambar benua Amerika.

Kemudian saya berpikir, apakah ini hanya sekadar novel dan film ataukah nanti hal ini akan terjadi. Rasa-rasanya tidak sulit membayangkan kisah ini akan menjadi sebuah kisah nyata di tahun-tahun yang akan datang. Kisah bertahan hidup, percaya bahwa masih ada kehidupan yang lebih baik di ujung bumi bagian lainnya. Baiklah sejak sekarang kita hidup selain bertahan hidup untuk diri sendiri dan keluarga, kita juga mempertahankan hidup bumi kita ini. Semoga ini hanya sebuah kisah fiksi yang tidak akan menjadi kenyataan

Pementasan Teater GSSTF

Ketika sedang latihan teater di kampus, secara kebetulan ternyata di kampus saya akan ada pementasan teater hari itu juga. Yang menyelenggarakan GSSTF. Kami putuskan untuk menyaksikan pementasan itu. Benar-benar kebetulan karena kami tidak tahu ada pementasan teater di gedung yang pelatarannya kami buat untuk tempat latihan.

Acara katanya dimulai pukul 19.00, tapi seperti yang kami duga pementasan dimulai sekitar pukul 19.30. Pementasan pertama dengan naskah monolog Mulut karya Putu Wijaya. Pemainnya Deandra S., atau panggil saja Iska.

Iska mengenakan kebaya berwarna hijau daun segar dengan kain samping sebatas lutut dan memakai tas selempang abu-abu kecil, tanpa sepatu atau sendal. Mulutnya tertutup oleh lakban cokelat. Ia membawa sebuah rebana dan ia mainkan ketika layar dibuka. Hal pertama yang mengganggu saya adalah kaos hitam yang dipakainya di balik kebaya. Hal itu mencolok bagi mata saya karena efeknya jadi tidak indah. Padahal kebaya yang ia pakai warnanya indah.

Hal lain yang saya sayangkan adalah tatanan rambut dan riasan wajahnya. Rambutnya hanya diikat satu biasa di belakang kepala, dengan poni yang panjangnya di bawah mata, dibiarkan tanpa dijepit. Saya menebak bahwa ia akan sibuk dengan poninya nanti dan tebakan saya benar. Riasan wajahnya sederhana, yang terlihat hanya sapuan blush-on cokelat di pipi.

Ketika rebana dimainkan, saya lagi-lagi menyayangkan kenapa rebananya hanya dimainkan seperti itu. Katanya ia pengamen, tapi ‘jarak’ antara rebana dengan dirinya sungguh jauh.

Vokalnya kuat, artikulasinya bagus meskipun tempo bicaranya terlalu cepat. Tapi, intonasi suaranya tidak bervariasi. Terlebih ketika ia menjadi tokoh hansip dan perempuan tanpa mulut. Intonasi tiap tokoh tidak ada yang berbeda, yang berbeda hanya ketegasan dan gaya bicara. Lalu, logat Jawa yang dibawakan juga muncul-tenggelam. Hanya sedikit terasa ketika ia berbicara dengan bahasa Jawa, sisanya, ketika berbicara dengan bahasa Indonesia logatnya tidak muncul sama sekali.

Saya lagi-lagi terganggu dengan gerakan tangannya yang membetulkan kumis ketika ia menjadi tokoh hansip. Mungkin kumis itu akan jatuh, tapi gerakan tangannya yang sesekali membenahi kumis sangat mengganggu. Padahal itu bisa diantisipasi, misalnya jadikan itu kebiasaan hansip untuk mengelus kumisnya ketika ia berbicara. Beberapa orang punya kebiasaan seperti menaikan kacamata, yang meskipun tidak melorot itu akan jadi kebiasaan, sama juga dengan kebiasaan mengelus kumis. Lalu, ketika ia tidak menjadi hansip, kembali menjadi tokoh pengamen, dia lupa bahwa pengamen tidak punya kumis, jadi seharusnya ia tidak membetulkan letak kumis tersebut. Kalau toh memang harus jatuh, ya biarkanlah, toh memang waktunya kumis itu harus jatuh.

