Thursday, April 26, 2012

Paul McCartney - My Valentine


Lagu yang bagus dengan video klip yang bagus. Itulah yang bisa saya gambarkan ketika menonton video klip lagu Paul McCartney yang berjudul My Valentine.

Siapa yang tidak mengenal tokoh dalam video ini. Ada Natalie Portman dan Johnny Deep, dua aktor yang laris-manis dalam perfilman Hollywood. Dua aktor pujuaan saya. Pantas saja saya jadi suka video ini. Hahahaha... Tidak, tidak. Bukan hanya karena ada mereka berdua dalam video ini, tapi memang video ini bagus pada dasarnya. Ketika yang memerankan ternyata Natalie Portman dan Johnny Depp, semakin baguslah video ini :P

Tidak berwarna, hanya hitam-putih. Menjadikannya klasik, misterius, suram, akrab, dan nyaman. Penggunaan bahasa isyarat pun menjadikan video ini semakin memikat. Saya suka melihat gerak tangan dan gerak bibir Natalie Portman. Melihatnya membuat saya terbius. Johnny Depp di video itu juga sangat terlihat maskulin! Hahaha...

What if it rained?  
We didn't care  
She said that someday soon the sun was gonna shine 
And she was right, this love of mine, My Valentine
 
As days and nights, would pass me by 
I tell myself that I was waiting for a sign  
Then she appeared, a love so fine, My Valentine
 
And I will love her for life  
And I will never let a day go by  
without remembering the reasons why 
she makes me certain that I can fly
 
And so I do, without a care 
I know that someday soon the sun is gonna shine  
And she'll be there This love of mine My Valentine

What if it rained?  
We didn't care 
She said that someday soon the sun was gonna shine  
And she was right This love of mine, My Valentine

Wednesday, April 25, 2012

obrolan tembok #4


Rasanya, ingin kupercepat langkah, samai langkahmu. Lalu kuberikan payung biruku agar kau takusah lagi berjalan terburu-buru. Aku hanya bisa memandangi punggungmu menghilang ke sudut jalan itu. Hujan makin deras. Tinggal aku dan payung biruku, serta bayanganmu.

#JatuhCintaItuSederhana

Catatan Ichiyo, Perempuan Miskin di Lembar Uang Jepang - Rei Kimura



Judul               : Catatan Ichiyo, Perempuan Miskin di Lembar Uang Jepang
Penulis             : Rei Kimura
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit    : 2012

Beberapa orang dilahirkan untuk bekerja keras sementara yang lain dilahirkan untuk hidup enak dan bahagia.

Kutipan di atas, yang diambil dari novel tersebut, kurang lebih inti yang dapat diambil dari tokoh Ichiyo Higuchi. Ichiyo seorang perempuan Jepang pada zaman Meiji, yang begitu mencintai sastra namun ternyata kematian lebih menyayanginya. Dalam usia yang relatif muda, 24 tahun, Ichiyo meninggal di awal ketenarannya sebagai penulis.

Novel ini mengisahkan perjalanan hidup Ichiyo dan keluarganya. Dibuka dengan kisah pada hari Ichiyo meninggal, 22 November 1896. Kemudian bab berikutnya masuk pada kisah pertemuan ayah dan ibu Ichiyo, Noriyoshi Higuchi dan Furuya Ayame.

Pertemuan yang tidak sengaja ternyata membuat Noriyoshi dan Furuya jatuh cinta. Sayangnya hubungan cinta mereka tidak direstui oleh keluarga Furuya. Hubungan diam-diam yang mereka lakukan bahkan sampai melanggar norma-norma masyarakat. Furuya pun hamil. Tidak ingin memberikan aib dan mencemarkan nama keluarganya, Noriyoshi dan Furuya pergi dari desa mereka yang terpencil menuju kota Edo.

Noriyoshi sangat berambisi ingin menaikan status keluarganya, dari petani menjadi keluarga samurai. Berbagai pekerjaan dan pendekatan dilakukan. Bukan usaha yang mudah dan waktu yang diperlukan tidak sedikit. Tapi pada akhirnya Noriyoshi bisa menaikan status keluarganya.

Ichiyo, yang terlahir dengan nama Natsuko, lahir sebagai putri kedua, anak kelima. Awalnya Furuya mencoba mengaborsi janinnya, namun ternyata janin itu begitu kuat dan bisa keluar dari rahimnya dengan sehat. Kelahiran Ichiyo menjadikan keluarga itu semakin bahagia. Ayah dan ibunya merasakan energi yang kuat dari putri kecilnya itu.

