Monday, November 7, 2011

Angkutan Umum

Saya tidak terlalu tertarik menggunakan jasa angkutan umum, baik yang besar seperti bus dan kereta maupun yang kecil seperti mikrolet dan taxi. Jika bisa saya lebih suka menghindari mereka. Kadang saya sendiri bertanya-tanya mengapa saya lebih memilih menaiki mikrolet yang kosong dibandingkan dengan yang penuh. Padahal yang kosong akan jalan lebih lama dibanding yang penuh. Kemarin ketika naik sebuah bus, saya menemukan jawabannya.

Seperti cerita saya sebelumnya, saya menumpangi bus Jepang 45 jurusan Cililitan-Blok M untuk menuju rumah teman saya. Di tengah perjalanan naiklah dua pengamen, mungkin ayah dan anak. Hari itu hari Jumat, bukan hari libur dan ketika itu masih belum pukul 08.00. Awalnya saya berpikir anak ini tidak sekolah, tapi kemudian saya berpikir ulang mungkin ia masuk siang.

Dengan sound sederhana, lagu diputar dan anak itu bernyanyi. Yang membuat tenggorokkan saya sesak adalah ketika mendengar suara anak laki-laki itu. Suaranya sengau, nyanyinya dipaksakan. Suaranya seperti suara orang yang sakit tenggorokkan dan suaranya hilang. Saya rasa ini karena keadaan. Keadaannya membuat suara anak itu berubah. Dia harus bernyanyi dengan suara lantang entah berapa puluh kali tiap harinya. Saya pikir ia sudah terbiasa dengan sengau di suaranya. Tapi ia masih anak kecil!

Jawaban dari pertanyaan saya di atas adalah dalam angkutan umum terlalu banyak rasa. Saya sulit menjelaskan apa 'rasa' yang saya maksud di sini. Mungkin bisa dikatakan seperti perasaan. Rasa pengguna angkutan umum itu begitu semerbak di indera saya. Saya tidak bisa mengaturnya, tidak bisa mengontrol mereka. Saya cukup sensitif terhadap rasa, mungkin karena kebiasaan saya memerhatikan orang sehingga saya begitu peka pada lirikan mata, tarikan bibir, dan gerakan tangan yang begitu sederhana sekalipun. Banyaknya rasa yang meruap itulah yang membuat saya gelisah berada di tengah banyak orang dalam satu tempat. Saya kemudian sadar ini tidak hanya berlaku di angkutan umum tapi juga berlaku pula di tempat-tempat yang ramai. Di tempat ramai saya masih bisa 'kabur' dan pergi mencari tempat yang sepi, namun dalam angkutan umum, saya tidak bisa semata-mata turun. Bisa jadi tujuan yang saya tuju masih jauh.

Sering kali berada di keramaian membuat saya gugup. Jika di dalam angkutan umum, saya akan berusaha memandang ke luar. Sebisa mungkin tidak memerhatikan para penumpang yang lain meskipun mereka memerhatikan saya. Rasa mereka terlalu bermacam-macam, tidak semuanya positif.

Saya suka ketika kemarin saya naik bajaj. Bunyinya, meskipun memekakkan telinga ketika gas ditarik, lebih nyaman di telinga dibandingkan dengan bunyi klakson motor atau mobil yang dibunyikan bertubi-tubi di saat macet. Saya suka kendaraan beroda tiga ini. Mereka unik dan yang pasti tidak sesak orang :D


Saya juga menikmati naik Commuter Line dari stasiun Cawang ke stasiun UI. Waktu itu bukan jam-jam sibuk sehingga kereta tidak terlalu penuh penumpang. Stasiun pun tidak terlalu ramai, sehingga tidak banyak kegelisahan yang harus saya hadapi. Saya dan teman saya duduk di gerbong yang memang dikhususkan untuk penumpang perempuan. Ada beberapa pria yang masuk ke gerbong itu merasa heran mengapa isinya perempuan semua, tapi ketika mereka sadar, mereka mulai mencari gerbong yang lain. Rasanya makin nyaman.


Yang paling tidak nyaman selama perjalanan dua hari kemarin adalah ketika naik mini bus Deborah jurusan Depok-Lebak Bulus. Saya tidak begitu beruntung mendapatkan tempat duduk, sehingga saya harus berdiri dari Depok sampai Lebak Bulus. Tidak terlalu menjadi masalah buat saya, yang menjadi masalah adalah ketika harus berdiri berdesakan dengan penumpang yang lain yang kebanyakan laki-laki. Tidak terlalu nyaman bagi saya. Selain itu jalanan teramat sangat macet sekali (penggunaan kata yang tidak ekonomis karena memang begitu situasinya). Saya makin kesal ketika bus yang hanya bisa menampung sekian orang kemudian masih dijejali dengan penumpang. Saya tahu dengan cara itulah mereka mencari uang, namun bus yang penuhnya berlebihan tidak menjamin keselamatan tidak ada masalah bukan? Sering kali saya melihat Deborah ini sudah miring ke kiri karena kelebihan penumpang. Terkadang saya takut bus itu akan terguling saking berat sebelahnya.

