Tuesday, August 30, 2011

Selamat Pagi

Berapa menit waktu yang kamu butuhkan untuk benar-benar sadar dari bangun tidur?

Saya lebih suka terbangun karena saya sudah puas tidur ketimbang harus dibangunkan oleh orang atau pun alarm. Perasaan yang dihasilkan akan berbeda pula. Ketika tubuh saya sudah segar, tubuh saya akan terbangun dengan sendirinya. Lalu saya akan memandang langit-langit tempat saya tidur dan mulai membayangkan mau apa saya setelah bangun tidur ini.

Kadang pula saya menginstropeksi diri saya ketika pagi hari, ketika saya sudah benar-benar dapat berpikir lebih jernih tentang masalah yang saya hadapi di hari kemarin. Itu cukup membantu membangun mood yang lebih baik. Tubuh, pikiran, dan jiwa akan jauh lebih segar.

Karenanya, waktu yang saya butuhkan untuk benar-benar bangun itu cukup lama. Bisa sampai satu jam, kalau saya tidak ada kerjaan, saya merenung sambil memandangi langit-langit. Hal-hal semacam ini pasti akan menjadi sebuah hal yang istimewa ketika nanti saya terikat pada sebuah sistem.

Saya suka bangun pagi. Sayangnya, ketika tidak di rumah saya sulit bangun pagi. Saya pernah mendengar sebuah pepatah bahwa rezeki dan berkat diberikan Tuhan lewat malaikat yang muncul bersama matahari pagi. Saya percaya itu. Ketika di pagi hari saya bangun sebelum matahari terbit, saya suka melihat sinar matahari yang muncul perlahan-lahan. Itu sebuah berkat. Berkat di hari baru yang masih Tuhan berikan kepada saya.

Ada pula pepatah yang mengatakan bahwa rezeki akan dijauhkan dari orang yang bangun siang. Itu kebalikan dari pepatah yang pertama. Saya juga percaya itu. Ada baik, ada buruk. Ada kanan, ada kiri. Ada atas, ada bawah. Semua punya kebalikan.

Pagi hari mengingatkan saya akan banyak hal. Rutinitas menjelang sekolah, perjalanan menuju sekolah, kelas-kelas yang kosong karena belum banyak murid yang datang, hal-hal yang bertahun-tahun saya rindukan. Saya tidak suka dengan rutinitas, tapi ada kalanya saya rindu rutinitas seperti itu.

Selamat pagi. Semoga kita selalu bersyukur atas detak jantung di pagi hari, atas nafas yang masih berhembus, atas mimpi, atas segala hal yang diberikan-Nya kepada kita. Saya suka ucapan "Selamat pagi". jadi, selamat pagi :)

Monday, August 29, 2011

Disguised - Rita la Fontaine


Ingatkah kalian pada masa penjajahan Jepang di Indonesia tahun 1942-1945? Pasti ingat, karena setelah penjajahan itu Indonesia akhirnya merdeka. Paling tidak kalian sudah membacanya dari buku-buku sejarah ketika masih duduk di bangku sekolah. Lagipula pada bulan Agustus film-film dokumenter tentang masa itu masih sering diputar.

Pernahkah kalian membaca atau melihat dari sudut pandang yang lain tentang penjajahan itu? Kalau belum pernah, silakan baca Disguised karya Rita la Fontaine.

Buku ini ditulis oleh Rita berdasarkan kisah yang dialaminya sendiri ketika masa penjajahan Jepang di Indonesia. Waktu itu ia berusia sekitar 11 tahun. Rita merupakan anak campuran Belanda-Indonesia, ayahnya Belanda dan ibunya Indonesia. Tempat kejadiannya di pulau Sumatera, dari Jambi sampai pulau Bangka.

Ayahnya mendapat kabar bahwa tentara-tentara Jepang suka mendatangkan perempuan-perempuan penghibur ke kemah-kemah mereka. Perempuan-perempuan itu tidak hanya dari Jepang, bahkan pribumi dan orang-orang Belanda yang terhormat pun dipaksa untuk menghibur mereka. Berangkat dari kekhawatiran itu, ayah Rita mengubah penampilan Rita menjadi seorang anak laki-laki. Ia diubah penampilannya, gayanya, dan namanya. Rick adalah nama laki-laki Rita.