Saya rasa ia salah tingkah dengan tubuhnya. Hal itu terlihat dari gerakan tangan dan kakinya yang tidak bisa diam. Saya sendiri merasakan hal seperti itu, ketika saya tidak tahu mau diapakan tangan saya, saya kemudian membuat gerakan aneh. Saran saya, pikirkan sebuah motif. Jadikan motif itu alasan untuk bergerak. Kadang itu efektif, itu membantu berkonsentrasi dan itu juga membantu untuk membuat gerakan-gerakan yang tidak perlu.

Setelah pementasan pertama selesai, ada pembacaan cerpen. Seorang perempuan muncul ketika layar dibuka dan ia mengambil mikrofon  yang telah disediakan. Judul cerpen itu saya lupa, pengarangnya Gus T.F..

Saya tidak bisa menikmati sama sekali pembacaan cerpen itu. Perempuan itu terganggu dengan kabel mikrofon yang terbatas. Ketika ia ingin bergerak lebih jauh, ia tidak bisa karena keterbatasan kabel. Padahal saya membayangkan ia akan lebih baik bercerita sambil duduk. Itu akan lebih membuat ia tenang dan membuat fokus pentonton terjaga. Apalagi ia harus membalik kertas yang ia baca.

Lalu, pementasan yang kami tunggu dimulai. Pementasan kedua dengan naskah Pagi Bening karya Serafin dan Joaquin Alvarez Quintro. Sebuah kursi taman diapit dua lampu taman ada di atas panggung. Di sebelah kiri belakang duduk seorang pria yang sedang bermain gitar. Suaranya sayup-sayup bahkan mungkin kurang terdengar.

Ketidaktenangan saya ketika pembacaan cerpen terbayar oleh pementasan kedua ini, meskipun ada saja hal yang mengganggu saya.

Sosok perempuan tua, Laura, muncul dari panggung sebelah kanan, dipapah oleh seorang gadis, Petra. Ia duduk di kursi, di sebelah kiri. Pemain tokoh Laura cakap. Gesturnya baik hanya saja gerak tangannya terlalu lama. Gerak tangan itu bukan gerak tangan seorang yang sudah tua, tapi gerak tangan yang temponya dilambatkan. Hal kecil yang terlupakan, ketika ia menyebarkan remah-remah roti ternyata remah-remahnya tidak cukup banyak menurut saya. Saya bisa hitung hanya ada empat atau lima remah roti yang terlempar dihadapannya, padahal burung yang datang tidak mungkin hanya mendapat satu remah roti untuk satu burung.

Lalu, muncul sosok lelaki tua, Gonzalo, dipapah oleh seorang pemuda, Juanito, dari panggung sebelah kiri. Saya agak terganggu dengan gerak kepala Juanito yang terlalu berlebihan ketika mencari-cari kursi lain di taman. Gerakan statis ke kanan dan ke kiri yang diulang beberapa kali.

Pemain tokoh Gonzalo juga cakap. Sosok lelaki tua keras yang tidak suka mengalah berhasil dimainkan olehnya. Ia duduk di kursi, sebelah kanan.

Lalu, ada hal lagi yang saya sayangkan dari tokoh Laura. Ia tidak dapat mempertahankan tokoh Laura dengan baik ketika penonton mulai bereaksi dengan dialog-dialog yang diucapkannya. Padahal seharusnya ia tidak boleh terpengaruh dan kemudian terlena pada reaksi yang diberikan oleh penonton. Reaksi itu muncul dari senyum di wajahnya yang berubah ketika penonton juga turut tertawa dan berkata (atau mengerang?), “Cieeeeeee...”. Pemain yang baik adalah pemain yang bisa berkonsentrasi dengan tokoh yang dibawakannya agar karakternya tidak berubah menjadi tokoh yang diharapkan oleh penonton.

Lalu, pria yang bermain gitar di kiri belakang panggung terlihat sekali ‘mati gaya’ (saya bingung menggunakan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan apa itu ‘mati gaya’). Ia kentara sekali menunggu dialog-dialog yang tepat untuk dapat memainkan gitarnya. Padahal bisa saja dia asyik dengan gitarnya dan tetap berkonsentrasi dengan dialog. Bukankah dia diletakan di sana sebagai pemusik jalanan?