Deborah yang saya naiki ban depannya tidak kempes seperti yang ini :P

Saya bahkan kemarin sempat berdoa, semoga nanti ketika saya lulus dan bekerja, saya tidak mendapatkan pekerjaan di Jakarta. Saya berharap saya mendapatkan pekerjaan di kota-kota lain selain Jakarta. Bagi saya ibu kota ini terlalu menyeramkan dan banyak sisi gelap yang tidak sanggup saya hadapi. Permasalahan angkutan umum dan kemacetan tentu sebagian hal kecil dibanding hal-hal lain yang bertebaran di sini. Saya juga berharap semoga ibu kota kita ini akan semakin baik menata dirinya. Semakin nyaman tempatnya, orang yang diam di dalamnya juga akan semakin tentram.

Kakek dan Cucu Perempuan

Saya selalu suka ke gereja pada hari Sabtu malam. Entah kenapa rasanya begitu menyenangkan. Begitu pula misa (ibadat) Sabtu malam kemarin di Gereja MKK, Meruya. Ini bukan gereja saya. Gereja saya meminjam bangunan gereja MKK karena gereja saya sendiri belum mendapat izin untuk dibangun. Jadilah kami harus mencari tempat yang bisa dipinjam untuk tempat ibadat.

Yang paling menyenangkan sepanjang ibadat kemarin adalah seorang anak perempuan kecil yang duduk bersama kakeknya. Mereka hanya berdua saja. Manis. Anak perempuan itu kita-kira usianya tiga tahun dan kakeknya kira-kira 60-70 tahun. Saya tahu itu kakeknya karena anak itu memanggil "Kung-kung" yang artinya kakek.

Kung-kung dan Cucu Perempuannya

Saya selalu suka melihat hubungan antara kakek dengan cucu perempuannya. Beda dengan kakek yang bersama dengan cucu laki-lakinya atau nenek dengan cucu perempuan atau laki-lakinya. Seorang kakek dengan cucu perempuannya itu menarik. Melihat mereka seperti melihat keajaiban. Hati saya jadi tentram. Perbedaan umur yang mencolok itu malah menjadikan mereka begitu manis.

Tingkah laku anak itu begitu menggemaskan. Sesekali ia tersenyum pada Kung-kungnya. Senyumnya begitu mencairkan hati saya. Matanya yang berbinar begitu mencuri hati saya. Oh! Anak perempuan itu begitu menggemaskan! Entah berapa kali saya tersenyum melihat anak kecil itu.


Sang kakek dengan sabar meladeni cucunya. Diberinya biskuit. Setelah habis, kakek mengeluarkan sapu tangan dan mengelap tangan cucunya. Kemudian kakek itu menyodorkan tempat minum. Semuanya dilakukan dengan hati-hati, tidak terburu-buru, dan tidak canggung. Rasanya saya puas melihat pemandangan seperti itu.

Ketika homili (khotbah), pastor bercerita tentang seorang manusia yang didatangi oleh malaikat Tuhan. Malaikat itu memberitahu bahwa ia akan meninggal dalam waktu lima belas menit. Apa yang akan kamu lakukan dalam waktu lima belas menit itu? Lima belas menit terakhir di sisa hidupmu.

Pikiran saya kemudian mencari. Kira-kira apa yang akan saya lakukan dalam waktu lima belas menit. Jika ditilik dari kebiasaan saya, saya mungkin akan menghabiskan sekitar lima menit untuk bertanya-tanya apakah benar saya akan mati lima belas menit nanti. Lalu sekitar lima menit kemudian untuk serangan panik yang biasa saya dapatkan ketika menghadapi hal-hal yang tidak terduga. Tersisalah lima menit terakhir, apa yang harus saya lakukan? Saya tahu, saya akan duduk manis selama lima menit terakhir itu. Jika ada seorang kakek dan cucu perempuannya duduk di depan saya, saya akan menghabiskan lima menit terakhir saya untuk menikmati mereka.

Bagi saya, tidak adil jika saya bertobat dalam waktu lima belas menit padahal saya melakukan dosa di seumur hidup saya. Apakah dengan waktu lima belas menit dapat menjamin saya masuk surga? Toh bukan saya yang menentukan akan ke mana nantinya saya setelah saya hilang dari dunia ini. Tidak adil pula saya meminta maaf pada orang-orang yang saya benci karena saya akan meninggal. Berarti itu tidak saya rencanakan sebelumnya, tidak tulus dari hati saya. Akan lebih baik bagi saya untuk duduk dan menanti apa yang akan terjadi pada diri saya.