Kisah dari sudut pandang anak kecil selalu menarik. Anak kecil itu jujur, ia tidak melebih-lebihkan. Meskipun mungkin buku ini tidak Rita tulis ketika ia masih kecil, tapi kejujuran itu masih melekat pada karyanya ini. Lagipula saya percaya suatu kejadian buruk seperti itu tidak ingin diceritakan secara berlebihan, tidak ada yang bisa dibanggakan dari sebuah pengalaman yang tidak menyenangkan.

Perang itu tidak ada yang menguntungkan. Bahkan Jepang sendiri pada akhirnya merasakan ketidakberuntungannya. Lewat Rita kita akan tahu bagaimana perjuangan bangsanya ketika masa perang itu terjadi. Dari buku ini kita akan tahu bahwa tidak hanya masyarakat Indonesia yang menderita ketika Jepang berkuasa. Orang-orang Belanda yang sudah beranak-cucu di Tanah Air pun turut merasakan kesengsaraannya, meskipun kadarnya berbeda. 

Dikisahkan tawanan Belanda masih diperlakukan lebih manusiawi. Atau mungkin Rita dan kelompoknya lebih beruntung? Mereka harus berpisah dari orang-orang yang dikasihi. Kemah pria dan wanita dipisah. Mereka harus bekerja keras untuk bisa makan. Hal-hal yang tidak pernah mereka lakukan di kehidupan sebelumnya terpaksa mereka lakukan agar dapat bertahan.

Tapi, selama ada kemauan, usaha, kesabaran, cinta, dan doa, semua dapat dilakukan dengan lebih ringan. Harapan-harapan ditebarkan. Mereka percaya suatu saat nanti mereka akan bebas, entah kapan, tapi mereka percaya. Rita percaya bahwa usaha yang dilakukannya, penyamarannya, tidak akan sia-sia. Di usianya yang muda ia belajar bahasa Jepang dan bekerja pada pemerintah Jepang. Semua dilakukannya dengan keberanian dan kepercayaan. Dan akhirnya, bom atom Nagasaki dan Hirosima menjadi gong pembebasan mereka.

Tidak ada yang menyenangkan pada masa perang. Saya tidak percaya perang dapat memecahkan suatu masalah. Dia hanya menambah masalah baru dan mengucilkan manusia dari kebahagiaan dan kebebasan. Semuanya kembali pada hati manusia, jika semua masalah dapat diselesaikan dengan mudah dan indah untuk apa menyelesaikan masalah dengan rumit dan menyedihkan. Itu adalah pilihan yang seharusnya tidak menjadi sebuah pilihan. *saya mulai ngelantur :P




Wednesday, August 24, 2011

Telepon Rumah


Saya selalu suka dengan telepon rumah. Telepon rumah menjadikan pembicaraan lebih bersifat personal. Bukan berarti handphone tidak personal, tapi telepon rumah dengan kabel meliuknya, menjadikan pembicaraan lebih menyenangkan.

Dulu, ketika telepon di rumah saya masih sering berdering, saya suka menunggu nama saya dipanggil jika telepon itu untuk saya. Saya suka menebak siapakah yang menelepon. Teman sayakah, atau seorang lain yang saya tunggu. Kemudian berbicara tanpa takut hubungan diputus oleh operator tiap beberapa belas menitnya.

Masa-masa itu, masa-masa sekolah, pembicaraan tidak jauh dari sekolah. Tugas, ulangan, teman, musuh, dan hal remeh-temeh lain. Janjian berpergian pun dibicarakan lewat telepon. Jam bertemu yang pasti, tempat pertemuan yang pasti, dan orang-orang yang pasti. Tidak seperti sekarang, semua via SMS. Ajak si A, ajak si B, tinggal SMS. Lalu si A mengajak si C, si B mengajak si D, tinggal SMS. Ketika jam bertemu sudah pasti, ada yang telat tinggal di-SMS. Ah, saya jadi rindu masa-masa telepon rumah dahulu.

