Monday, September 19, 2011

Tawa


Menyenangkan itu adalah ketika kamu dapat tertawa terbahak-bahak bersama para sahabat sampai tulang rahang dan perutmu keram di bawah pohon-pohon yang rindang.

Entah kenapa saya selalu suka kampus sastra pada hari Minggu siang. Suasananya yang sepi pada hari Minggu itu membuat saya nyaman, tidak seperti siang-siang di hari lainnya. Tidak pula di hari Sabtu yang memang tidak ada kuliah.

Hari Minggu kemarin, ada pengenalan Teater Djati di mabim jurusan saya. FYI, Teater Djati adalah tempat saya belajar banyak hal, tidak hanya soal teater tapi juga soal pengembangan diri. Saya dan teman-teman janjian berkumpul di kampus pukul 11.00, tapi entah kenapa saya tidak datang tepat waktu. Benar saja, ketika sampai saya mendapat kabar bahwa acara pengenalan yang tadinya dijadwalkan pukul 12.00 ternyata diundur hingga pukul 14.00.

Awalnya beberapa dari kami sedikit kesal karena adanya pengunduran jadwal itu, tapi lama kelamaan kami menikmati pembicaraan di antara kami. Saya sendiri tidak masalah dengan berubahnya jadwal itu, karena belajar dari pengalaman sudah terlalu sering jadwal dipindah-pindahkan dan pemberitahuannya sangat mendadak.

Lalu, kami pun mulai bercanda. Satu-persatu kami melontarkan lelucon. Satu-persatu tawa kami keluarkan. Dan akhirnya kami pun bersatu dalam satu tawa. Saya senang. Tawa-tawa kami seolah menjadi melodi yang memenuhi satu kampus. Cuaca yang tidak terlalu panas pun seolah menjaga kami abadi dalam tawa yang kami hasilkan.

Rasanya sudah lama saya tidak tertawa sedemikian lelahnya. Air mata pun beberapa kali keluar. Perut saya mulai keram dan lama-lama tulang rahang saya jadi pegal. Tapi, selelah-lelahnya tubuh saya tertawa, tawa adalah obat yang paling ampuh dalam mengobati berbagai hal. Bukankah ada penelitian bahwa dengan tertawa terbahak-bahak peredaran darah dapat menjadi lancar? Tawa juga dapat membuat awet muda. Sila cari artikelnya :P

Lalu acara pun dimulai. Saya bertemu dengan teman-teman baru 2011. Wajah-wajah mereka asing. Saya suka menebak-nebak apa yang ada di pikiran mereka ketika mereka mendengar tentang teater kami. Rasa-rasanya saya cukup senang dengan tanggapan mereka. Mereka cukup antusias. Apalagi ketika mereka dikumpulkan dalam satu permainan.

Dalam permainan itu ada pula tawa. Ada pula tawa yang terbahak-bahak. Rasanya menyenangkan dapat tertawa bersama teman-teman yang baru saya kenal. Meskipun saya tidak hafal nama-nama mereka, dan saya yakin banyak dari mereka yang lupa nama saya, rasanya menyenangkan kami dapat tertawa bersama-sama. Saya lihat panitia pun turut larut dalam tawa. Lagi-lagi menyenangkan melihat mereka lepas dari sosok mereka dalam kepanitiaan. Menyenangkan merlihat mereka semua menjadi pribadi yang utuh tanpa embel-embel mahasiswa baru, panitia, dan senior.

Tawa dapat menyatukan banyak hal. Tawa saja bisa menular, apalagi emosi postif yang dihasilkan. Saya bersyukur karena masih banyak tawa yang ada di sekeliling saya. Saya bersyukur karena saya masih bisa tertawa terbahak-bahak hingga air mata menetes dan rahang serta perut pegal-pegal. Saya bersyukur berada di tengah-tengah para sahabat yang dapat membuat lelucon-lelucon cerdas. Saya bersyukur Tuhan menganugerahkan tawa di hati manusia.

No comments:

Post a Comment