Saya akan selalu menanti-nantikan momen menyenangkan seperti malam kemarin. Bayangan kakek dan cucu perempuannya itu begitu melekat di kepala saya. Saya begitu bersyukur karena hal-hal ajaib muncul secara ajaib pula. Selamat menunggu keajaiban :)

Cucu memegang lengan kakeknya ketika kakeknya sedang berdoa

Sunday, November 6, 2011

Catatan 3-4 November 2011

Perjalanan menembus ibu kota dengan menggunakan transportasi angkutan umum ternyata menyenangkan dan memberi warna tersendiri. Saya jarang menggunakan angkutan umum karena beberapa hal (mungkin saya akan menulisnya dalam catatan tersendiri) dan dua hari kemarin (3-4 November), mau tidak mau, suka tidak suka saya harus memanfaatkannya. Kebiasaan berjalan kaki di Jatinangor pun kemudian terbawa hingga ke ibu kota. Biasanya saya yang sering menggunakan ojeg lebih memilih berjalan kaki di sini.

Bermula dari niatan mencari bahan-bahan skripsi, saya janjian dengan dua orang teman di Universitas Atma Jaya. Dari rumah saya ke sana cukup sekali naik bus, patas 44 jurusan Ciledug-Senen. Sekitar pukul 08.00 saya sudah duduk manis di bus. Perjalanan cukup menyenangkan dan menyebalkan. Menyebalkan karena macet. Ya, kapan ibu kota ini tidak mengenal kata 'macet'? Entah di jalan besar atau kecil, macet sudah akrab dengan masyarakat.

Lepas dari kurang beruntungnya saya mencari bahan, saya cukup menikmati kunjungan singkat di mantan kampus saya itu. Dulu saya sempat terdaftar sebagai mahasiswa di sana sampai akhirnya saya memutuskan untuk masuk Unpad.

Siangnya, saya dan kedua teman saya menghabiskan waktu di mall sebelah kampus Atma. Lagi-lagi itu menyenangkan. Saya pikir alasan kami lebih tepat ingin mengunjungi mall dibandingkan ke perpustakaan bahasanya sendiri. Hahaha...

Seorang sahabat lama saya pun mendatangi saya ketika ia tahu saya ada di Semanggi. Selesai bertugas ia langsung pergi mengunjungi saya. Berkutatlah kami di Semanggi hingga malam tiba.

Tadinya saya tidak berniat menginap di kosannya, di Cawang, tapi karena saya tidak berani pulang malam dengan angkutan umum (mungkin belum terbiasa) saya pun memutuskan menginap di kosan sahabat saya itu. Pergilah kami menggunakan taxi.

Esoknya, saya dan kedua teman saya kembali memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Tujuan kami ke perpustakaan pusat Universitas Indonesia, perpustakaan yang katanya termegah di Asia (Tenggara?) itu.

Dari Cawang saya ke rumah teman dulu, daerah Kemang. Naiklah saya bus Jepang 45 jurusan Cililitan-Blok M. Kenapa nomernya 45? Secara kebetulan bus itu buatan Jepang dan nomernya 45, mengingatkan saya pada... Semangat 45! Hahahaha...

Dari rumah teman saya itu kemudian kami kembali lagi ke Cawang. Menuju jalan raya kami naik bajaj! Ya, bajaj! Sudah lama saya tidak naik transportasi yang satu ini dan rasanya masih menyenangkan! Lalu menuju Cawang kami naik bus, bukan bus Jepang, dan saya lupa nomer berapa jurusan apa. Di cawang kami naik kereta, Commuter Line, sampai stasiun UI.

Perpustakannya menyenangkan. Saya betah dan betah dan betah. Beberapa referensi saya dapatkan. Rencananya nanti saya akan membuat satu tulisan tentang perpustakaan UI ini.

Sore menjelang dan kami harus pulang. Saya putuskan untuk naik mini bus Deborah menuju Lebak Bulus. Bukan perjalanan yang menyenangkan. Paling tidak saya bersyukur saya dapat sampai Lebak Bulus dengan selamat.

Dari Lebak Bulus saya naik angkutan umum C14 jurusan Lebak Bulus-Ciledug. Perjalanan panjang lain yang harus saya tempuh. Sampai di Ciledug saya menyambung satu angkutan umum lagi untuk sampai di depan perumahan saya.

Perjalanan dua hari ini penuh pengalaman dan kesan. Penuh rasa yang dapat saya hirup dalam pori-pori tubuh saya. Dan yang pasti, perjalanan dua hari ini begitu melelahkan.

NB: SAYA BENCI MACET DAN BUNYI KLAKSON!

Tuesday, November 1, 2011

GSSTF, Sabtu, 29 Oktober 2011


Kemarin (29 Oktober 2011), lagi-lagi, kebetulan saya menyaksikan pementasaan GSSTF. Tadinya saya hanya ingin mampir sejenak di Nalar untuk bertemu dengan kawan-kawan di sana. Tapi ternyata Teh Mona memberitahu bahwa pukul 19.00 akan ada pementasan GSSTF di Gor Pakuan. Saya pun dengan senang hati akan menontonnya. Kali ini GSSTF mementaskan sebuah drama karya Nano Riantiarno.

Entah saya harus merasa senang atau gelisah, ternyata beberapa orang mengenal saya ketika saya diperkenalkan. Saya sudah diberitahu bahwa catatan saya tentang pementasan GSSTF sebelumnya di-share­ di group GSSTF di facebook. Saya pasti senang karena ternyata banyak yang mengapresiasi tulisan saya, tapi saya juga gelisah, takut banyak yang memandang negatif terhadap tulisan saya.

Beberapa orang kemudian meminta saya untuk menulis catatan tentang pementasan kali ini. Dari awal saya memang sudah berniat untuk menulis, namun diminta secara verbal malah membuat saya was-was dan semakin gelisah.

Ketika lampu dinyalakan, seorang pastor bangkit dari sebuah kursi goyang di kiri panggung. Kursi itu letaknya di sebelah kiri pintu. Seting panggung membentuk ruang tamu/keluarga sebuah rumah. Saya mencoba menggambarnya. Kira-kira seperti di bawah ini. Maaf jika ternyata gambar saya sama buruknya dengan tulisan saya :P



Keterangan:
  1. Kursi goyang
  2. Pintu masuk
  3. Jendela
  4. Pintu menuju dapur
  5. Jam Antik
  6. Pintu menuju kamar
  7. Dua buah lukisan
  8. Meja dapur + kompor
  9. Rak baju
  10. Rak buku
  11. Meja seterika
  12. Sofa
Adegan dimulai. Tokoh Mama sibuk di dapur. Lalu ia sibuk membangunkan anaknya, Benny. Sambil berteriak “Bangun!” Mama memukulkan tangannya di wadah besar yang terbuat dari kaleng. Ketika melihat adegan ini, saya kembali teringat akan pementasan yang lalu. Mama, kebetulan, diperankan oleh Iska. Pementasan yang lalu Iska memerankan tokoh perempuan tanpa mulut, sekaligus pengamen, dan hansip. Adegan itu sedikit mengganggu saya. Mungkin akibat pukulan kaleng yang bertubi-tubi. Ia hendak membangunkan anaknya, yang akhirnya berhasil, dan ia juga hendak membangun suasana yang tidak menyenangkan bagi penonton, dan itu juga berhasil.

Sayangnya, muka Mama tertutup oleh rambut yang tidak sepenuhnya terikat sehingga saya kurang jelas melihat mimik muka ketika ia berbicara. Meskipun tokoh Mama adalah seorang wanita tua yang miskin dan tidak terlalu memperdulikan penampilan, yang ditonjolkan oleh rambut, hal itu menghalangi penonton untuk melihat wajah Mama jika ia berbicara menyamping.

Lagi-lagi saya menyayangkan tempo pembicaraan yang cepat. Meskipun secara keseluruhan semua tokoh mempunyai vokal yang kuat dan artikulasi yang baik, tempo bicara setiap tokoh terlalu cepat sehingga saya juga tergesa-gesa menangkap setiap kalimat yang dilontarkan. Imbasnya, respon dari tiap kalimat dan beberapa kalimat penting pun jadi terlewatkan maknanya. Tapi saya kemudian berpikir, mungkin terlinga saya sajalahnya yang terlalu lama menangkap suara :P

Lalu Mama mulai memungut pakaian-pakaian yang berserakan di ruang itu. Saya kira itu baju kotor, tapi ternyata itu baju bersih karena kemudian Mama mulai menyeterikanya. Sepengalaman saya dan setahu saya, baju yang dibiarkan tergeletak adalah baju kotor, baju yang telah dipakai. Karena terlalu malas, saya kemudian menaruh baju kotor itu sembarang. Lagi pula, setelah beberapa saat menyeterika, Mama menyuruh mengambil baju bersih di dalam kamar.

Saya pikir adegan menyeterika itu merupakan adegan yang ‘berbahaya’. Banyak hal kecil yang harus diperhatikan. Jika itu lewat, akan mudah sekali ketahuannya. Misalnya, Mama mencolokan seterika ke sebuah terminal di bawah meja. Biasanya kita akan menunggu seterika itu panas baru menggunakannya. Tapi ternyata setelah beberapa detik seterika itu dicolok, Mama segera menyeterika. Kalau benar dialiri listrik, pasti seterika itu belum panas.

Contoh lain, ketika Magda, anak perempuan Mama, melanjutkan menyeterika, Magda mengambil minum di dapur padahal baju yang sedang ia seterika belum selesai. Lagi-lagi, sepengalaman dan setahu saya, jika kita ingin melakukan hal lain yang masih bisa ditunda ketika menyeterika, misalnya pergi ke kamar mandi, minum, dan sebagainya, kita akan menyelesaikan satu baju yang sedang diseterika. Beda halnya ketika ada telepon atau ada orang yang mengetuk pintu, kita akan menunda dulu menyeterika.

Lalu, ketika Mama pergi sejenak keluar untuk menitipkan belanjaannya, Mama meninggalkan seterika dalam keadaan hidup. Padahal mereka adalah orang miskin yang seharusnya peka terhadap biaya hidup yang mereka tanggung.  