Telepon rumah saya sendiri sudah tidak ada kabel meliuknya, dia sudah portable. Salah satu alasan mengganti kabel dengan tanpa kabel mungkin masalah efisiensi tempat. Salah seorang dari kami dapat berbicara di tempat lain yang lebih pribadi, di kamar mandi mungkin :P

Sekarang, telepon rumah saya tidak terlalu sering berkicau seperti dahulu. Nama saya pun sudah jarang disebut ketika sekalinya dia berdering. Dia sudah jarang digunakan. Dia pun diletakan di tempat yang tidak terlalu strategis. Tapi dia dengan senang hati menunggu dering-dering dan tekanan jari-jari pada tubuhnya.


Rahasia Kecil


Saya punya satu rahasia kecil yang ingin saya ceritakan di sini (berarti dia tidak akan menjadi sebuah rahasia lagi). Rahasia kecil saya adalah sebuah loteng. Loteng di rumah saya. Tempat ini menjadi sebuah surga bagi saya dan rahasia kecil saya yang lain (yang ini tidak akan saya ceritakan, berarti dia akan abadi menjadi sebuah rahasia).

Di loteng ini saya terbebas dari segala persoalan, meskipun kadang saya memikirkan persoalan-persoalan itu di tempat ini. Hahaha... Pernyataan barusan agak khas saya, saya tidak mampu memertahankan apa yang saya omongkan :P

Di sini saya bisa menangkap jenis-jenis suara yang tidak saya dapat di dalam rumah. Di sini saya bisa bebas mendengar suara kicau burung, gesekan dedaunan, suara desau angin, dan suara matahari. Matahari bersuara, kawan. Coba kalian cari suaranya!

Di sini pula saya bisa menangkap hal-hal yang tidak bisa saya lihat di dalam rumah. Saya suka terangnya, saya suka keremangannya, saya suka kesendirian dan keterasingannya.

Di sini rahasia kecil saya abadi. Saya menyukainya. Saya senang saya mendapat sebuah ruang yang tidak bisa diganggu siapa pun. Saya menyukai rahasia kecil saya di rumah ini.

Siang, 23 Agustus 2011

Saya tidak terlalu nyaman dengan kota besar seperti Jakarta. Saya rikuh. Saya canggung. Saya selalu tidak mengerti mengapa banyak orang yang menggantungkan hidupnya di sana. Saya selalu tidak mengerti mengapa banyak orang yang tidak sabar tapi masih saja tinggal di sana. Saya selalu tidak mengerti mengapa banyak orang tidak percaya bahwa masih banyak tempat selain Jakarta jika mereka ingin bertahan hidup.

Rumah saya di Tangerang, sama padatnya dengan Jakarta. Dan saya selalu takut untuk menjejaki setiap kilometer tanahnya. Saya sering tidak percaya dengan orang-orang asing yang lalu-lalang di sekitar saya. Saya sering tidak nyaman. Pikiran-pikiran negatif kadang muncul ketika melihat wajah-wajah yang tidak menyenangkan.

Tapi saya suka bangunan-bangunan tinggi di Jakarta. Entah sudah berapa ratus kali saya melihat gedung-gedung itu, saya tidak pernah bosan. Saya suka ketika cahaya-cahaya bermain di kaca gedung-gedung tinggi itu. Mereka indah. Mereka berkuasa di jalan-jalan padat Jakarta.

Kemarin, setelah hampir dua bulan saya menjauh dari Jakarta, saya pulang. Lewat di sebuah pasar, saya pusing. Banyak suara klakson kendaraan yang masuk ke telinga saya. Saya tidak terlalu suka dengan keramaian dan saya benci dengan suara klakson yang dibunyikan dengan bertubi-tubi. Banyak pengguna kendaraan yang suka menggunakan klakson. Mereka tidak sabaran. Mereka selalu ingin lebih dahulu dibanding pengendara yang lain. Mereka tidak peduli bahwa ada orang-orang seperti saya yang terganggu dengan suara klakson kendaraan mereka.

Saya putuskan untuk turun dan berjalan kaki. Seharusnya saya bisa naik angkutan umum atau naik ojek untuk sampai ke rumah saya. Tapi saya putuskan saya lebih baik berjalan kaki. Saya berhenti di depan perumahan. Saya dapat melewati jalan pintas di belakang perumahan tersebut untuk menuju perumahan saya. Daripada saya pusing karena polusi udara, polusi suara, dan polusi hati, lebih baik saya berjalan di bawah terik matahari. Untungnya, angin menemani saya.