Sejak kecil Ichiyo begitu mendapatkan perhatian dari kedua orang tuanya. Ia begitu cerdas, mudah mencerna setiap hal yang diajarkannya, bahkan Ichiyo kecil dapat memahami syair-syair yang dibacakan oleh ayahnya. Tidak heran gadis berusia enam tahun itu menjadi anak kesayangan ayahnya. Ia tumbuh dewasa sebelum waktunya.

Kemampuan Ichiyo dalam bidang sastra sungguh mengagumkan. Ichiyo sering tampil membacakan sajak di depan tamu ayahnya dari dunia sastra yang elite. Dengan cepat Ichiyo menjadi perhatian banyak sastrawan itu.

Tapi hidup Ichiyo dan keluarganya tidak begitu beruntung. Anak kedua keluarga Higuchi, Sentaro, mengidap penyakit tuberkolosis yang membuat keuangan keluarga itu carut-marut karena biaya pengobatan yang mahal. Terlebih Sentaro merupakan putra tertua yang padanya dibebankan harapan keluarga. Sentaro tidak bisa melawan penyakitnya dan meninggal dalam sakit.

Kepergian Sentaro menjadikan ayah Ichiyo semakin buruk. Neraca keuangan mereka semakin merosot ke bawah. Penyakit yang diderita Sentaro ternyata juga berjangkit pada diri ayahnya dan akhirnya meninggal dalam usia 57 tahun. Setelah itu Ichiyo sadar bahwa kehidupan keluarganya, ibu dan adiknya Kuniko, ada di pundaknya.

Entah sudah berapa kali ketiga perempuan Higuchi itu berpindah rumah. Status keluarga mereka yang dibangun dengan susah payah oleh Noriyoshi pun semakin lama semakin menurun. Furuya dan Kuniko bahkan menerima upah dari mencuci dan menjahit pakaian. Sementara itu Ichiyo tetap menulis. Ia begitu didukung oleh ibu dan adiknya. Keduanya percaya bahwa Ichiyo akan menjadi penulis terkenal nantinya.

Pertemuan Ichiyo dengan seorang penulis terkenal, Nakarai Tosui, membuat hidup Ichiyo berwarna. Di satu sisi Ichiyo menganggap Tosui sebagai mentor menulisnya dan di sisi lain Ichiyo sadar bahwa ia telah jatuh cinta pada pria itu. Dengan bantuan Tosui, Ichiyo pun bisa menerbitkan bukunya yang pertama. Namun berita miring tentang Tosui membuat Ichiyo mau tidak mau harus berhenti bertemu dengan Tosui.

Sebagai penulis perempuan, Ichiyo begitu diacuhkan. Pada zaman itu perempuan dianggap tidak layak untuk menjadi orang yang memiliki inteltualitas yang tinggi. Tugas mereka hanyalah menjadi seorang istri dan ibu yang baik. Pemikiran itu begitu jauh dari Ichiyo. Dari karya-karyanya orang bisa melihat bahwa Ichiyo paham benar apa itu perbedaan gender, kemiskinan, dan kehidupan orang-orang yang diabaikan. Perjalanan hidup yang begitu menyedihkan menjadi sumber inspirasi dari karya-karyanya.

Di penghujung hidupnya, Ichiyo mendapatkan apa yang ia angan-angankan. Buku-bukunya terkenal dan laris. Ia pun dipuji oleh banyak orang, termasuk sastrawan-sastrawan yang berpengaruh pada zaman itu. Pemikiran dan semangatnya sebagai perempuan menjadi nilai tambah baginya.

Namun sayang, Ichiyo tidak menyayangi tubuhnya. Ketika sadar bahwa ia mengidap penyakit yang sama dengan ayah dan kakaknya, ia mengacuhkannya. Ia sedang berada di popularitasnya sebagai penulis dan tidak ingin penyakitnya akan menjatuhkannya kembali. Sampai akhirnya, Ichiyo menghembuskan nafas terakhir di usianya yang ke-24.

Sosok Ichiyo dikenal sederhana oleh keluarga dan para penggemarnya. Ia tidak peduli seburuk apa kimono yang dipakainya. Ia hanya peduli pada karya-karya yang akan dihasilkannya dan ia tahu bahwa ia berbakat dalam bidang itu.

Ichiyo merupakan perempuan satu-satunya di Jepang yang wajahnya diabadikan dalam uang kertas 5000 yen Jepang. Penghormatan yang diterima jauh setelah ia meninggal menjadikan Ichiyo sebagai seorang penulis wanita yang dikenal sepanjang masa.

