Friday, September 30, 2011

Djati



November ini usiamu akan genap 11 tahun, Djati. Kau beranjak remaja. Tapi langkahmu masih pelan, jalanmu masih tertatih. Takapa, jalan di depan masih panjang. Aku hanya berharap umurmu juga sepanjang jalan-jalan di depan.

Sudah lima tahun saya hidup di dalam Djati dan Djati pun hidup di dalam saya. Sudah begitu banyak pelajaran yang saya terima dari Djati. Rumah ini penuh dengan banyak hal. Banyak pula orang yang sudah lalu-lalang. Lima tahun dalam perjalanan penuh semak dan duri. Lima tahun dalam perjalanan penuh bunga dan aroma manis. Lima tahun ia mencoba bertahan.

Ketika mengenang perjalanan selama lima tahun bersamanya, saya selalu merasa saya rindu. Padahal ia begitu dekat, tapi ia sulit dijangkau. Saya mencoba merangkulnya, tidak sendiri, dan ia tetap terasing sepi dalam sudut remang. Ia terkucilkan. Saya tahu. Saya bisa merasakan kesedihan dan kesendiriannya.

Banyak orang yang sudah hilir-mudik datang silih-berganti. Banyak yang melupakannya, banyak pula yang merindukannya. Banyak pula yang bertanya, “Oh, Djati masih ada?” Ah, ini yang namanya sakit teriris sembilu. Pilu.

Sebegitu taknampakkah ia di mata orang-orang yang mengenalnya? Sebegitu terasingkah dia?

Kini kami yang masih bertahan dan kami yang baru memulai mengenal Djati, berusaha semampu kami untuk menopangnya agar tetap tegak. Kami masih terus membimbingnya berjalan dengan langkah tegap. Kami masih terus sabar menjawab bahwa Djati masih hidup, bahwa ia butuh sentuhan dan perlakuan tidak hanya janji-janji kosong yang menggiurkan.

Saya tahu saya egois. Perihal Djati saya selalu egois. Saya hanya ingin membuatnya selalu bertahan dan mengurangi rasa sakit yang menggerus tubuhnya terus-menerus.

Saya rindu ketika kami latihan kami serius latihan. Kami ingin tahu apa itu teater, apa itu keajaiban yang bisa kami hasilkan dengan organ-organ tubuh kami. Saya rindu pertanyaan-pertanyaan yang mengusik kepala. Saya rindu usulan-usulan yang saking berlimpahnya tidak dapat kami tampung. Saya rindu mereka yang benar-benar ingin hidup di dalam Djati.

Djati bukan hanya tempat persinggahan. Bukan itu yang ia inginkan. Ia ingin mereka menetap, walau sejenak. Ia ingin mereka menyerap apa yang dapat mereka serap. Ia ingin mereka dapat bersatu, dalam satu nafas.

Bagi saya Djati bukan hanya sekadar nama, bukan hanya sekadar perkumpulan, bukan hanya sekadar tempat untuk menunjukan jati diri. Bagi saya ia... Bahkan saya pun takmampu menjelaskan apa arti Djati bagi saya. Akarnya sudah menancap begitu dalam. Gairahnya begitu bergelora dalam semilir darah saya. Mungkin menurut sebagian dari kalian apa yang saya utarakan itu berlebihan, tapi bagi kalian yang mengenal saya dan mengenal Djati, kalian akan mengerti.

Saya senantiasa berharap ia akan hidup sampai tidak terhitung generasi yang dihasilkannya. Saya berharap masih banyak orang yang senantiasa akan membantu ketika ia merangkak menuju ketidakpastian. Saya hanya berharap paling tidak masih ada segelintir orang yang menyayanginya.

Semoga kegelisahan saya tidak beralasan. Saya hanya terlalu sentimen ketika berbicara tentangnya.

Di sini kita bersama melangkah sesuka hati
Takberhenti bagai rumput liar di dalam taman kehidupan

Di sini cerita kita mencoba takmengenal lelah
Mengukir langit nan tinggi selami lautan imaji

Djati, sampaikan diri pada langit harapan
Djati, warnai diri dengan sejuta angan

Di sini rumah sederhana terbuka untuk siapa saja
Berkisah, bersama, takbiarkan mimpi-mimpi mati

(Jingle Djati)

No comments:

Post a Comment