Sepanjang perjalanan, saya tidak bertemu dengan pejalan kaki yang lain. Padahal itu sebuah perumahan. Motor lalu-lalang dan pengendaranya melihat saya dengan muka bertanya-tanya. Saya menyimpulkan dari mimik muka mereka bahwa mereka bingung kenapa saya berjalan kaki di siang bolong seperti itu. Saya kemudian menyayangkan bahwa mereka mungkin sudah lupa rasanya berjalan kaki. Mereka terlalu bergantung dengan kendaraan-kendaraan yang memudahkan mereka mencapai suatu tempat dengan waktu yang lebih cepat.

Saya sampai di rumah dengan perasaan yang lebih tenang. Panas sudah bukan kendala, karena saya berteman dengannya sejak saya turun dari angkutan umum. Hati saya pun lebih tenang, saya tidak marah-marah kepada pengguna kendaraan yang seenak tangannya memencet klakson.

Setelah menaruh barang, saya menuju dapur. Segelas sirup dingin melengkapi siang saya yang menyenangkan itu.

Tuesday, August 16, 2011

Bulan, Magis

Ketika saya sedang memandang bulan dan kemudian semilir angin datang bermain di sekitar rambut saya, saya langsung mencintainya. Seketika saya mencintai bulan purnama kuning keemasan itu, saya mencintai dinginnya angin, saya mencintai awan yang bergerak bersama angin. Saya mencintai mereka.

Dan meskipun saya tahu bagaimana pergerakan bumi, malam menjadi siang dan siang menjadi malam, saya tetap bertanya pada diri saya sendiri bagaimana bumi dapat melakukannya.

Beberapa hari ini bulan sangat cantik. Ia bulat sempurna dengan lingkaran halo di sekitar tubuhnya. Ia sedang berada di masa jayanya. Bahkan awan yang awalnya datang menutupi segera menghindar takut karena ulahnya manusia tidak bisa menikmati kecantikan bulan itu. Bintang pun taktampak. Mungkin ia malu. Bulan cantik itu seolah menyedot perhatian banyak hal.

Mungkin hal ini juga yang dirasakan oleh Miles ketika ia memandang bulan dari kayaknya pada malam-malam ia takdapat lelap. Ia begitu takjub dengan peran bulan yang dapat membuat air laut pasang dan surut. Karena bulanlah Miles dapat mencari binatang-binatang laut yang terdampar di pantai ketika air surut.

Saya suka The Highest Tide. Saya suka penggambaran Miles oleh Jim Lynch. Miles anak yang tidak spesial dengan tinggi badan yang kurang untuk remaja berusia tiga belas tahun. Tapi ia mencintai teluk tempat ia tinggal. Ia mencinta laut dengan segala kehidupan yang ada di dalamnya seperti ia juga mencintai Rachel Carson, penulis favoritya. Miles lebih nyaman berbicara tentang laut ketimbang berbicara tentang persahabatan dan cinta.

Membaca The Highest Tide membuat saya bertanya-tanya semagis apakah bumi, bulan, matahari, dan benda-benda angkasa lainnya. Seindah dan semenakutkan apakah lautan lepas, samudera luas, dan kedalaman yang takada cahaya. Dia membuat saya bertanya-tanya sebesar apakah bumi ini sebenarnya. Saya tahu itu pertanyaan bodoh jika saya tanyakan sekarang, tapi seperti tersihir oleh bulan pertanyaan-pertanyaan itu muncul tiba-tiba. Mungkin bulan tidak puas dengan berbagai pernyataan manusia yang terkadang sok tahu terhadap dirinya dan teman-temannya.

Saya tidak bisa bercerita banyak tentang buku ini karena banyak hal yang tertinggal ketika saya selesai membacanya. Rasanya saya ingin bermimpi berjalan di lumpur bersama Miles ketika ia menemukan keajaiban-keajaiban di teluk kecilnya.

Bulan kesepian. Itu yang saya rasakan ketika melihat bulan. Saya jadi turut kesepian. Ah, bulan itu magis. Ia menyimpan beribu misteri dalam cahaya keemasannya.