Ichiyo, perempuan miskin yang bekerja keras sepanjang hidupnya. Ketika kebahagiaan menghampirinya, ia harus merelakan hidupnya dijemput oleh maut. Tapi ternyata usahanya lebih kekal dari kefanaan tubuhnya sendiri.


Monday, April 23, 2012

Danur - Risa Sarasvati


Ketika sebuah buku sedang ramai dibicarakan, belum tentu saya juga akan ikut-ikutan membacanya. Saya bukan orang yang membaca sebuah atas dasar ikut-ikutan. Sebuah buku punya caranya sendiri, yang lebih dari sekadar pembicaraan, untuk bertemu dengan pembacanya. Begitu pula dengan buku Danur karya Risa Sarasvati ini.

  
Buku ini sudah lama dibicarakan orang dan saya baru bertemunya tanggal 18 April 2012 kemarin. Kenapa tanggalnya bisa jelas saya ingat? Karena besoknya saya sidang sarjana. Hehehe... :P Hari itu saya singgah di tempat teman saya dan menemukan buku itu tergeletak di meja. Saya pun mulai membacanya karena saya memang ingin mencari buku bacaan. Tidak disangka ketika membaca cerita-cerita pertama dalam buku ini membuat saya ingin memilikinya. Saya penasaran dengan kisah-kisah di balik kelima sahabat kecil Risa.

Kematian mereka mengingatkan saya akan sebuah buku, yaitu Disguised yang bercerita tentang anak perempuan Belanda pada masa penjajahan Jepang di Indonesia. Mereka sama-sama keturunan Belanda, sama-sama masih anak-anak, dan sama-sama harus menderita meskipun jelas penderitaan mereka jauh berbeda. Rita, tokoh dalam Disguised, jauh lebih beruntung dibandingkan dengan Peter, Hans, Henderick, William, dan Janshen. Rita masih bisa merasakan dunia sampai ia dewasa namun kelima sahabat Risa tetap abadi dalam jiwa kanak-kanak mereka.

Saya pun kemudian mencari di beberapa toko buku di daerah ini dan tidak menemukannya. Sampai akhirnya saya putuskan ke toko buku besar yang pasti menjual buku itu. Dan lanjutlah saya membaca.

Ketika malam datang, saya bingung. Di satu sisi saya penasaran akan kisah-kisah mereka tapi di sisi lain saya ketakutan dengan imajinasi yang saya keluarkan ketika membaca buku itu. Penasaranlah yang akhirnya menang. Buku itu pun segera habis saya baca.

Segala kesedihan menyeruak di balik kepergian mereka. Tidak hanya kelima sahabatnya, Risa juga menceritakan beberapa kisah yang mungkin paling menarik baginya. Kisah-kisah itu menyedihkan, menjadikan saya berpikir apa benar ini kisah nyata mereka yang dulu pernah menjadi manusia. Namun hidup di dunia ini bukan hanya dari apa yang kita lihat dengan mata kita bukan?

Anak-anak tidak pernah mengerti mengapa orang dewasa harus bertindak kejam ketika keinginan tidak bisa didapatkan. Mereka tidak mengerti apa itu penjajahan, apa itu peperangan. Mereka tidak bisa memilih hidup sebagai orang dari negara apa. Dan mereka pun akhirnya menjadi korban ketika orang dewasa merasa tidak puas akan hidupnya. Anak-anak tidak bisa membalas, tidak bisa melawan, hanya bisa menangis ketika mereka disakiti dan ditinggal oleh orang-orang yang mereka sayangi. Selamanya mereka akan menjadi korban dan diam dalam ketidaktahuan.

Harmony (2010)



Selain buku, film-film yang saya tonton kadang begitu membekas dalam kepala saya. Menjadikan saya berpikir jauh, membandingkannya dengan kehidupan nyata. Dengan media film, kita tidak perlu repot-repot membayangkan cerita yang diutarakan. Jelas. Namun karena kejelasannya itulah yang menjadikan beberapa film kemudian begitu melekat di kepala saya.

Saya suka film-film korea. Bukan hanya dramanya saja yang bisa saya tonton berulang kali, film-filmnya pun demikian. Dan film yang akan saya ceritakan di sini adalah Harmony (2010).

Film ini berkisah tentang kehidupan narapidana wanita. Tokoh utamanya Jong-hye, seorang wanita berusia 30-an. Film ini dibuka dengan adegan Jong-hye melahirkan dan langsung menuju waktu satu tahun kemudian ketika Min-woo, anak Jong-hye, berulang tahun.