Saya kagum dengan seting ruang dalam pementasaan ini. Ada pintu dan jendela sebagai sekat, tapi ternyata para pemain tidak konsisten dengan ruang yang telah mereka bangun. Ketika Magda dan Benny berbicara di depan, di dekat pintu menghadap penonton, saya berpikir, apakah mereka tidak tahu bahwa mereka itu berbicara dengan tembok, bukan dengan penonton. Sama halnya ketika Mama berbicara dengan Papa. Malah sebenarnya mereka telah menabrak tembok yang tidak kasat mata itu. Karena tidak ada tembok yang terlihatlah kemudian mereka lupa bahwa sebenarnya ada tembok di hadapan mereka.

Saya kemudian bermain-main sedikit dengan imajinasi saya. Di bayangan saya, saya akan menukar posisi pintu masuk dengan jendela. Atau bahkan saya akan menambahkan sebuah jendela di sebelah kanan pintu masuk. Dengan adanya sebuah jendela tambahan di depan, tentu akan membantu membangun sebuah motif ketika ingin berbicara di depan. Itu juga membantu membuat batas ruang menjadi lebih jelas sehingga penonton tidak malah lebih memperhatikan kaki dibandingkan dialog-dialog pemain.

Ada satu adegan yang menumpuk di sofa. Awalnya di sofa duduk Papa dan Magda. Kemudian Magda pergi sejenak dan duduklah Benny di sebelah Papa. Setelah Magda kembali, saya kira ia akan duduk di kursi kecil di sebelah sofa. Tapi ternyata Magda lebih memilih duduk di belakang Benny. Sofa itu cukup kecil, sehingga dengan adanya dua orang mendudukinya, itu sudah lebih dari cukup. Padahal ada sebuah kursi yang disediakan di kiri sofa, mengapa ia tidak digunakan. Karena tiga orang berada dalam satu sofa, saya sebagai penonton merasa itu tidak lagi nyaman dilihat, janggal.

Ketika tokoh Oma muncul, saya merasa saya pernah melihatnya. Kalau tidak salah tokoh Oma adalah perempuan yang membaca cerpen ketika acara Open House GSSTF. Koreksi saya bila salah. Oh ya, ini hanya intermezo J

Tokoh Oma hanya diperjelas oleh tubuh yang bungkuk. Tata riasnya tidak menunjukkan bahwa Oma sudah tua. Nada bicaranya juga hanya menegaskan bahwa ia seorang perempuan yang banyak bicara dan menyebalkan. Karakternya sendiri kurang kuat. Saya penasaran, mengapa Oma menggunakan sarung biru di bawah dress yang ia gunakan? Saya berharap ada yang bisa memberikan tanggapan.

Berbicara tentang rias wajah, rias wajah tokoh Mama juga tidak pas. Menurut saya malah tokoh Mama lebih muda dibandingkan anaknya sendri, Magda. Selain rias wajah, karakter tokoh Mama juga tidak kuat. Sifat keibuan yang biasanya muncul dari seorang ibu tidak muncul pada tokoh Mama.

Menjelang penghujung pementasan, teman yang menonton di sebelah saya bertanya apakah kursi goyang itu tidak difungsikan lagi. Saya jawab, mungkin nanti akan digunakan, pasti ada fungsi lainnya. Benar saja, Mama duduk di kursi goyang itu setelah Papa pergi. Lalu tidak lama muncul seorang Polisi yang mengabarkan bahwa Papa meninggal dalam kecelakaan. Sudut letak kursi goyang menurut saya tidak pas. Sisi itu terlalu sempit, dan lagi ketika terjadi percakapan antara Mama dengan Polisi jarak mereka jadi tidak enak dilihat karena Polisi terbentur oleh pintu masuk. Jika ia terlalu maju, maka ketika ia bicara dengan Mama ia akan blocking.

Mungkin banyak yang berkata bahwa saya terlalu memperhatikan hal-hal kecil yang tidak terlalu penting. Tapi bagi saya, ketika hal-hal kecil itu dilupakan, maka ia akan menjadi sebuah hal yang besar. Tidak ada hal besar yang tidak ditopang oleh hal kecil. Ini bukan tidak penting, hanya saja terkadang orang malas untuk membenahinya.

Kiranya semoga kita bisa sama-sama belajar dari setiap pengalaman yang kita alami. Mudah-mudahan saya tidak dianggap sebagai penonton yang hanya tukang kritik. Saya kadang menyadari bahwa saya lebih ‘ahli’ membenahi dibandingkan memainkan sebuah peran. Dan semoga tulisan ini tidak terlalu menyedihkan karena saya sendiri masih kurang puas dengan apa yang saya tulis.

Selamat ulang tahun GSSTF. Semoga bertambah besar dan berumur panjang. Semoga setiap karya yang dihasilkan senantiasa lebih baik J

NB1: sebaiknya sendal yang digunakan ditambah. Masa satu rumah dengan empat orang keluarga hanya punya satu sendal?