Limit Sabar

Sometimes, it’s better to be alone because nobody can hurt you.
- Hercules, 1997

Karena seorang teman saya menantikan tulisan saya kali ini, maka saya akan mencoba menulisnya. Teman saya, sebut saja namanya Imanuel Kristianto (oke, gw menyebutkan nama asli lo, No :P), ingin tahu apakah saya akan menuliskan kisah menyebalkan tadi subuh (14 Agustus 2011) di blog. Dan karena dia sangat penasaran, saya pun memutuskan untuk curhat lagi di sini. Makasih yah atas usulan lo tentang curhat di blog, No :D

Ceritanya hari ini saya ngambek. Ngambek itu istilah teman-teman saya. Saya sendiri kurang menyukainya. Menurut saya, saya bukan ngambek, tapi marah. Dan cara saya marah adalah saya memisahkan diri dari teman-teman saya. Alasannya, lebih baik saya marah kepada diri sendiri dari pada saya akhirnya meledak di depan teman-teman saya sehingga yang tersisa tinggal penyesalan. Saya cukup ahli untuk mendinginkan kepala dan hati, salah satu caranya adalah keramas di tengah subuh dingin, seperti tadi subuh.

Saya sering kecewa melihat cara teman-teman saya (dan saya sendiri) membuat lelucon. Salah satu caranya adalah menggunakan satu objek penderita untuk di’kata-katai’ atau diisengi. Dan saya sering kali menjadi objek penderita itu, seperti dua hari ini. Ini bukan kali pertama, dan saya tahu ini juga bukan kali terakhir. Saya biasa-biasa saja, saya juga menerima karena saya juga ikut tertawa dan kadang menjadi tersangka pembuat lelucon. Tapi, saya tahu batas ketika objek penderita itu sudah tidak mampu menerima lelucon atas dirinya, karena saya juga merasakannya.

Ketika lelucon-lelucon itu terus menerus diulang, hasilnya tidaklah lucu lagi. Sama halnya jika kamu makan nasi telor dadar selama seminggu tanpa menu variasi lain. Saya pun bosan mendengar hal-hal itu saja yang dibahas. Takada lagi tawa yang keluar dari mulut saya. Yang ada hanyalah rengutan muka masam dan takada kata yang harus saya katakan. Jika sudah seperti itu, saya lebih baik diam. Karena saya tahu jika saya marah-marah, suasana malah menjadi tidak nyaman.

Saya tidak masalah ketika saya dijadikan objek candaan. Teman-teman berkata bahwa saya tidak mudah marah, saya lucu, saya bla bla bla bla.. Saya senang mereka menilai saya seperti itu. Tapi, sama seperti manusia lainnya, saya juga punya batas kesabaran. Limit sabar saya tidak penuh setiap saat. Didorong dengan kurangnya tidur dan suasana dingin, saya pun selesai. Saya marah. Saya diam.

Jeleknya dari kediaman saya adalah banyak orang yang tidak seharusnya terlibat jadi ikut terlibat. Mood saya yang berantakan lantas tidak hanya ditujukan kepada para tersangka. Para saksi mata pun kadang kena imbasnya. Saya jadi kaku. Mulut saya tersenyum, saya bilang saya tidak apa-apa, tapi hati saya panas. Para saksi mata itu kadang merasa dirinya juga sebagai tersangka karena aksi diam saya. Itu buruk sekali. Saya masih belajar untuk mengendalikan emosi saya yang seperti itu.

Mungkin beberapa orang menganggap saya ngambek seperti anak kecil. Tidak masalah. Saya mengakui bahwa saya memang masih anak kecil. Saya belum siap untuk dewasa karena memecahkan masalah dengan cara dewasa itu rumit. Saya lebih baik berlindung di balik sisi anak kecil saya.

Semua orang boleh mengekspresikan rasa marahnya. Lalu kenapa saya tidak boleh mengekspresikan rasa marah saya dengan cara demikian? Apakah ekspresi orang marah yang lain tidak lebih jelek dari cara saya marah? Saya memilih jalan ini. Menurut orang itu aneh, menurut saya ini alternatif yang paling baik. Sendiri kadang lebih baik.