Jong-hye dikenai hukuman sepuluh tahun penjara karena telah membunuh suaminya. Suaminya marah karena Jong-hye tidak mengangkat teleponnya. Ia beranggapan bahwa Jong-hye sedang bersenang-senang sehingga tidak mengangkat telepon darinya. Dengan kejam suaminya menendang perut Jong-hye, perut yang sudah berisi bayi yang akan segera lahir.

Jong-hye yang sedang hamil terpaksa melahirkan di dalam penjara dan hanya boleh mengasuh anaknya selama satu setengah tahun. Setelah itu, anaknya bisa dititipkan kepada saudara atau harus dilepaskan ke panti asuhan.

Kehidupan penjara di Korea jauh berbeda dengan kehidupan penjara di sini, sepanjang pengetahuan saya. Di sana mereka lebih tertib dan lebih rapi. Dalam sel terdapat sebuah televisi sehingga mereka dapat menonton acara-acara di kala senggang. Selain itu, mereka juga dapat menonton berbagai pertunjukkan yang diadakan di dalam penjara. Salah satunya adalah paduan suara.

Menonton pertunjukan itu membuat Jong-hye berpikir bahwa mereka pun seharusnya bisa membentuk sebuah kelompok paduan suara. Jong-hye yakin bahwa dengan nyanyian, para tahanan lebih bisa bertahan dalam menjalani hukuman di penjara. Terbentuklah kelompok tersebut ketika izin sudah didapatkan.

Yang menarik dari film ini bukan bagian paduan suaranya. Saya lebih tertarik pada setiap kisah di balik para tahanan tersebut. Hampir semua tokoh yang ada di film ini masuk penjara karena mereka lebih dahulu disakiti sehingga merasa tidak tahan dan akhirnya berbuat kejahatan. Jong-hye misalnya. Ia membunuh suaminya lebih karena ketidaksengajaan. Jong-hye mendorong suaminya sehingga suaminya jatuh dan menimpa meja kaca. Lalu ada seorang pegulat profesional yang mematahkan leher pelatihnya karena membawa kabur uang hasil usaha gulatnya. Ada seorang nenek yang dijatuhi hukuman mati karena membunuh suami dan selingkuhannya. Dan seorang gadis muda membunuh ayah tirinya karena sudah bertahun-tahun memperkosanya.

Cerita-cerita mereka begitu menyakitkan. Sakit karena yang mereka bunuh adalah orang-orang yang pada dasarnya mereka sayangi. Sakit karena orang lain memandang merekalah yang salah, tanpa mencari tahu alasan mengapa mereka sampai bisa menjadi seorang pembunuh. Sakit karena satu per satu keluarga menjauhi mereka.

Ibu adalah benang merah dari tokoh-tokoh penting dalam film ini. Ada yang harus berpisah dari anaknya, ada yang berpisah dari ibunya, ada yang tidak bisa memaafkan ibunya, ada yang tidak bisa dimaafkan oleh anaknya. Karena mereka adalah wanita, mereka adalah ibu bagi satu dengan yang lainnya. Terutama tokoh nenek, Mun-ok. Sebagai tahanan tertua, ia menjadi sosok yang bijaksana, sayang, dan perhatian pada tahanan lainnya. Ia pula yang membimbing kelompok paduan suara itu sehingga dapat menyanyi dengan indahnya.

Film ini ditutup dengan haru. Paduan suara itu berkesempatan tampil dalam sebuah konser dan mereka boleh mengundang keluarga atau orang lain. Mereka diberikan kesempatan pula untuk bertemu setelah konser berakhir. Jong-hye akhirnya bisa bertemu dengan Min-woo yang tergabung dalam Yellow Ribbon Children Choir. Rasa rindu yang selama ini ada dalam diri Jong-hye teruak ketika bisa memeluk Min-woo. Meskipun Min-woo tidak tahu itu ibunya, Jong-hye tetap tersenyum padanya. Sakit. Pasti sakit.

Pertemuan-pertemuan itu dipenuhi dengan keharuan dan permohonan maaf. Ketika pelukan dan air mata membaur, segala kesesalan pun sirna. Maaf pun diberikan dan hubungan baik kembali terbina dengan keluarga. Namun nyatanya film ini ditutup dengan akhir yang menyedihkan, seolah-olah tidak ingin membuat penonton merasa senang.

