Monday, August 29, 2011

Disguised - Rita la Fontaine


Ingatkah kalian pada masa penjajahan Jepang di Indonesia tahun 1942-1945? Pasti ingat, karena setelah penjajahan itu Indonesia akhirnya merdeka. Paling tidak kalian sudah membacanya dari buku-buku sejarah ketika masih duduk di bangku sekolah. Lagipula pada bulan Agustus film-film dokumenter tentang masa itu masih sering diputar.

Pernahkah kalian membaca atau melihat dari sudut pandang yang lain tentang penjajahan itu? Kalau belum pernah, silakan baca Disguised karya Rita la Fontaine.

Buku ini ditulis oleh Rita berdasarkan kisah yang dialaminya sendiri ketika masa penjajahan Jepang di Indonesia. Waktu itu ia berusia sekitar 11 tahun. Rita merupakan anak campuran Belanda-Indonesia, ayahnya Belanda dan ibunya Indonesia. Tempat kejadiannya di pulau Sumatera, dari Jambi sampai pulau Bangka.

Ayahnya mendapat kabar bahwa tentara-tentara Jepang suka mendatangkan perempuan-perempuan penghibur ke kemah-kemah mereka. Perempuan-perempuan itu tidak hanya dari Jepang, bahkan pribumi dan orang-orang Belanda yang terhormat pun dipaksa untuk menghibur mereka. Berangkat dari kekhawatiran itu, ayah Rita mengubah penampilan Rita menjadi seorang anak laki-laki. Ia diubah penampilannya, gayanya, dan namanya. Rick adalah nama laki-laki Rita.

Kisah dari sudut pandang anak kecil selalu menarik. Anak kecil itu jujur, ia tidak melebih-lebihkan. Meskipun mungkin buku ini tidak Rita tulis ketika ia masih kecil, tapi kejujuran itu masih melekat pada karyanya ini. Lagipula saya percaya suatu kejadian buruk seperti itu tidak ingin diceritakan secara berlebihan, tidak ada yang bisa dibanggakan dari sebuah pengalaman yang tidak menyenangkan.

Perang itu tidak ada yang menguntungkan. Bahkan Jepang sendiri pada akhirnya merasakan ketidakberuntungannya. Lewat Rita kita akan tahu bagaimana perjuangan bangsanya ketika masa perang itu terjadi. Dari buku ini kita akan tahu bahwa tidak hanya masyarakat Indonesia yang menderita ketika Jepang berkuasa. Orang-orang Belanda yang sudah beranak-cucu di Tanah Air pun turut merasakan kesengsaraannya, meskipun kadarnya berbeda. 

Dikisahkan tawanan Belanda masih diperlakukan lebih manusiawi. Atau mungkin Rita dan kelompoknya lebih beruntung? Mereka harus berpisah dari orang-orang yang dikasihi. Kemah pria dan wanita dipisah. Mereka harus bekerja keras untuk bisa makan. Hal-hal yang tidak pernah mereka lakukan di kehidupan sebelumnya terpaksa mereka lakukan agar dapat bertahan.

Tapi, selama ada kemauan, usaha, kesabaran, cinta, dan doa, semua dapat dilakukan dengan lebih ringan. Harapan-harapan ditebarkan. Mereka percaya suatu saat nanti mereka akan bebas, entah kapan, tapi mereka percaya. Rita percaya bahwa usaha yang dilakukannya, penyamarannya, tidak akan sia-sia. Di usianya yang muda ia belajar bahasa Jepang dan bekerja pada pemerintah Jepang. Semua dilakukannya dengan keberanian dan kepercayaan. Dan akhirnya, bom atom Nagasaki dan Hirosima menjadi gong pembebasan mereka.

Tidak ada yang menyenangkan pada masa perang. Saya tidak percaya perang dapat memecahkan suatu masalah. Dia hanya menambah masalah baru dan mengucilkan manusia dari kebahagiaan dan kebebasan. Semuanya kembali pada hati manusia, jika semua masalah dapat diselesaikan dengan mudah dan indah untuk apa menyelesaikan masalah dengan rumit dan menyedihkan. Itu adalah pilihan yang seharusnya tidak menjadi sebuah pilihan. *saya mulai ngelantur :P




No comments:

Post a Comment