Saya tidak mengerti jika ada orang yang tidak mengerti kenapa saya bisa marah sedemikian rupa. Saya tidak mengerti ketika dia tidak menyadari bahwa dia juga masuk ke dalam orang-orang yang membuat saya marah. Dan saya tidak mengerti mengapa tidak ada yang pernah meminta maaf kepada saya. Bukannya saya haus dengan kata maaf, tapi terkadang saya butuh ucapan itu. Seingat saya, tidak ada satu teman pun yang mengucapkan kata itu, dan seingat saya lagi, banyak teman yang lari ketika saya katakan bahwa dia juga bersalah. Sering kali saya lalui hal ini. Dan saya pasti akan melalui hal ini lagi nanti.

Yah, karena bumi ini bulat dan jam selalu kembali ke pukul 00.00, saya harus setiap saat mengisi hati saya dengan kesabaran. Kali lain hal ini pasti akan terjadi. Saya harus siap dan mereka juga harus siap menanggapi rasa marah saya. Katanya orang sabar itu dikasihi Tuhan. Semoga Tuhan juga mengasihi saya seperti Dia juga mengasihi orang-orang yang tidak sabar. Amin.

Madre - Dee

Awalnya saya sedikit trauma membaca karya-karya Dewi Lestari atau yang juga dikenal dengan nama Dee. Buku pertama yang saya baca adalah Supernova: Akar (kalau saya tidak salah ingat). Saat itu saya masih SMA dan buku itu tidak selesai saya baca. Saya kaget ketika saya tahu ternyata saya tidak mengerti apa yang ingin Dee sampaikan lewat bukunya itu. Mungkin karena bacaan saya pada saat itu kurang bervariasi, dengan berat hati saya menutup dan melupakannya.

Bertemulah saya dengan Filosofi Kopi. Ironisnya saya lupa isi buku itu. Maafkan ingatan saya yang buruk. Tapi sampai sekarang saya tahu bahwa saya suka dengan judul bukunya dan saya tidak lepas dari rasa trauma ‘supernova’ itu.

Beberapa minggu lalu, beberapa kawan berkomentar bahwa kumpulan cerpen Dee yang terbaru bagus. Saya lihat bukunya. Madre, dengan cover berwarna oranye lembut. Gambar-gambar yang familiar, saya pernah melihat gambar sejenis itu tapi lagi-lagi saya lupa di mana (sepertinya saya butuh NZT untuk memaksimalkan kerja otak saya :P). Saya pun meminjam dan membacanya.

Beruntunglah saya menyukai cerpen pertama dalam buku itu, Madre. Ketika sampai pada penjelasan bahwa madre berasal dari bahasa Spanyol yang artinya 'ibu', saya bergumam, ”Nah, itu gambar Spanyol!”. Yak, agak kurang penting gumaman saya :P.

Singkatnya, setelah saya membaca buku ini, saya menarik kesimpulan bahwa tokoh utama laki-laki digambarkan terlalu halus. Saya awalnya malah menyangka bahwa tokoh utamanya adalah seorang perempuan.

Berangkat pada suatu pembicaraan dan pengamatan, saya menyakini bahwa cara berpikir laki-laki lebih dekat dengan kelogisan dan perempuan lebih dekat dengan perasaan. Misalnya, ketika melihat kendaraan dengan laju cepat lelaki lebih berkomentar, “Wah, kecepatannya sekitar 120 km/jam, tuh.” sedangkan perempuan lebih berkomentar. “Cepet banget!”. Itu kesimpulan saya semata.

Dan setelah berdiskusi dengan beberapa teman tentang buku ini, kami sepakat bahwa laki-laki dalam cerpen di buku ini lebih halus dibandingkan dengan laki-laki pada umumnya. Saya mengira-ngira apakah karena penulisnya seorang perempuan sehingga sosok lelaki yang digambarkannya jadi demikian. Saya pun membantah sendiri perkiraan saya itu.

Penggambaran cinta dalam setiap cerpen juga begitu lembut. Cinta yang tidak dipaksakan. Seolah-olah takut tokohnya akan bunuh diri karena kegagalan cinta. Ini penggambaran cinta yang khas dari Dee. Dari pengalaman barangkali. Lho :P

Akhirnya saya tidak lagi trauma membaca karyanya. Kali lain saya akan membaca buku-bukunya dan ingin lebih membuktikan cinta seperti apa yang ingin disampaikan oleh seorang Dee.