Hukuman mati nenek dijatuhkan tidak lama setelah konser berakhir. Nenek diberi kesempatan sehari bersama kedua anaknya, anak-anak yang akhirnya bisa memaafkan kesalahannya berpuluh tahun silam. Dengan tangis, kepergian nenek menjalani hukumannya pun menutup film ini.

Meskipun ada beberapa hal-hal kecil yang mengganjal, film ini tetap memikat saya. Sederhana namun maknanya dalam. Toh tidak hanya saya yang mencucurkan air mata (duileee berlebihaaannn :P ), seorang teman saya pun diam-diam mengusap sudut matanya. Mungkin karena kami berdua wanita dan kami berdua sama-sama sensitif sehingga film ini begitu mengharu-biru. Tapi mungkin saja kalian yang menontonnya juga dibanjiri air mata karena memang filmnya yang mengharuskan kita berbuat demikian.

Friday, April 20, 2012

Sidang Sarjana, 19 April 2012


“Masuk, Fega. Kan biasanya tiap bulan juga masuk ruang sidang. Ayo, masuk.”

Pun tiba-tiba membuat debaran di dada ini semakin berdegup semakin cepat. Omongan seorang dosen itu pun membuat saya sadar bahwa seharusnya saya bisa menghadapi yang ada di dalam ruang sidang itu. Ruang sidang. Ya, akhirnya saya masuk ke ruangan itu sebagai mahasiswa yang akan disidang. Puji Tuhan!

19 April 2012. Hari penentuan saya sebagai mahasiswa. Seluruh usaha selama enam tahun ini akan dipertaruhkan dalam ruang asing itu. Asing, karena kami tidak sidang di tempat biasanya. Secara kebetulan seluruh ruang sidang sarjana strata satu penuh hari itu. Akibatnya kami harus mencari ruang sidang lain, ruang sidang pascasarjana. Ruang asing yang membuat saya bertambah gugup ketika memasukinya.

Puji Tuhan. Segala syukur saya panjatkan karena ternyata tanggal 19 April 2012 masih terdiri dari 24 jam. Dia masih bisa saya lewati. Dan saya berhasil, kawan. Segala rasa bercampur, gelisah, takut, kecewa, senang, lega. Menjadikan badan lelah namun bahu bisa bernafas dengan lega.

Rasa syukur juga terucap kala saya bisa sidang bersama dua orang sahabat saya, Chagie dan Suneo. Bersama mereka, kami menghadapi satu rasa. Berdebar-debar dalam hiruk-pikuk pikiran masing-masing. Waktu yang telah lama kami tunggu. Kami mampu melewatinya.


Air mata bahkan takmampu tertahan. Wujud syukur, gembira, lega, dan sedih mengalir begitu saja kala tangan-tangan dosen menggenggam erat dan tepukan ringan di kepala. Segala ucapan selamat berhamburan dan kata ‘akhirnya’ menjadikan saya terenyuh. Ya, bahkan kebanyakan dosen berkata, “Akhirnya Fega lulus juga, ya.” Betapa tidak hati saya berkabung. Kabung gembira dan sedih.

Akhirnya saya lulus, kawan. Kata yang selama ini hanya bisa saya bayangkan dan kini nyatanya bisa saya dapatkan. Berbelas bulan berlalu ketika para sahabat meninggalkan sisi saya dan kini saya dapat menyusul mereka, masuk ke dalam dunia nyata. Berpisah dari kenyamannya ruang ini, masuk ke ranah yang makin tidak bisa saya pahami.

Terima kasih kepada kalian semua yang telah mendoakan. Terima kasih atas setiap doa, semangat, dan pesan bahwa saya bisa. Terima kasih karena ternyata kalian juga berucap, “Akhirnya lulus juga yah, Fe.” Terima kasih atas segala, kawan. Terima kasih! Tuhan memberkati.


Monday, April 16, 2012

-----------------

Kenyataan jauh lebih sakit dibandingkan imajinasi. Ketika ia yang tadinya hanya berani dibayangkan ternyata jadi nyata, dada ini serasa digerus. Halus. Berbekas. Sakit.

Bayang-bayang makin buyar. Memecah. Hilang.

Jejari yang ingin ditaut, semakin dingin dimakan sepi. Dan cita-cita semakin jauh terbang bersama abu pembakaran harapan.

Rasanya ingin menyalahi takdir. Rasanya ingin pergi menjadi sosok yang takdikenal. Rasanya ingin kabur ke ujung bumi, hidup hanya dengan angin dan awan putih di ujung senja.

Rasanya hidup bagaikan mimpi buruk. Tidak bisa bangun meski sekujur tubuh penuh biru tampar dan cubitan.