Lepas dari pementasan, naskah Pagi Bening adalah naskah yang indah dan menyenangkan. Saya sendiri ketika membacanya ingin memindahkan khayalan saya di atas sebuah panggung. Semoga nanti ketika saya siap dan saya mampu, saya dapat merealisasikannya.

Ini hanyalah sebuah pengamatan sederhana dari saya yang menyukai teater. Saya tahu kapasitas saya sebagai orang yang terlibat dalam dunia yang saya sukai ini terbatas. Tapi semoga ini menjadi pembelajaran bagi para penikmat teater dan bagi saya sendiri yang terus ingin memahami teater.

NB1: Permainan lighting kurang halus.
NB2: MC terlihat sombong dan tidak bersahabat :P

Absurd

ab.surd a tidak masuk akal; mustahil (KBBI, 2007:3)


Akibat dari perbincangan dengan seorang teman, saya terpukau dengan kata di atas, absurd. Kami membahas sebuah teater yang baru kami tonton. Lalu kata itu keluar dari mulut saya. Teman saya pun berkata bahwa ia tidak mengerti apa makna absurd yang saya lontarkan. Dia menjelaskan bahwa menurut Camus absurd dalam teater itu terletak pada sebuah tema. Ia pun kemudian memberi contoh lain bahwa Teater Mini Kata – Rendra itu absud, dalam bentuk pementasannya. Batasan absurd itu sendiri kadang membingungkan. Dia berkata dia sendiri menjadi absurd.

Saya lantas berkata, “Nah, itu dia absurd.” Kemudian saya berpikir bahwa absurd yang dimaksud oleh para pemikir itu adalah absurd yang seperti itu. Saya pikir absurd itu muncul karena sebuah perbandingan. Jika ia hanya menonton pementasan dari karya A saja, ia tidak akan tahu apa itu absurd. Jika ia menonton pementasan dari karya A dan ia juga menonton pementasan dari karya B, kemudian ia akan membandingkan, dan akan ditemukan apa itu absurd.

Sama seperti rasa, saya kira absurd itu sendiri relatif. Ketika orang berkata bahwa buku itu absurd, bahwa pementasan itu absurd, atau lukisan itu absurd, belum tentu saya akan berpikiran sama dengan orang itu. Sama halnya ketika saya berkata bahwa itu absurd dan teman saya itu menanyakan apa yang absurd dan dia tidak sependapat. Pemikiran kami tentang batasan absurd itu berbeda. Kemudian, dari pembicaraan tentang absurd itu membuat kami sendiri menjadi absurd. Itulah absurd yang benar-benar absurd (oke, saya mulai merasa kalimat tadi absurd sekali :D).

Lalu, saya seketika dilanda rasa absurd dan saya lupa saya ingin menuliskan apa. Hahahaha... Tiba-tiba ini semua menjadi lucu :D Nanti akan saya lanjutkan. Mudah-mudahan :D

Monday, September 19, 2011

Tawa


Menyenangkan itu adalah ketika kamu dapat tertawa terbahak-bahak bersama para sahabat sampai tulang rahang dan perutmu keram di bawah pohon-pohon yang rindang.

Entah kenapa saya selalu suka kampus sastra pada hari Minggu siang. Suasananya yang sepi pada hari Minggu itu membuat saya nyaman, tidak seperti siang-siang di hari lainnya. Tidak pula di hari Sabtu yang memang tidak ada kuliah.

Hari Minggu kemarin, ada pengenalan Teater Djati di mabim jurusan saya. FYI, Teater Djati adalah tempat saya belajar banyak hal, tidak hanya soal teater tapi juga soal pengembangan diri. Saya dan teman-teman janjian berkumpul di kampus pukul 11.00, tapi entah kenapa saya tidak datang tepat waktu. Benar saja, ketika sampai saya mendapat kabar bahwa acara pengenalan yang tadinya dijadwalkan pukul 12.00 ternyata diundur hingga pukul 14.00.

Awalnya beberapa dari kami sedikit kesal karena adanya pengunduran jadwal itu, tapi lama kelamaan kami menikmati pembicaraan di antara kami. Saya sendiri tidak masalah dengan berubahnya jadwal itu, karena belajar dari pengalaman sudah terlalu sering jadwal dipindah-pindahkan dan pemberitahuannya sangat mendadak.