NB2: mungkin akan lebih baik jika Papa menggunakan sepatu berwarna hitam agar lebih terlihat sebagai seorang pekerja.

NB3: tidak harus jam antik, lebih penting jika jam itu berdetak. Lagipula bunyi detak jam kadang malah membangun suasana yang diinginkan. Meskipun akan ada persoalan ternyata jam itu hanya bergerak selama satu jam yang seting waktunya dari pagi hingga tengah malam.

November Tiba


November tiba. Saya masih sosok yang sama, masih terpaku pada hal-hal wajib yang harus saya benahi. Saya masih terlalu lambat mendayung sampan yang saya naiki. Saya tahu, ada hamparan pasir yang menunggu saya, tapi saya ragu apakah kaki saya masih dapat menjejak kuat di atasnya.

Saya masih sosok yang sama, masih suka berandai-andai dengan masa depan. Masih terpaku pada masa lalu yang tersisa pada keping-keping kenangan. Masih berharap saat ini adalah saat yang tepat untuk melaju menembus ketidakpastian.

November tiba. Harapan saya masih sama. Atau mungkin sedikit berubah karena ternyata kenyataan terlalu menyeramkan untuk diterima. Saya mungkin masih bisa menunggu, tapi kadang waktu tidak suka menunggu.

Friday, October 28, 2011

Selamat tanggal 28 Oktober!

Aha! Selamat tanggal 28 Oktober pemuda dan pemudi Indonesia. Semoga kaum muda Indonesia semakin satu dan padu.

Selamat ulang tahun juga untuk adik saya, Okky, yang ke-19. Semoga menjadi pribadi yang lebih dewasa dan lebih bijaksana. Semoga kamu bisa mengerti kalau dunia ini ternyata begitu rumit untuk dicerna :)

Oktober dan Bahasa


Bertepatan dengan peringatan bulan bahasa pada bulan Oktober ini, Gelanggang, Himpunan Mahasiswa Sastra Indonesia Unpad, mengadakan sebuah acara Kami, Oktober, dan Bahasa tanggal 26-27 Oktober kemarin di Auditorium Bale Santika Unpad. Rangkaian acaranya berupa lomba pidato untuk mahasiswa asing, lomba pidato untuk mahasiswa Indonesia, lomba membuat puisi, diskusi, dan beberapa hiburan seni.

Saya tidak mengikuti acara ini dari awal. Saya hanya hadir pada hari kedua ketika ada pementasan Teater Djati. Setelah pementasan rencananya saya akan pulang, tapi ternyata ditahan oleh seorang teman untuk mengikuti diskusi. Diskusi ini bertema Bahasa dalam Dunia Media Massa Kini dengan pembicaran Bapak Teddi Muhtadin dan Bapak S. Sahala Tua Saragih. Diskusi ini lebih mengerucut pada penggunaan bahasa Inggris pada berita di media massa, atau lebih dikenal dengan istilah campur kode (kalau istilah Pak Sahala bahasa gado-gado).

Ternyata tidak salah saya ditahan oleh teman saya untuk mengikuti diskusi ini. Diskusi berjalan dengan baik dan menarik untuk saya. Mahasiswa yang hadir, meskipun kebanyakan adalah panitia, cukup tertib menyimak berbagai persoalan yang disampaikan.

Ketika sesi tanya-jawab dimulai, berbagai pertanyaan muncul. Ada yang pro, ada yang kontra. Semua dapat ditanggapi dengan jawaban yang dapat memuaskan saya.

Satu hal yang dapat saya simpulkan dari diskusi ini, yang sudah disimpulkan pula oleh moderator (Indra Sarathan), adalah untuk dapat mencintai bahasa Indonesia kita harus mencintai tanah air kita ini.

Pernyataan kedua teman saya, Eka dan Upil, pada sesi tanya-jawab menggugah saya, agak membuat saya risih. Eka mengatakan bahwa bahasa Inggris lebih praktis dibandingkan bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia, ada banyak kata yang harus ditempatkan pada hal yang tepat, misalnya, kata ‘saya’ mempunyai begitu banyak variasi, seperti aku, hamba, beta, dan sebagainya, sedangkan dalam bahasa Inggris hanya ada satu, yaitu ‘I’. Upil pun sepakat dengan pernyataan Eka.

Menurut saya, penggunaan kata saya, aku, hamba, beta justru malah akan membuat bahasa kita semakin unik. Penggunaan kata-kata tersebut di saat yang tepat tentu akan menjadikan makna yang dihasilkan berbeda. Kata ‘saya’ lebih formal daripada kata ‘aku’, penggunaan kata ini pun akan memperlihatkan jarak antara dua orang yang sedang berbincang. Kata ‘hamba’ kerap digunakan untuk orang yang status sosialnya lebih rendah dibanding orang yang diajak bicara, banyak kita temui dalam cerita-cerita kerajaan pada masa lalu. Sedangkan kata ‘I’ akan menyamaratakan dan tidak menjadikan perbedaan antara orang yang diajak bicara.

