Wednesday, July 25, 2012

Gayung


Saat saya sedang merenung di kamar mandi, tiba-tiba ada yang aneh di mata saya. Gayung. Rasanya seperti sudah lama tidak melihat gayung itu di kamar mandi rumah saya. Padahal gayung di rumah saya tidak pernah berubah bentuknya sejauh yang saya ingat.

Apakah kalian punya gayung atau pernah melihat gayung seperti ini?


Mama saya sangat perfeksionis jika berhubungan dengan perlengkapan rumah tangga. Beberapa barang dikirim langsung dari kampung halaman, Bangka, karena sudah terbiasa menggunakan alat-alat itu. Termasuk gayung-gayung di rumah saya. Dari dulu gayung-gayung ini dikirim dari Bangka. Saya bahkan tidak pernah melihatnya dijual di sini.

Gayung ini mengingatkan saya pada penimba air di rumah nenek di Bangka. Sumber air di rumah nenek masih berupa sumur. Kami masih menggunakan timba air untuk berbagai keperluan. Nah, alat timbanya kira-kira seperti gayung ini dengan ukuran yang jauh lebih besar.

Semakin lama diperhatikan, gayung kamar mandi saya semakin unik. Hehehehe... Padahal seumur hidup saya gayung seperti inilah yang menemani saya di kamar mandi :D Mungkin karena kebiasaan memakai gayung yang biasa di tempat kosan, jadi aneh melihat gayung ini. Hmmm...

Gayung kamar mandimu seperti apa?

Saturday, July 21, 2012

Rumah Tanpa Jendela



Bukan hanya rumah yang butuh jendela, hati manusia pun butuh jendela. Kira-kira itu inti yang bisa saya dapatkan setelah menonton film Rumah Tanpa Jendela ini. Film sederhana yang lagi-lagi mengangkat masalah perbedaan status sosial masyarakat di kota-kota besar, anak-anak pemulung dan keluarga kaya-raya. Dihubungkan oleh seorang anak laki-laki tidak sempurna yang punya orang tua kaya, Aldo.

Sebenarnya yang jadi pertanyaan saya, sampai kapan film kita akan mengangkat masalah yang sama? Entah sudah berapa banyak film yang ditujukan kepada anak-anak ini mengangkat masalah yang bagi saya sangat berat. Mungkin film-film itu ingin mengajarkan hal-hal yang besar sejak dini, tapi bagi saya rasanya kurang tepat.

Pemeran Aldo, Emir Mahira, aktingnya keren! Seketika saya jatuh cinta sama anak laki-laki itu :D


Facebook


Siapa yang tidak kenal jejaring sosial bernama Facebook? Ah, sungguh. Kalimat pembuka ini sungguh klasik dan cari aman. Hahahaha... Ya, pokoknya, siapa sih yang tidak mengenal Facebook masa sekarang ini. Jawabannya: banyak! Hahaha... Saking garingnya sampai kriuk-kriuk :D

Kali ini cerita saya berhubungan dengan Facebook dan keisengan saya. Sudah lama saya ingin melakukan tindakan iseng ini dan akhirnya saya berhasil melakukannya.

Sejak saya mengenal Facebook, saya mulai melupakan rutinitas menelpon atau meng-SMS teman saya yang berulang tahun. Dulu, setiap tahunnya saya membuat kalender sendiri dan tidak lupa mencantumkan nama teman-teman saya di tanggal ulang tahunnya. Dengan kalender itu, saya tidak pernah lupa ulang tahun teman-teman saya. Tapi, sejak saya mengenal Facebook, saya jadi malas membuat kalender sendiri karena di Facebook setiap ada teman saya yang ulang tahun saya diingatkan dan dengan ringkas bisa mengucapkan selamat di wall mereka.

Nah, berawal dari sana, saya sadar bahwa pun ketika saya berulang tahun, banyak dari teman saya yang tahu karena Facebook yang mengingatkan. Sejak tahun kemarin, saya tidak memunculkan tanggal lahir saya. Saya ingin tahu berapa banyak teman saya yang ingat kapan sebenarnya ulang tahun saya.

Hal itu menyenangkan loh. Ketika ada teman yang mengucapkan ulang tahun pada saya bukan karena diingatkan oleh Facebook, saya lebih senang ketimbang dulu melihat wall saya dipenuhi ucapan selamat. Rasanya lebih bahagia dan bersyukur. Apalagi ternyata handphone saya juga masih menerima pesan-pesan singkat ucapan selamat.

Lalu, ketika malam takdapat lelap, saya mulai merencanakan kembali keisengan saya yang belum sempat direalisasikan ini. Saya akan mengubah tanggal lahir saya dan memunculkannya di Facebook. Saya pun mulai mencari tanggal di bulan ini. Ah, sepertinya tanggal 18 tanggal yang cocok. Saya lahir di tanggal itu, jadi saya akan mengubah tanggal lahir saya di tanggal yang sama bulan yang berbeda. Dan kebetulan, ketika saya memikirkan rencana itu, hari itu masih tanggal 14 Juli, masih ada empat hari lagi.

Sambil tersenyum-senyum, saya ubah tanggal lahir saya. Voila! Saya akan berulang tahun empat hari lagi, 18 Juli 2012!

Hari itu tiba dan saya pun membuka Facebook. Oh, alangkah lucunya Facebook ini. Beberapa orang mungkin bertanya kenapa tiba-tiba saya ulang tahun bulan ini. Ternyata  beberapa orang itu masih ingat bahwa Februari adalah bulan lahir saya. Tapi ketika ada yang mengucapkan selamat, saya pun langsung terbahak. Ini lucu, pikir saya.

Pada akhirnya, saya galau. Hahahaa... Di satu sisi ini menyenangkan, tapi di sisi lain saya merasa bersalah karena sudah iseng pada teman-teman saya. Padahal di antara sekian banyak yang mengucapkan pasti ada doa-doa yang tulus dipanjatkan. Memang bukan salah mereka kalau mereka tidak ingat kapan saya berulang tahun, toh saya juga masih menggunakan sistem ingatan Facebook dibandingkan sistem ingatan kepala saya. Hanya saja, keisengan kali ini benar-benar bikin saya penasaran.

Terima kasih kepada kalian yang masih ingat saya lahir di bulan Februari. Terima kasih pula kepada kalian yang sudah memberi ucapan selamat di 18 Juli kemarin. Dan maaf bagi kalian yang terjebak dalam keisengan saya. Semoga tidak ada yang tersinggung. Amin.

Saya akan mencobanya lagi nanti. Hmmm... Mungkin enam bulan lagi. Nanti saya laporkan yah. Rasanya tidak sabar :D


Thursday, July 19, 2012

E J A


Tidak adanya penyaluran emosi membuat saya frustasi. Ya, saya frustasi. Bahkan suara anak kucing yang mengeong-ngeong cari induknya bisa membuat saya membanting pintu dan ingin lemparkan air ke tubuh berbulu itu.

Jangan tanya. Sungguh, saya muak ditanya. Mengapa tidak duduk manis dan menunggu? Jangan pandangi saya dengan tatapan prihatin bahkan putus asa. Saya muak mendengar apa yang tidak ingin saya dengar. Dan telinga memang diciptakan untuk mendengar, bahkan apa yang tidak ingin kamu dengar bukan?

Ruang pengap ini terlalu sempit. Membuat nafas saya satu-satu, makin memburuk ketika emosi sudah puncak di ujung kepala. Sampai telapak tangan menggenggam keras, sampai putih dan sakit tertusuk kuku jejari.

Mari belajar mengeja. A-N-J-I-N-G

Maaf, saya mengeja. Bukan mengumpat.

Selamat malam. Semoga kalian baik-baik saja.

Monday, July 16, 2012

Jatinangor


Pada akhirnya, saya harus berpisah dengan kota kecil yang menyenangkan ini. Jatinangor. Cukup terpencil sampai banyak kawan yang menanyakan di mana sebenarnya tempat ini. Tempat yang pada awalnya ragu-ragu saya terima hingga saat ini, melepasnya pun hanya setengah hati.

Pada akhirnya saya harus pulang. Memulai lagi segala sesuatu dari awal. Melepaskan status kemandirian dan berlindung pada ketiak ibu. Memulai lagi mencari hal yang nanti tidak bisa saya lepaskan. Memulai lagi segala yang harus dimulai.

Enam tahun dalam zona nyaman Jatinangor, hingga saya lupa bahwa ada kota lainnya yang lebih nyata. Saya mencoba lupa. Tapi ini hidup, bukan hanya khayalan anak-anak saya saja.

Terima kasih kepada semua yang saya kenal di kota kecil ini. Terima kasih atas hal-hal yang saya dapatkan dalam memupuk pribadi saya. Pada akhirnya saya harus pulang. Pada akhirnya saya harus ucapkan selamat tinggal dan pasti kita akan berjumpa lagi dalam kesempatan menyenangkan lainnya.

Ranjang sudah dingin. Dinding tinggal bekas lem takbisa lepas menempel. Debu akan kembali melapisi langit-langit. Dan kardus-kardus bertebaran, siap diangkut.

Sampai jumpa, Jatinangor. Semoga senjamu selalu menyala oranye. 
 

