Monday, November 5, 2012

Ara, Payung Biru, dan Pria di Sudut Jalan


Rintik hujan mulai turun. Ara bergegas mengeluarkan payung birunya. Ada gunanya juga punya payung, pikirnya. Segera rintik menderas, membuat suara berisik ketika bersentuhan dengan kain payung Ara. Orang-orang di sekitar jalan mulai menyingkir, mencari atap-atap untuk berteduh. Pengendara motor segera menepi, mencari jas hujan yang terselip di bawah jok motornya. Hanya pengendara mobil yang lancar melintasi jalan.

Hujan semakin deras tapi Ara tetap berjalan. Ia ingin segera pulang ke rumahnya. Kasur dan selimut hangat sudah menunggu. Tadi pagi ditinggalkan buru-buru karena Ara sudah terlambat.

Ara tidak peduli ketika ada beberapa mulut usil yang berteriak agar ia menepi. Hujan katanya. Ara tahu saat itu hujan. Tapi ia punya payung biru. Paling tidak ia aman dari serangan air bertubi-tubi.

Di jalan setapak itu, bukan hanya Ara yang berani menjejak tanahnya. Seorang pria berjaket biru berjalan di bawah derasnya air. Ah, itu dia. Pria yang menghantui malam-malam di kala ia tidak bisa lelap. Beranikah ia menyapanya? Untuk apa? Tangkai payung semakin ia genggam erat.

Semakin dekat menuju rumahnya, Ara pelankan langkah. Ia ingin berbagi ruang di bawah payung birunya pada pria itu. Pria berbulu mata lentik dengan bola mata yang menari-nari di pikirannya.

Pria itu menuju sebuah belokan di ujung jalan. Tolong, pelankan langkahmu. Hanya kata-kata tanpa suara yang mampu Ara ucapkan. Ambil payung biruku agar kamu takkuyup disiram hujan.

Rasanya, ingin Ara percepat langkah, samai langkah pria itu. Lalu diberikan payung birunya agar pria itu takusah lagi berjalan terburu-buru. Ara hanya bisa memandangi punggungnya menghilang ke sudut jalan itu. Hujan makin deras. Tinggal Ara dan payung biru, serta bayangan pria itu.

No comments:

Post a Comment