Monday, December 3, 2012

The Reader

Perempuan itu buta huruf. Ia tidak bisa membaca dan menulis. Namun, hubungannya dengan seorang pemuda membuatnya mengenal tulisan.

Perempuan itu, Hanna Schmitz, bertemu dengan Michael Berg ketika hujan lebat mengguyur Berlin, kalau tidak salah seting waktunya sekitar 1930-an atau 1940-an. Bukunya sudah saya kembalikan kepada pemiliknya, sehingga saya hanya bisa memanfaatkan memori singkat saya ini. Saat itu Michael sakit. Ia turun dari trem dan muntah di depan sebuah apartemen. Hanna-lah yang kemudian membantu Michael. Dibersihkannya muntahan Michael, dipeluknya Michael, dan diantarkannya Michael pulang. Kenangan itulah yang kemudian membangkitkan sesuatu (bukan Syahrini) dalam diri Michael.

Setelah agak membaik, Michael mengunjungi Hanna. Pertemuan itu ternyata akan membekas dalam ingatan Michael. Sosok Hanna yang sedang memakai stoking akan melekat dalam kepala Michael seumur hidupnya. Ketahuan memergoki Hanna berganti pakaian, Michael pun pergi. Namun, beberapa hari kemudian ia kembali.

Kembalinya Michael ternyata membuka pintu asmara antara Hanna dan Michael. Meskipun usia Hanna dua kali lebih tua dari Michael, ia tidak peduli. Ia merasa mencintai Hanna dan tidak akan malu jika berjalan-jalan berdua dengannya. Mereka bercinta dan mandi bersama. Begitu setiap kali ketika Michael bertamu ke rumah Hanna.

Sampai suatu hari, Hanna menyuruh Michael untuk membacakan buku. Dari situlah kegiatan mereka bertambah, membaca, bercinta, dan mandi. Dengan suara keras Michael membaca buku-buku untuk Hanna. Salah duanya adalah Odyssey (karya siapa ya?) dan The Lady with the Little Dog karya Anton Chekov.

Hubungan mereka diwarnai dengan percintaan dan pertengkaran kecil. Kecil bagi saya. Dan Michael-lah yang pada akhirnya meminta maaf.

Hanna yang tadinya bekerja kondektur di trem akan diangkat menjadi sopir (atau apa ya? saya lupa) trem tersebut. Ia tidak pernah menerima kenaikan jabatannya dan tiba-tiba menghilang.

Michael tidak mengerti mengapa Hanna tiba-tiba pergi. Berminggu-minggu ia mencari Hanna dan akhirnya menyerah. Namun bayangan-bayangan Hanna selalu muncul, bahkan dengan jelas di kepala Michael.

Pertemuan Michael dengan Hanna selanjutnya sekitar delapan tahun kemudian, ketika Michael sedang duduk di bangku kuliah. Ia mengambil hukum. Saat itu ia mengikuti sebuah sidang yang menyangkut Nazi. Kelompok kecilnya adalah kelompok yang menentang Nazi (saya rasa). Ketika nama Hanna Schmitz dipanggil sebagai terdakwa, seketika itu pula Michael mengenalinya.

Hanna Schmitz didakwa karena bekerja sebagai anggota SS (anggota apanya Nazi pokoknya mah :P) dan dituduh tidak membukakan pintu gereja ketika kebakaran terjadi. Dalam gereja itu terdapat 300 orang Yahudi dan hanya dua yang selamat. Hanna Schmitz dijatuhi hukuman seumur hidup.

Sebenarnya yang terjadi, Hanna tidak terlalu bersalah. Laporan yang katanya dituliskan oleh Hanna menyatakan bahwa pada saat itu ia-lah yang bertanggung jawab. Michael yang tahu bahwa Hanna buta huruf nyatanya hanya diam.

Bertahun kemudian, Michael mengirimkan kaset-kaset rekaman berisi buku-buku yang dibacanya untuk Hanna. Namun taksekali pun ia mengirim surat atau mengunjungi Hanna di penjara. Kaset-kaset itu ternyata yang menarik minat Hanna untuk belajar membaca dan menulis. Hingga akhirnya ia bisa menulis surat-surat pendek untuk Michael. Tulisan tangannya seperti anak kecil yang baru belajar menulis, hanya saja garis-garisnya lebih tegas dan disiplin.

Grasi pembebasan untuk Hanna dikeluarkan. Hanna akan keluar dari penjara setelah 18 tahun ia berada di sana. Kepala penjara menghubungi Michael karena hanya Michael-lah yang berhubungan dengan Hanna walaupun ia tidak pernah menulis surat dan mengunjungi Hanna. Kepala penjara berharap Michael akan mengunjungi Hanna karena seminggu lagi Hanna akan dibebaskan.

Pertemuan itu begitu canggung. Hanna menanyakan apakah Michael pernah menikah. Ya, Michael pernah menikah dan memiliki seorang puteri. Ia sekarang sudah bercerai. Michael mengatakan bahwa ia sudah menyiapkan sebuah rumah kecil dan pekerjaan di tukang jahit dan berkata bahwa ia akan menjemput Hanna ketika ia keluar dari penjara.

Hari itu tiba. Namun Hanna memutuskan tidak keluar. Ia gantung diri.

The Reader, Sebuah Film

Film yang diangkat dari judul yang sama dengan novelnya (karya Bernhard Schlink) ini jauh dari kata menarik bagi saya. Tokoh Michael Berg muda yang diperankan oleh David Kross kurang lemah seperti yang diceritakan di novelnya. David Kross sebagai Michael mempunyai garis wajah yang keras, yang seolah-olah mengatakan "Apa pun akan kulakukan. Aku anak yang berani". Begitulah kira-kira. Kate Winslate sendiri saya rasa tidak begitu berhasil memerankan tokoh Hanna Schmitz yang kuat.