Lalu, kami pun mulai bercanda. Satu-persatu kami melontarkan lelucon. Satu-persatu tawa kami keluarkan. Dan akhirnya kami pun bersatu dalam satu tawa. Saya senang. Tawa-tawa kami seolah menjadi melodi yang memenuhi satu kampus. Cuaca yang tidak terlalu panas pun seolah menjaga kami abadi dalam tawa yang kami hasilkan.

Rasanya sudah lama saya tidak tertawa sedemikian lelahnya. Air mata pun beberapa kali keluar. Perut saya mulai keram dan lama-lama tulang rahang saya jadi pegal. Tapi, selelah-lelahnya tubuh saya tertawa, tawa adalah obat yang paling ampuh dalam mengobati berbagai hal. Bukankah ada penelitian bahwa dengan tertawa terbahak-bahak peredaran darah dapat menjadi lancar? Tawa juga dapat membuat awet muda. Sila cari artikelnya :P

Lalu acara pun dimulai. Saya bertemu dengan teman-teman baru 2011. Wajah-wajah mereka asing. Saya suka menebak-nebak apa yang ada di pikiran mereka ketika mereka mendengar tentang teater kami. Rasa-rasanya saya cukup senang dengan tanggapan mereka. Mereka cukup antusias. Apalagi ketika mereka dikumpulkan dalam satu permainan.

Dalam permainan itu ada pula tawa. Ada pula tawa yang terbahak-bahak. Rasanya menyenangkan dapat tertawa bersama teman-teman yang baru saya kenal. Meskipun saya tidak hafal nama-nama mereka, dan saya yakin banyak dari mereka yang lupa nama saya, rasanya menyenangkan kami dapat tertawa bersama-sama. Saya lihat panitia pun turut larut dalam tawa. Lagi-lagi menyenangkan melihat mereka lepas dari sosok mereka dalam kepanitiaan. Menyenangkan merlihat mereka semua menjadi pribadi yang utuh tanpa embel-embel mahasiswa baru, panitia, dan senior.

Tawa dapat menyatukan banyak hal. Tawa saja bisa menular, apalagi emosi postif yang dihasilkan. Saya bersyukur karena masih banyak tawa yang ada di sekeliling saya. Saya bersyukur karena saya masih bisa tertawa terbahak-bahak hingga air mata menetes dan rahang serta perut pegal-pegal. Saya bersyukur berada di tengah-tengah para sahabat yang dapat membuat lelucon-lelucon cerdas. Saya bersyukur Tuhan menganugerahkan tawa di hati manusia.

Wednesday, September 14, 2011

Petrichor

Saya selalu suka bau tanah ketika ia bersentuhan dengan hujan. Saya bahkan suka istilahnya petrichor, yang berasal dari bahasa Yunani. Istilah dan baunya sama, sama-sama mengandung suatu yang misterius. Saya bahkan tidak bisa menjelaskan mengapa dia menjadi candu bagi saya dan mungkin bagi banyak orang lainnya.

Bau itu memunculkan suatu memori yang menyenangkan. Tapi kadang dia malah membuat saya menjadi sendu. Bukankah kata 'hujan' sendiri sering dikaitkan dengan air mata? Dan memang, hujan adalah air mata dari langit. Karena berat menampungnya lama-lama, ia akhirnya turun perlahan-lahan dari mata langit.

Belakangan ini saya merindukan hujan. Tapi ia tidak muncul seperti harapan saya, sampai semalam. Tiba-tiba atap kamar bergemuruh. Mereka datang rintik-rintik, hanya sebentar. Cukup untuk memenuhi kamar saya dengan baunya.

Saya rindu bermain bersamanya. Saya rindu dia menyelimuti saya dengan baunya. Sampai bertemu lagi, petrichor.

PS: Jangan lupa jumpai pelangi setelah kalian bertemu dengan petrichor.

Persamaan Film Lima Elang dan Film Petualangan Sherina


Menonton film Lima Elang (LE) lantas membuat saya membanding-bandingkan film itu dengan film Petualangan Sherina (PS). Entah kebetulan atau entah memang saya yang mencari-cari, saya kira banyak kesamaan dalam kedua film tersebut.