Ashley dan Elga

Mereka cantik. Ashley dan Elga. Ras golden retriever. Ashley baru berumur satu tahun dan Elga sudah berumur enam tahun. Meskipun Elga sudah termasuk tua, Elga jauh lebih lincah daripada Ashley.

Mereka dipelihara oleh tetangga saya. Ashey bulunya lebih cokelat ketimbang Elga. Bulu Elga pun sudah mulai rontok. Faktor usia :(

Selcas ini penuh perjuangan. Yang satu tidak mau diam, yang satu terlalu pemalu untuk foto bersama saya. Hahaha... Voila! Ini wujud cantik mereka! Sayang, Ashley tidak mau menampakkan wajah cantiknya.

Elga yang periang dan ngga bisa diam
Si Pemalu, Ashley

Sunday, April 15, 2012

Saya, Hidup, dan The Sims

Belakangan ini saya merasa saya merupakan salah satu karakter dalam permainan The Sims. Kalian tahu The Sims kan? Permainan ini sudah entah sejak kapan saya mainkan, sampai sekarang. Nah, saya merasa saya adalah salah satu karakter yang saya buat dalam permainan itu.

Permainan ini jelas terinspirasi dari kehidupan manusia, tapi saya ragu, jangan-jangan kehidupan manusialah yang terinspirasi dari permainan ini. Atau, lebih khususnya hidup saya lah yang terinspirasi dari permainan ini.

Jika lapar harus makan, jika bau harus mandi, jika kebelet harus ke kamar mandi, jika bosan harus menonton televisi atau bermain apapun. Lalu ada tax yang harus dibayar, otomatis harus bekerja. Jika ingin naik jabatan harus menambah kemampuan dalam berbagai bidang, harus memiliki relasi yang baik dengan orang lain. Dan sebagainya, dan sebagainya. Benar-benar hidup manusia versi dunia maya.

Belakangan ini pun saya kerap merasa bahwa hidup saya sebenarnya takjauh dari permainan The Sims ini. Semua diatur sedemikian rupa, butuh ini untuk itu. Butuh itu untuk ini. Semua ada timbal baliknya. Bahkan di The Sims kita bisa membunuh karakter yang kita ciptakan. Acap kali saya membunuh karakter-karakter tersebut dengan berbagai cara, seperti mengurungnya di satu ruangan, menenggelamkannya di kolam renang. Itu toh hasrat membunuh saya pribadi bukan? Meskipun yang saya bunuh itu hanya karakter dalam sebuah permainan, tapi tetap saja namanya pembunuhan.

Tenang, tenang. Tidak ada hubungannya pembunuhan dalam The Sims dengan pembunuhan dalam kehidupan nyata. Saya hanya sedang pesimis memandang hidup.

Mungkin berbagai perubahan yang terjadi belakangan ini menjadikan saya semakin sadar bahwa sebenarnya hidup itu layaknya permainan. Yah, seperti kata lagu, "Dunia ini panggung sandiwara." Ah, saya tiba-tiba lingung. Maaf, kawan.


Saturday, April 14, 2012

Biji Buah Kemunting

Di antara kalian, pernah ngga dulu diberitahu kalau menelan biji buah nanti di perutnya akan tumbuh pohon buah itu? Saya dulu pernah diceritakan tentang hal itu dan tentu saja sebagai anak kecil saya percaya pada informasi itu.

Sebenarnya banyak hal-hal yang dulu sangat menakutkan dan kita percayai menjadi hal yang lucu ketika kita sudah tahu kebenarannya. Contoh lain, kalau pegangan tangan atau ciuman nanti bisa hamil. Hahaha...

Baru saja tadi, beberapa saat sebelum saya menulis di sini, saya mengingat tentang biji buah. Saya sedang menikmati makan buah kemunting. Eh. ada yang tahu buah kemunting itu apa? Nih, saya beri fotonya.


Sekilas wujud buah ini mirip duku, tapi ketika dipencet, lebih lunak. Isinya seperti gambar dua. Terdiri dari tiga buah, atau ada yang lima buah isi. Bijinya kecil dan tipis, seperti biji sirsak. Airnya banyak dan rasanya manis. Buah ini dibawa oleh saudara saya dari Bangka, dan saya memang belum pernah menemukan buah ini di daerah sini.

Saat senang asyik menghisap sari buah kemunting, tidak sengaja bijinya saya telan. Entah kenapa saya tiba-tiba panik dan berpikir, "Wah, nanti bakal tumbuh pohon kemunting nih di perut." Setelah tersadar, bahwa saya sempat berpikir demikian, langsunglah saya tertawa dan menyadari kebodohan saya. Ternyata cerita rekaan semasa kecil masih terbawa sampai sekarang.

Informasi yang didapat sejak kita anak-anak memang merupakan landasaan dari informasi-informasi yang kita cerna selanjutnya. Tapi saya tidak menyangka, di alam bawah sadar saya, saya masih mempercayai kalau menelan biji buah maka nanti pohon buahnya akan tumbuh di perut. Hahaha...

Tuesday, April 10, 2012

Kabar Baik, Semoga Baik

Pada akhirnya, saya bisa menyampaikan kabar baik itu. Dengan tawa lebar bercampur rasa malu. Terlalu terlambat memang, tapi ini waktu punya saya.

Akan menjadi kabar yang lebih baik ketika nanti saya sudah melaluinya dengan baik.

Doakan saya, kawan. Doakan saya. Semoga baik. Semoga baik.

Catatan 27 Maret 2012


Ola! Setelah sekian lama saya ngga curhat di blog ini, kini saya muncul lagi. Hahaha... Apa sih? Catatan kali ini sudah kelewat lama tersimpan dan baru sempat saya post hari ini. Mungkin agak sedikit basi, tapi karena catatan ini memang saya tulis untuk blog, jadi yah di sinilah dia.

Heidegger mengatakan (dalam Budiman, 2007: 62) bahwa kita gembira dan menjadi bahagia seperti juga mereka; kita membaca dan menilai kesusasteraan seperti cara mereka membaca dan menilainya; kita menjadi terkejut tentang hal-hal yang mereka anggap mengejutkan. Mereka, yang dalam kenyataannya kita tidak tahu siapa, adalah salah satu bentuk dari bereksistensi kita.

Ini adalah cara bereksistensi dari kebanyakan orang yang oleh Heidegger disebut dengan istilah Das Man. Hidupnya hanyalah mengikuti “seperti yang dilakukan oleh semua orang” dan kalau kita tanyakan kepada tiap orang yang ada, ternyata tiap orang ini mengikuti “semua orang” ini. Sehingga “semua orang” ini sama dengan “tidak seorang pun”, dia hanyalah alasan untuk membenarkan cara bereksistensi kita, yang menolak kemerdekaan (Budiman, 2007:62).

Dua paragraf di atas kemudian menjadikan tulisan ini begitu berat dan mungkin terasa pintar. Pakailah kutipan yang meyakinkan, voila, jadilah tulisan ini begitu serius. Tapi saya yakinkan kalian, isi tulisan ini jauh dari pintar dan tidak ada kaitannya dengan pembahasan eksistensi apa pun. Tulisan ini lebih banyak berisi rasa kesal dan kegelisahan saya semata.

Hari ini, 27 Maret 2012, Indonesia bertemu lagi dengan ribuan atau mungkin puluh ribuan atau mungkin ratus ribuan pendemo yang bisa jadi terlihat lebih banyak karena bercampur baur dengan aparat keamanan, media, orang-orang yang numpang lewat, dan mereka yang sekadar ingin tahu. Aksi demo diadakan untuk menentang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Dan saya, tidak akan ikut-ikutan merasa pintar berkomentar tentang itu.

Saya sadari saya pura-pura bodoh (atau memang benar-benar bodoh) untuk mengerti mengapa BBM harus naik ataukah mengapa BBM tidak boleh naik. Ruang lingkup saya kecil, hanya empat dinding ini yang senantiasa menemani saya sepanjang hari, setahun belakang. Saya toh tidak mau ambil pusing terhadapnya karena sudah cukup banyak orang-orang yang rela berpusing-pusingan untuk memikirkannya.

Jika kalian bilang harga minyak mentah dunia naik, saya akan mengerenyitkan alis. Hal itu di luar pengetahuan saya. Dunia lebih luas dari yang saya bisa jangkau, jadi untuk apa saya berusaha menjangkau apa yang tidak perlu saya jangkau. Jika kalian bilang seribu, lima ratus, atau berapa rupiah pun itu berharga bagi orang banyak, begitu pula dengan saya. Bagi saya, kehilangan seratus rupiah berarti kehilangan seribu rupiah. Apa artinya sembilan ratus jika tidak ada seratus rupiah?

