Friday, September 30, 2011

Kenangan Tentang SMP


Saya sering menghadirkan kembali kenangan-kenangan yang menyenangkan ketika saya takdapat lelap. Seperti malam, atau subuh ini. Sekarang pukul 03.30, mata saya masih nyalang. Saya menyerah pada kantuk yang takkunjung datang, padahal sudah dari pukul 00.30 saya bersiap untuk tidur.

Kali ini kenangan yang tiba-tiba muncul adalah kenangan semasa SMP. Ada banyak kenangan yang dapat saya munculkan dari masa-masa itu. Satu-persatu muncul. Wajah-wajah para sahabat muncul. Kejadian-kejadian menarik muncul.

Kenangan pertama yang muncul adalah kenangan ketika saya duduk di bangku kelas 2. Waktu itu saya ditunjuk menjadi ketua kelas. Saya menerimanya karena sewaktu duduk di kelas 1 pun saya menjadi ketua kelas. Kalau tidak salah, di caturwulan ke-3 (seingat saya waktu itu belum sistem semester) beberapa anak lelaki protes kepada wali kelas. Mereka ingin saya turun.

Saya masih ingat kenapa mereka ingin saya turun. Saya sekelas dengan pria jagoan di angkatan saya. Jelas dia seorang jagoan, badannya lebih besar dan lebih kekar. Lagipula ia jago berkelahi (tiba-tiba terlintas lagu Jagoan di film Petualangan Sherina :P). Sang jagoan itu tidak suka dipimpin oleh seorang perempuan, karenanya dia menghasut para lelaki pendukungnya untuk menurunkan saya dari jabatan ketua kelas.

Awal kejadian penurunan jabatan saya karena ocehan salah satu pendukung sang jagoan itu, seorang guru enggan mengajar di kelas saya. Saya sebagai ketua kelas mendatangi guru tersebut dan meminta maaf. Lalu, sekembalinya saya dari ruang guru, di kelas saya memarahi si pendukung sang jagoan itu. Lalu sang jagoan pun turun tangan. Ia tidak suka saya memarahi pendukungnya. Dia marah pada saya. Lalu kami berdua pun adu mulut di depan kelas.

Saya tidak ingat dari mana saya mendapatkan keberanian menantang sang jagoan itu di depan kelas. Di puncak emosinya dia berkata, “Untung lo cewe, kalo ngga udah gw tonjok muka lo!”. Hahahaha... Sungguh, kalau diingat itu kejadian lucu! Saya bahkan masih ingat teman-teman dari kelas lain sampai keluar dari kelasnya dan menonton ‘pertunjukan’ saya dan sang jagoan. Padahal saat itu pelajaran sedang berlangsung. Bahkan guru yang sedang mengajar pun muncul di balik jendela ruang kelas saya. Saya lupa bagaimana adu mulut itu berakhir, tapi saya ingat setelah kejadian itu saya mendatangi wali kelas dan saya minta mundur. Saya katakan lebih baik sang jagoanlah yang menjadi ketua kelas. Lagipula memang itu yang diinginkan teman-teman yang kontra pada saya.

Lalu, hal serupa pernah saya alami ketika di kelas 3. Saya lupa apa alasan saya bertengkar dengan teman lelaki di kelas saya. Tapi dia bukan jagoan. Waktu itu jam istirahat. Saya di sudut kelas yang satu dan dia di sudut kelas yang lain. Dari masing-masing sudut kami bertengkar. Itu tidak kalah hebohnya mendatangkan penonton, maklum, jam istirahat. Saya dan dia sampai kejar-kejaran di ruang kelas. Saya bahkan mulai melemparkan benda-benda yang dapat saya jangkau. Sayangnya tidak kena. Sampai akhirnya saya mengambil sebuah kursi, pertengkaran itu pun dihentikan oleh teman-teman lain yang mulai gelisah. Hahahaha... Lucu!

Bahkan sampai sekarang saya heran kenapa dulu saya bisa bertengkar dengan dua lelaki ketika SMP. Biasanya teman-teman perempuan saya bertengkar dengan teman-teman perempuan lainnya. Wah, itu tidak kalah serunya! Tapi ternyata saya lebih memilih bertengkar dengan dua orang lelaki. Dan karena saya perempuan, saya menang. Mereka tidak berani kepada saya. Hahahaha...

Kenangan lain yang muncul adalah kenangan di akhir kelas 3. Entah kerasukan apa, saya dan dua orang teman saya memutuskan untuk menyatakan perasaan kepada orang yang kami sukai. Sungguh! Saya tidak tahu kenapa saya seberani itu!