Skenario Gagal Tayang


Teringat sebuah kejadian beberapa tahun silam di sebuah ruangan penuh orang lalu-lalang. Saya duduk di pojokan, sendiri. Sibuk sendiri. Kejadian itu masih segar dan jelas dalam ingatan karena membuat saya berefleksi panjang.

Awalnya saya biasa saja, toh orang yang lalu-lalang masih saya kenal dan mereka masih menyapa saya. Tapi, saya tetap sendirian. Sibuk dengan alat-alat rias membuat mereka takmau mengganggu. Ah, bukan. Mereka sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Toh saat itu saya bukan penunggu, tapi yang ditunggu.

Kemudian saya sadar bahwa itu seharusnya bukan hanya tentang saya. Itu seharusnya tentang saya dan kalian. Tapi nyatanya sebelum sampai di ruang itu yang saya tahu saya berjuang sendirian. Dan penyesalan selalu datang terlambat bukan?

Saya hanya bisa duduk melihat lalu-lalang itu dengan perasaan campur aduk. Biasanya saya tidak sendirian di sana, ada kalian yang membantu. Kali itu, dengan egoisnya, saya lupa bahwa saya punya kalian.

Rasanya sama seperti sekarang. Saya sendirian. Dan kalian entah di mana. Lalu, pikiran tahun itu kembali berbayang, akankah kalian datang atau harus saya yang menunggu kalian mengulurkan tangan. Ini bukan hanya tentang saya, tapi juga tentang kalian. Tapi tanya tidak pernah terlontar dan saya hanya bisa menjawab dalam diam.

Tahukah kalian bahwa sampai sekarang beban itu belum lepas dari pundak saya? Ketika tidak ada lagi yang bantu menopang, pada siapa saya harus meminta? Tolong, tanya saya. Biarkan saya menjawab tidak dalam diam. Biarkan saya tahu bahwa kalian masih ada dan mengerti bahwa ini bukan hanya tentang saya, tapi juga tentang kalian.

Ah, ya. Kadang tempat singgah hanya untuk pelancong yang ingin beristirahat dan mencari kedamaian. Ketika damai sudah datang, alas kaki akan kering lagi.

Maafkan saya yang terlalu banyak menuntut. Pada akhirnya, saya yang akan menunggu kapan saya berani bertanya pada kalian. 


Friday, July 6, 2012

Sekadar Cerita Pagi


Baru tadi, di jalan ada sepasang (mungkin) suami istri yang sedang mengendarai motor. Suami membonceng istrinya. Lajunya sedang, berjalan agak di tengah. Awalnya pemandangan itu biasa saja dan menjadi luar biasa ketika suara keras terdengar dari atas motor tersebut. Seketika satu motor tersebut menjadi pusat perhatian di jalan yang cukup padat itu.

Sang istri berbicara dengan nada tinggi dan cepat pada suaminya. Sang suami juga berbicara cepat, tapi suaranya tidak terdengar oleh saya. Beberapa detik kemudian sang istri mulai berteriak dan memukuli punggung suaminya. Teriakan yang diselingi seguk tangis.

Laju motor saya percepat. Entah saya yang malu, entah saya memang ingin memberi ruang pada mereka. Setelah itu, pasangan itu berlalu dari kaca spion saya, tapi masih membayang di kepala saya.

Tuesday, July 3, 2012

Mencoba Lupa


Adakah seorang yang hari ini akan ingat padamu? Akankah lagi-lagi tanya yang akan melingkupi sekujur tubuhmu? Lalu diam menjadi lebih abadi karena jawab taktampak pada garis penghabisan.

Semua taktahu apa itu kata. Kutemui mata menyala bukan karena kamu. Mereka lupa, atau mencoba lupa.

Ke mana kau akan meletakkan kepalamu saat migrain menyerangmu? Akankah lagi-lagi kau bertumpu pada waktu? Mereka bisa singgah, tapi kaki memilih menjauh. Mereka mencoba lupa.

Sungguh. Ini bukan mauku, apalagi maumu. Bahkan matahari belum habis dan kau dipaksa pergi. Jejak di ujung belum habis dimakan waktu ketika jejak yang baru sudah samar-samar dimakan ingatan. Ya, mereka memaksa dirinya lupa.

Tentangmu, tentang tanda tanya. Lalu diam menjadi lebih abadi karena jawab taktampak pada garis penghabisan.

Ah, kau dan matahari saja takpernah bertengkar tentang siapa yang menciptakan bayang-bayang, untuk apa aku ribut di dalam hati dan mempertebal tanda tanya. Ya, aku bahkan mencoba lupa.

Ini masih tentangmu. Harap jawab merapat biar lidah takkelu menyebut namamu.