Mengarah pada perkataan Heidegger di atas, itulah yang terjadi beberapa hari belakangan. Lini masa Twitter penuh dengan kata-kata BBM, demo, mahasiswa, aparat, koalisi, dan sebagainya dan sebagainya. Tidak mengherankan kemudian saya menjadi muak membaca lini masa yang berisi pikiran-pikiran dan caci-maki para kawan. Mereka kemudian menjadi merasa pintar telah masuk ke ranah itu. Saya sendiri termasuk orang mencaci-maki mereka yang berkomentar tentang itu.

Kalian berpikir, salah siapa punya Twitter, untuk apa ikut campur pada urusan mereka, dan unfollow saja cukup. Tidak bagi saya. Karena mereka berhak mengeluarkan pendapat mereka, saya juga berhak mengeluarkan pendapat saya di lini masa tersebut. Mereka beramai-ramai  berkomentar karena yang lain berkomentar dan saya pun berkomentar karena yang lain juga berkomentar. Saya toh termasuk mereka.

Apa yang menjadi kegelisahan mereka juga menjadi kegelisahan saya, tapi nyatanya kegelisahan saya jauh lebih dalam dari mereka. Kegelisahan saya berbeda. Sejarah menjadikan semuanya tidak bisa saya nikmati.

Ketika isu kenaikan BBM dan demo meruak, muncul pula orang-orang yang tidak bertanggungjawab menyebarkan isu pengulangan Mei 1998. Membaca “Mei 1998” saja sudah membuat perut saya bergejolak, membuat saya berdebar-debar, dan sulit tidur. Bagi mahasiswa dan aparat, Mei 1998 tentang anarkis. Bagi saya, Mei 1998 sebuah sejarah yang tidak mau kembali saya ingat.

Media komunikasi yang semakin canggih kemudian menjadikan setiap isu berkembang, lebih berkembang dari tangan ke tangan. Inilah yang dilakukan oleh orang-orang yang tiba-tiba muncul atas dasar agama dan suku. Mereka dengan seenak jidatnya berlaku seperti orang tidak beradab. Membuat tulisan-tulisan menghasut, menjadikan orang-orang mencaci-maki dan mengeluarkan sumpah serapah yang paling kotor, dan mereka mungkin hanya tertawa-tawa melihatnya.

Saya begitu kesal pada seorang teman yang mengirimkan berita akan adanya isu pembantaian beberapa suku pada hari ini. Orang yang membuat isu itu bodoh, tapi lebih bodoh lagi teman saya yang menyebarkannya tanpa membaca dan mengkritisinya lebih jauh. Namun, jika dia saya katakan bodoh, maka masih banyak orang bodoh lain yang sama terpengaruhnya.

Tidak heran kemudian saya menjadi muak melihat isi lini masa yang berlomba-lomba menelurkan kalimat-kalimat paling bijak atau kalimat-kalimat yang dirasa mencerminkan masa sekarang. Tidak melihat lini masa, saya tidak tahu berita, membuat saya lebih cemas membayangkan hal yang tidak-tidak. Melihat lini masa, mau takmau berita bercampur dengan komentar-komentar para kawan. Serba salah.

Kegelisahan saya berbeda dengan kegelisahan mereka. Kami sama-sama gelisah. Tapi jika BBM tetap naik atau tidak naik, kegelisahannya akan hilang. Akan ada hasil akhir yang sudah ditetapkan. Toh kegelisahan mereka hanya di permukaan. Kegelisahan saya bercampur dengan rasa takut dan muak dengan keadaan. Ketika nanti ternyata BBM naik dan banyak orang tidak setuju, demo berjalan lagi. Dan terus dan terus dan terus. Dan saya akan terus gelisah.

Banyak yang mungkin tidak mengerti kegelisahan yang saya rasakan. Toh katanya masa itu sudah lama berlalu. Di alam bawah sadar saya mereka tidak pernah berlalu. Banyak masa kecil saya yang tidak bisa saya ingat, tapi kenangan ketakutan pada saat itu malah tidak bisa saya lupakan.

Tidak usah ikut-ikutan merasa yang paling pintar. Saya membenahi diri sendiri saja susah. Tapi nampaknya banyak orang yang sudah hidup dalam kebenaran yang dianggapnya paling benar.

Semua berubah. Waktu menjadikan manusia berubah. Tapi tidak disangka, menjadi dewasa malah membawa perubahan yang tidak pernah saya bayangkan. Yah, apa yang saya baca dengan apa yang mereka baca berbeda. Saya tenggelam dalam kisah-kisah petualangan anak-anak, dan mereka, entah apa. Mungkin, saya saja yang tidak berkembang.

___________________
Budiman, Arief. 2007. Chairil Anwar Sebuah Pertemuan. Tegal: Wacana Bangsa.