Friday, November 11, 2011

Perpustakaan Universitas Indonesia


Beruntunglah Universitas Indonesia memiliki perpustakaan yang menakjubkan. Sebelum ke sana, saya sudah sering mendengar betapa besar dan megahnya perpustakaan ini dan ketika ke sana, ternyata saya tidak menduga sebuah perpustakaan akan semenakjubkan seperti itu. Lihat saja tampak luar bangunan ini. Seperti sebuah kastil yang muncul dari bawah tanah.


Letaknya di sebelah danau yang terkenal di kampus itu. Begitu asri dengan pepohonan yang menghiasi halamannya. Begitu bersih pula! Begitu masuk, saya tampak akrab dengan bangunannya, mirip Teater Kecil Taman Ismail Marzuki.

Lobinya ada beberapa dan luas dengan tempat duduk yang nyaman. Beberapa mahasiswa asyik bercengkrama di sana. Bagian informasi dan tempat penitipan barang pun rapi dan kelihatan tidak main-main. Apalagi ketika kita melihat komputer yang digunakan. Hemmm.. Seketika saya ingin menjadi orang jahat, ingin mencuri perangkat itu! Hahaha...



Waktu saya ke sana, bangunan belum rampung seluruhnya. Masih banyak perbaikan di sana sini, namun itu tidak membuat bangunan ini kehilangan keindahannya. Saya begitu takjub dan segera merasa betah. Apalagi ketika melihat buku-buku bertebaran di rak-rak besi sepanjang empat lantai. Melihat mereka tersusun (meskipun belum tersusun rapi) membuat saya nyaman.


Tujuan saya ke sana adalah mencari referensi untuk skripsi saya. Saya ke bagian skripsi, letaknya di lantai tiga. Dan puji Tuhan saya mendapatkan beberapa. Ketika mencari, saya menemukan pula skripsi-skripsi yang dibuat pada tahun 60-an. Jilidnya begitu sederhana dan kertasnya mulai menguning. Skripisi tentang linguistik yang ditulis oleh bukan orang pribumi, seperti Tjoa Tiong Kwan dan Tan Ta Son. Saya bahkan menemukan skripsi yang dibimbing oleh Harimurti Kridalaksana. Nama Harimurti Kridalaksana sebelumnya saya dapatkan pada buku-buku teori yang saya gunakan semasa kuliah, begitu menakjubkannya saya memegang skripsi yang dibimbing oleh beliau. Hahaha... Saya mungkin agak berlebihan, tapi memang itu yang saya rasakan ketika membaca nama beliau di lembar pengesahan.


Yang agak membuat saya tidak nyaman adalah dengan adanya beberapa tempat makan dan tempat bersantai di dalam bangunan itu. Seketika saya merasa sedang masuk ke sebuah mal. Mungkin tujuan dibangunnya tempat-tempat itu adalah untuk memudahkan pengunjung yang ingin sekadar menikmati kopi dan kelaparan, tapi rasanya sayang menggabungkan dua hal itu dalam satu bangunan.

Ada hal menarik saya temukan di dinding pintu masuk perpustakaan. Dinding setinggi tiga-empat (atau lima?) meter itu penuh berisi ukiran tulisan. Tulisan yang saya ketahui hanya dalam dua bahasa, yaitu ‘baca’ dan ‘read’. Saya tidak tahu apakah secara keseluruhan tulisan-tulisan itu berarti ‘baca’ atau tidak. Sebenarnya mungkin saja karena ada kata ‘read’ di sana.


 Saya rasa nanti saya akan menyempatkan diri mengunjungi perpustakaan ini lain waktu, ketika ia sudah rapi dibenahi. Semoga tempatnya makin menyenangkan.

2 comments: