Thursday, July 19, 2012

E J A


Tidak adanya penyaluran emosi membuat saya frustasi. Ya, saya frustasi. Bahkan suara anak kucing yang mengeong-ngeong cari induknya bisa membuat saya membanting pintu dan ingin lemparkan air ke tubuh berbulu itu.

Jangan tanya. Sungguh, saya muak ditanya. Mengapa tidak duduk manis dan menunggu? Jangan pandangi saya dengan tatapan prihatin bahkan putus asa. Saya muak mendengar apa yang tidak ingin saya dengar. Dan telinga memang diciptakan untuk mendengar, bahkan apa yang tidak ingin kamu dengar bukan?

Ruang pengap ini terlalu sempit. Membuat nafas saya satu-satu, makin memburuk ketika emosi sudah puncak di ujung kepala. Sampai telapak tangan menggenggam keras, sampai putih dan sakit tertusuk kuku jejari.

Mari belajar mengeja. A-N-J-I-N-G

Maaf, saya mengeja. Bukan mengumpat.

Selamat malam. Semoga kalian baik-baik saja.

No comments:

Post a Comment