Teman pertama mengungkapan perasaannya lewat wartel di dekat rumah saya. Waktu itu saya menemaninya. Setelah telepon ditutup, wajahnya sumringah. Dia lega meskipun pria itu tidak merasakan hal yang sama. Paling tidak ia lega karena ia sudah mengutarakan perasaannya.

Tinggalah saya dan seorang teman. Kami putuskan kami akan memberi surat cinta (cieeelaaaahhh...) pada saat acara perpisahan. Dan bodohnya saya, saya lupa membawa surat yang sudah saya persiapkan itu! Benar-benar lupa! Mungkin saking gugupnya surat itu tidak terbawa oleh saya. Teman saya berhasil memberikan suratnya dan ternyata jawabannya pun sama, ia ditolak. Tapi, wajahnya tetap sumringah. Ia lega.

Tersisalah saya seorang. Awalnya saya ragu akan memberikan surat itu atau tidak pada teman yang sudah saya sukai sejak kelas 5 SD. Bayangkan! Saya suka pada orang yang sama selama lima tahun! Hahahaha... Tapi karena merasa tidak enak kepada dua orang teman saya itu, saya putuskan untuk memberikan surat ketika penandatanganan ijazah.

Saya masih ingat cara saya memberikan surat itu. Waktu itu dia sedang berjalan masuk ke ruang penandatanganan ijazah. Dengan cepat saya panggil namanya dan saya berikan surat itu. Saya tidak tahu apakah banyak teman yang menyaksikan atau tidak. Saya terlalu gugup. Bahkan setelah menyerahkan surat, saya langsung lari ke arah yang berlawanan. Saya ingin tertawa terbahak-bahak sekarang, tapi karena sudah pukul 04.00 saya tahan tawa saya. Bhahahahahahahahaha...

Karena perjanjiannya hanya menyatakan perasaan, surat yang saya tulis itu isinya memang hanya pernyataan rasa suka saya. Seingat saya, saya tidak menuliskan ingin tahu apa perasaannya pada saya. Intinya setelah kejadian itu saya lega dan saya jadi gelisah. Mungkin rasa gelisah saya itu datang dari pernyataan yang satu arah. Kedua teman saya tahu jawaban atas pernyataan mereka dan saya tidak. Gelisah saya kemudian jadi rasa canggung ketika bertemu dengan teman yang saya beri surat.

Tapi rasa canggung itu sudah hilang sekarang. Ketika bertemu dengan teman saya itu, saya sudah biasa saja. Kadang saya lupa kalau dulu saya pernah menyatakan perasaan saya kepadanya. Kejadian itu toh sudah delapan tahun berlalu. Yang tertinggal hanya rasa lucu dan bingung kenapa saya berani bertindak seperti itu.

Kenangan-kenangan semasa SMP selalu menyenangkan. Banyak hal menyenangkan yang dapat saya ingat. Hal menyenangkan lain, saya akrab dengan beberapa teman lelaki yang kemudian menjadi sebuah kelompok band. Saya yang satu-satunya wanita ditunjuk menjadi manager band itu. Hahahaha... Tugas saya adalah menyimpan uang dari mereka untuk dipakai menyewa studio band. Saya juga bertugas mengontak tempat studio itu. Selain itu ternyata selera musik saya juga diperhitungkan di sana. Saya jadi kritikus di kelompok band saya. Bahkan saya pernah direkrut untuk menjadi manager band teman saya yang lain. Tentu saja saya menolaknya karena alasan persahabatan :D

Saya juga ingat saya pernah diberi sebatang cokelat oleh seorang guru yang dikenal galak. Guru itu tidak tanggung-tanggung main tangan ketika ia marah. Itu tidak patut dicontoh. Tapi entah kenapa saya tidak takut pada guru itu, saya malah menyukainya karena cara mengajarnya menyenangkan. Kagetlah saya ketika suatu jam istirahat, saya ke ruang guru dan diberi sebatang cokelat.

Ah, masih banyak lagi kenangan yang menyenangkan tersimpan di ingatan saya. Mereka akan saya keluarkan satu-persatu. Jika dikeluarkan semua, perut saya bisa keram dan air mata saya bisa terkuras habis karena tertawa.

Selamat pagi! Azan subuh sudah berkumandang tapi saya masih tetap tidak mengantuk. Pokoknya, selamat pagi!

No comments:

Post a Comment