Tuesday, August 16, 2011

Madre - Dee

Awalnya saya sedikit trauma membaca karya-karya Dewi Lestari atau yang juga dikenal dengan nama Dee. Buku pertama yang saya baca adalah Supernova: Akar (kalau saya tidak salah ingat). Saat itu saya masih SMA dan buku itu tidak selesai saya baca. Saya kaget ketika saya tahu ternyata saya tidak mengerti apa yang ingin Dee sampaikan lewat bukunya itu. Mungkin karena bacaan saya pada saat itu kurang bervariasi, dengan berat hati saya menutup dan melupakannya.

Bertemulah saya dengan Filosofi Kopi. Ironisnya saya lupa isi buku itu. Maafkan ingatan saya yang buruk. Tapi sampai sekarang saya tahu bahwa saya suka dengan judul bukunya dan saya tidak lepas dari rasa trauma ‘supernova’ itu.

Beberapa minggu lalu, beberapa kawan berkomentar bahwa kumpulan cerpen Dee yang terbaru bagus. Saya lihat bukunya. Madre, dengan cover berwarna oranye lembut. Gambar-gambar yang familiar, saya pernah melihat gambar sejenis itu tapi lagi-lagi saya lupa di mana (sepertinya saya butuh NZT untuk memaksimalkan kerja otak saya :P). Saya pun meminjam dan membacanya.

Beruntunglah saya menyukai cerpen pertama dalam buku itu, Madre. Ketika sampai pada penjelasan bahwa madre berasal dari bahasa Spanyol yang artinya 'ibu', saya bergumam, ”Nah, itu gambar Spanyol!”. Yak, agak kurang penting gumaman saya :P.

Singkatnya, setelah saya membaca buku ini, saya menarik kesimpulan bahwa tokoh utama laki-laki digambarkan terlalu halus. Saya awalnya malah menyangka bahwa tokoh utamanya adalah seorang perempuan.

Berangkat pada suatu pembicaraan dan pengamatan, saya menyakini bahwa cara berpikir laki-laki lebih dekat dengan kelogisan dan perempuan lebih dekat dengan perasaan. Misalnya, ketika melihat kendaraan dengan laju cepat lelaki lebih berkomentar, “Wah, kecepatannya sekitar 120 km/jam, tuh.” sedangkan perempuan lebih berkomentar. “Cepet banget!”. Itu kesimpulan saya semata.

Dan setelah berdiskusi dengan beberapa teman tentang buku ini, kami sepakat bahwa laki-laki dalam cerpen di buku ini lebih halus dibandingkan dengan laki-laki pada umumnya. Saya mengira-ngira apakah karena penulisnya seorang perempuan sehingga sosok lelaki yang digambarkannya jadi demikian. Saya pun membantah sendiri perkiraan saya itu.

Penggambaran cinta dalam setiap cerpen juga begitu lembut. Cinta yang tidak dipaksakan. Seolah-olah takut tokohnya akan bunuh diri karena kegagalan cinta. Ini penggambaran cinta yang khas dari Dee. Dari pengalaman barangkali. Lho :P

Akhirnya saya tidak lagi trauma membaca karyanya. Kali lain saya akan membaca buku-bukunya dan ingin lebih membuktikan cinta seperti apa yang ingin disampaikan oleh seorang Dee.


No comments:

Post a Comment