Saya punya pendapat sendiri mengapa banyak orang yang mencampuradukkan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam penggunaannya sehari-hari. Objek yang saya perhatikan adalah remaja-remaja dan orang-orang yang saya temui dalam keseharian saya. Banyak yang menggunakan kata-kata dalam bahasa Inggris untuk menyampaikan maksudnya karena tidak dapat menemukan padanan yang tepat dalam bahasa Indonesia. Zaman sekarang banyak yang sudah diperkenalkan dengan bahasa Inggris sejak mereka masih kecil, sehingga kata-kata itu lebih melekat pada mereka. Ini artinya mereka memang sudah terbiasa dengan bahasa Inggris sehingga jauh lebih mengenal bahasa Inggris dibandingkan dengan bahasa Indonesia.

Ada pula yang menggunakan bahasa Inggris karena dengan bahasa Inggris mereka akan lebih terpandang (hmmm.. mungkin istilah kasarnya akan terlihat lebih gaul). Saya tidak hanya semata-mata menyimpulkan secara kasar karena hal ini berdasarkan kenyataan. Ada beberapa teman yang mengaku bahwa jika ia berbicara campur kode seperti itu ia akan terlihat lebih keren. Padahal belum tentu bahasa Inggris yang digunakan benar.

Teringat sebuah percakapan antara saya dan seorang teman, Si A. Di timeline twitter kami ada seorang teman, Si B, yang belakangan lebih sering berujar dengan menggunakan bahasa Inggris padahal Si B ini satu jurusan dengan saya. Memang tidak ada salahnya ia menggunakan bahasa Inggris, tapi ternyata bahasa Inggris yang digunakan oleh Si B ini berantakan. Kemudian saya menilai, saya tentu mengenal dengan baik Si B ini, bahwa ketika ia menuliskan kalimat-kalimat dengan menggunakan bahasa Inggris, ia merasa dipandang lebih keren oleh orang-orang yang membaca twitter-nya.

Dari dulu saya selalu tertarik dengan bahasa Indonesia. Mungkin karena saya suka membaca. Kebiasaan membaca membuat saya kemudian masuk ke jurusan Sastra Indonesia. Tapi tidak semua mahasiswa Sastra Indonesia mengagung-agungkan bahasa Indonesia, apalagi teman-teman sepermainan saya. Banyak yang bertanya (aku ini mau jadi apa *lho kok nyanyi :P) mengapa saya masuk Sastra Indonesia, apakah saya tidak cukup belajar bahasa Indonesia dari TK sampai SMA. Begitu pesimisnya mereka terhadap Sastra Indonesia dan bahasa Indonesia.

Belajar bahasa Indonesia kerap kali membuat telinga saya agak sensitif terhadap penggunaan kata-kata yang salah. Acap kali saya membetulkan kata yang diucapkan seorang teman ketika ia bicara, misalnya ia menggunakan kata ’dirubah’ dan kemudian saya membetulkannya menjadi ‘diubah’. Kadang ada yang menerima, kadang ada yang kesal saya sok-sokan membetulkan ucapannya. Maksud saya toh baik, paling tidak saya bisa memberitahu mereka mana kata yang tepat dan mana yang tidak. Tapi ternyata tidak semua teman menganggap hal itu penting.

Tidak ada yang bisa disalahkan ketika tidak semua orang Indonesia bangga pada bahasa Indonesia. Dunia sekarang begitu maju, banyak kebutuhan lain yang lebih penting. Tapi apakah melestarikan dan mengembangkan bahasa Indonesia tidak cukup penting? Mungkin memang banyak yang tidak cinta pada tanah air kita ini, atau mereka cinta tapi tidak begitu memperdulikan bahasa yang menyatukan berbagai suku dan budaya ini.

Tuesday, October 25, 2011

Les Choristes (The Chorus)

Film Les Choristes (The Chorus) dibuat pada tahun 2004. Kalau tidak salah pertama kali saya tonton film ini sekitar tahun 2008/2009. Dan belakangan ini, saya berkali-kali lagi menontonnya.

Film ini bercerita tentang seorang pengawas sekolah bernama Clement Mathieu. Mathieu mulai bekerja di Fond de L’Etang pada tanggal 15 Januari 1949. Fond de L’Etang adalah sebuah sekolah dan asrama milik pemerintahan yang menampung anak-anak miskin dan terlantar.



Mathieu pada dasarnya seorang musisi. Awalnya ia tidak ingin melanjutkan hasrat menulis musiknya, namun ketika ia mendengar anak-anak itu bernyanyi, ia mulai menemukan ide-idenya. Ia kemudian membentuk paduan suara. Anak-anak yang kebanyakan nakal itu dilatihnya bernyanyi.

Clement Mathieu
Tidak hanya mengajarkan musik, Mathieu pun membawa suasana baru di tempat itu. Kepala sekolahnya, Rachin, merupakan seorang pria yang keras dan disiplin. Motonya adalah Action, Reaction! Jika seorang anak berbuat salah, ia akan mendapatkan hukuman yang setimpal, biasanya hukuman kurungan, pukulan, dan membersihkan sekolah. Tapi Mathieu tidak turut menerapkan displin semacam itu.