Tokoh utama dalam kedua film itu sama-sama anak SD yang berasal dari Jakarta. Karena pekerjaan ayahnya, mereka harus pergi meninggalkan Jakarta. Dalam film LE tokoh utamanya adalah seorang anak laki-laki bernama Baron yang harus pindah ke Kalimantan dan dalam film PS tokoh utamanya adalah seorang anak perempuan bernama Sherina yang harus pindah ke Bandung.

Baron
Sherina

Dalam kedua film itu adegan awal dimulai dengan adegan Baron bermain mobil RC bersama sahabatnya dan Sherina bermain bersama teman-teman sekolahnya. Tempat Baron bermain bersama temannya itu di loteng rumah. Dan kebetulan Sherina juga berada di loteng rumahnya setelah ia diberitahu akan pindah ke Bandung. Di LE, dari loteng kita dapat melihat atap-atap rumah dan di PS kita akan melihat gedung bertingkat. Keduanya menggambarkan kota Jakarta, modern dan padat. Kepindahan mereka berdua pun sama-sama diantar oleh para sahabat.

Adegan berikutnya, ketika perjalanan di dalam mobil, saya temukan kesamaan. Baron dan Sherina sama-sama memandang ke luar dari balik jendela mobil. Seingat saya, keduanya juga menggambarkan pemandangan yang sama, pepohonan (tolong koreksi saya kalau salah, yang ini saya agak lupa :P). Pemandangan yang kontras dengan Jakarta.

Lalu, lagi-lagi ada kesamaan berkaitan teman yang dekat dengan tokoh utama. Dalam LE ada Rusdi, penggalang pramuka yang mengajak Baron masuk ke kelompoknya. Di pertengahan cerita diberitahu bahwa ternyata Rusdi mempunyai alergi terhadap kotoran. Jika ia kotor, ia akan gatal-gatal. Dalam PS, ada Sadam, teman sekelas Sherina yang nakal. Diceritakan Sadam mempunyai penyakit asma.

Rusdi
Sadam
Berkaitan dengan Rusdi dan Sadam, mereka sama-sama diculik. Rusdi diculik karena ia masuk ke daerah para pemburu hewan liar. Sadam diculik karena ayahnya, Ardiwilaga, tidak mau menjual tanah perkebunannya kepada Kertarajasa. Keduanya berkaitan dengan uang. Para pemburu tidak ingin usahanya diketahui, penculik Sadam menginginkan uang tebusan yang tinggi.

Latar tempat yang kita temukan dalam kedua film itu juga sama. Hutan. Baron dan kawan-kawannya mengikuti Jambore Pramuka di hutan dekat Balikpapan. Sherina dan Sadam berjalan-jalan di hutan daerah Bandung Utara. Di hutan itu pula Rusdi dan Baron diculik.

Dengan kecerdikan Baron dan Sherina, mereka dapat menyelamatkan Rusdi dan Sadam. Di akhir cerita, para pemburu liar dan Kertarajasa beserta sekongkolannya ditangkap.

Bahkan, inti dari kedua film ini juga sama. Keduanya sama-sama menyindir orang-orang yang tidak bertanggungjawab terhadap bumi Indonesia ini. Dalam LE, ada pemburu hewan liar yang tentu saja memburu hewan-hewan yang hampir punah di hutan Kalimantan. Dalam PS, ada Kertarajasa yang ingin membangun tempat modern di lahan perkebunan teh di Bandung Utara.

Mungkin dapat dikatakan film LE terinspirasi dari suksesnya film PS. Itu tidak masalah. Membuat film dengan genre anak-anak lebih sulit karena banyak hal yang harus dikontrol agar anak-anak yang menontonnya tidak salah tangkap. Lepas dari banyaknya persamaan dalam kedua film ini, kedua-duanya layak ditonton entah oleh anak-anak, remaja, atau orang tua. Secara pribadi saya lebih merekomendasikan film PS.

NB1: Dalam film LE, ada hal-hal detail yang tidak diperhatikan, misalnya, logat Kalimantan yang tidak kentara. Yang membedakan hanyalah panggilan ‘lo’, ‘gue’, ‘itok’.

NB2: Menonton kembali film PS dapat membangkitkan perasaan masa kecil (kalau kalian kira-kira seumuran dengan saya) dan itu dapat membuat kalian senyum-senyum sendiri :P