Seorang anak dengan suara indah memikat Mathieu dan saya (lho). Anak itu bernama Pierre Morhange. Wajahnya tampan, menarik, bahkan dapat dikatakan cantik. Julukannya adalah wajah malaikat. Tapi ia nakal. Ia mencoba untuk menjadi anak nakal. Mungkin untuk menujukkan bahwa ia seorang anak lelaki, tidak peduli wajahnya rupawan.


Pierre Morhange
Lagu-lagu indah disajikan dalam film ini. Dengan suara emas Morhange dan keahlian Mathieu, musik dapat didengar dipenjuru sekolah. Bangunan yang tadinya suram tampak lebih hidup.



Masalah muncul ketika seorang anak nakal, Mondain, pindah ke sana. Ia tidak mau menaati peraturan. Ia menghasut beberapa anak untuk tidak percaya pada guru, bahkan pada diri mereka sendiri. Mondain beberapa kali terlibat masalah, beberapa kali pula ia dikurung. Sampai pada akhirnya ia kabur dan ditangkap oleh polisi. Ia dibawa kembali ke Fond de L’Etang. Ia juga dituduh mencuri uang untuk kebutuhan sekolah. Dan kemudian dia dikembalikan ke sekolahnya yang dulu.

Kebaikan dan kepercayaan Mathieu terhadap anak-anak dan musik membawa pengaruh baik pada sekolah itu. Guru-guru lain yang awalnya keras, mulai menunjukkan sifat aslinya. Bahkan sifat keras Rachin pun mulai sedikit mencair.

Di akhir diceritakan terjadi kebakaran di Fond de L’Etang. Saat itu tidak ada siapa-siapa di sana. Rachin sedang menghadiri rapat, guru-guru sedang pergi berlibur, dan Mathieu mengajak anak-anak keluar untuk menikmati udara musim panas. Ternyata kebakaran itu disebabkan oleh Mondain. Mungkin ia kabur dari sekolahnya. Ia dendam pada Rachin yang menuduhnya mencuri uang sekolah, yang memang bukan ia yang mencurinya, dan akhirnya membakar Fond de L’Etang.

Rachin memecat Mathieu karena Mathieu meninggalkan sekolah bersama murid-muridnya tanpa persetujuan Rachin. Mathieu pun pergi tanpa perpisahan dengan anak didiknya. Namun anak-anak itu tahu ia dipecat. Mereka menerbangkan kertas-kertas yang bertuliskan ‘Selamat tinggal’ kepada Mathieu dari jendela kelas. Mereka melambaikan tangan dan bernyanyi. Mereka bahkan mengunci diri mereka di kelas.

Pepinot, seorang anak yatim-piatu, memaksa ikut dengannya. Awalnya Mathieu menolak, namun akhirnya ia membawa serta Pepinot.

Setelah Mathieu pergi, guru-guru yang lain, Chambert dan Mr. Langlois, serta penjaga sekolah, Maxence, melaporkan keburukan-keburukan Rachin. Rachin pun harus pergi dari Fond de L’Etang. Morhange keluar dari sekolah itu. Ia hidup bersama ibunya dan bersekolah di Lyon.

Pepinotlah yang membawa buku harian Mathieu kepada Morhange lima puluh tahun kemudian. Ia memberikan buku harian itu untuk menujukkan kebenaran yang terjadi selama hidup di Fond de L’Etang. Morhange saat itu sudah menjadi seorang komposer yang terkenal. Berkat Mathieulah, Morhange mendapatkan beasiswa di sekolah musik Lyon.

Alasan saya menyukai film ini mungkin karena dalam film ini ada lagu-lagu indah yang nyaman di telinga saya. Saya suka film yang berkaitan dengan musik dan lagu-lagu, seperti Tangled, Copying Beethoven, August Rush, Lion King, dan sebagainya.

Tidak hanya lagu, saya suka pemikiran Mathieu yang percaya bahwa kekerasan bukanlah jalan satu-satunya untuk menerapkan disiplin. Ia menggunakan bakat, intuisi, dan kesabaran. Ia merangkul satu persatu anak. Ia beri mereka kepercayaan dan harapan. Dan itu berhasil. Anak-anak yang awalnya nakal itu berubah. Mereka dapat menjadi lebih disiplin dibandingkan ketika mereka diberi kekerasan.

Mathieu juga bukan orang yang memikirkan diri sendiri. Ia jatuh cinta kepada ibu Morhange, Violetta. Namun ternyata cintanya taksampai. Violetta menemukan pria lain dan menganggap Mathieu adalah seorang yang membawa keberuntungan bagi hidupnya. Bisa saja ia melampiaskan rasa patah hatinya kepada Morhange, tapi memang pada dasarnya ia baik hati, ia malah terus mendorong Morhange untuk berkarya.