Karena film memang tidak bisa menampung setiap detail dari novel, begitu banyak adegan-adegan yang dipotong. Misalnya kilasan-kilasan kenangan akan Hanna tidak ditampilkan. Padahal dengan kilasan itu menandakan bahwa sebenarnya Michael, meskipun katanya ia sudah tidak merasakan apa-apa pada Hanna, nyatanya begitu mengingat Hanna bahkan sampai ia tua.


Saya suka membayangkan adegan ketika Micahel membacakan buku untuk Hanna. Waktu membaca itu pasti sangat ditunggu-tunggu oleh Hanna yang sepanjang hidupnya tidak bisa membaca. Saya juga suka membayangkan adegan ketika Hanna mendengarkan kaset berisi suara Michael ketika Hanna di penjara. Membaca dan mendengarkan sebuah buku tentu penuh kesabaran. Dan bagi Hanna, Michael adalah juru bacanya yang pertama.

Tuesday, November 20, 2012

Seorang yang Katanya Guru


Beberapa hari yang lalu, teman saya bercerita tentang masalah adiknya. Sebut saja nama adik teman saya itu Bunga. Dulu, ketika naik kelas 2 SMA ia diharuskan memilih (atau dipilihkan) jurusan, IPA atau IPS. Dilihat dari nilai akademiknya, Bunga bisa masuk IPA, Bunga menempati tiga terbesar di kelasnya. Namun sayangnya guru berpendapat lain. Bunga tidak diperbolehkan masuk IPA. Ia ditolak. Alasannya? Alasan guru ini begitu mengejutkan saya.

Bunga beragama minoritas di sekolah itu. Salah satu sekolah di Jakarta Selatan (sekali, selatan sekali). Ia ditolak masuk IPA karena di kelas IPA sudah banyak murid yang beragam minoritas. Karena sudah banyak, ia tidak bisa masuk ke kelas itu. Tentu bukan itu alasan yang diucapkan oleh guru di depan murid dan orang tuanya. Guru itu berkata bahwa Bunga pernah dipergoki sedang menyontek. Alasan itulah yang katanya menjadikan Bunga tidak bisa masuk IPA.

Teman saya geram, ketika bercerita pun ia geram. Alasan itu sungguh tidak masuk akal. Mungkinkah selama guru itu mengajar hanya adiknya saja yang pernah ketahuan menyontek? Apakah murid-murid yang lain tidak pernah mengenal contek-menyontek? Lagipula Bunga berkata bahwa ia yang dicontek, bukan ia yang menyontek.

Alasan mengenai agama itu pun baru Bunga ketahui ketika menjelang lulus. Nasi sudah basi dan murid tetap murid. Bersyukurlah Bunga tidak merasa terganggu meskipun ia harus masuk IPS. Bahkan ia menjadikan tolakan itu sebagai batu pijaknya untuk belajar lebih giat.

Cerita itu membuat saya geleng-geleng kepala berkali-kali. Saya tahu tidak semua orang yang bisa menghargai perbedaan, tapi saya tidak menyangka bahwa bahkan yang katanya seorang guru tidak bisa memandang muridnya dengan objektif. Seorang yang katanya guru (geleng-geleng kepala).

Kenapa hal-hal seperti itu seolah dijadikan mainan dan tidak serius? Apakah kehidupan orang lain bukan dinamakan kehidupan? Punya hak apa mereka melarang sesuatu karena apa yang diyakininya? Seorang yang katanya guru! Astaga!

Saturday, November 17, 2012

A Separation (2011)


Simin ingin bercerai dari Nader. Tapi Nader tidak juga memberikan tanda tangannya. Dibuka dengan peristiwa di pengadilan, dengan fokus pada Simin dan Nader. Alasan Simin ingin bercerai dengan Nader adalah bahwa Nader tidak ingin ikut Simin pindah keluar negeri. Nader tidak mau pergi dari negara itu karena ia tidak bisa meninggalkan ayahnya yang sakit alzeimer. Hak asuh anak pun tidak bisa dipegang oleh Simin. Termeh, akan tinggal bersama ayahnya.

Simin kemudian memutuskan untuk pindah sementara waktu di rumah orang tuanya. Ia berharap masih bisa membujuk anaknya untuk pergi dari rumah ayahnya. Dan karena Nader harus bekerja, ia mempekerjakan seorang perempuan untuk membersihkan rumah dan menjaga ayahnya.

Perempuan itu, Razieh, selalu datang bersama anaknya yang masih kecil, Somayeh. Ia sendiri sedang hamil. Tapi karena keluarganya sangat membutuhkan uang, ia menerima pekerjaan itu meskipun harus berangkat sangat pagi karena jarak rumahnya yang jauh. Razieh tidak memberitahu suaminya bahwa ia bekerja karena suaminya pasti marah jika tahu Razieh bahkan harus membersihkan badan ayah Nader.

Suatu hari, Nader mendapati ayahnya terjatuh dari ranjang dan tanggannya diikat pada kepala ranjang. Razieh sendiri tidak ditemukan. Nader begitu marah melihat keadaan ayahnya. Beruntung, ayahnya masih hidup. Ketika Razieh kembali, Nader langsung mengusir Razieh dari rumahnya dan bahkan menuduhnya mencuri uang di laci kamarnya. Pertengkaran terjadi sampai akhirnya Razieh didorong keluar dari rumah Nader.

Mulailah konflik di film ini meningkat. Razieh keguguran dan perkara ini dibawa ke pengadilan. Suami Razieh, yang juga ditawarkan bekerja pada Nader, akhirnya tahu bahwa selama ini Razieh bekerja pada Nader. Marahlah suami Razieh apalagi ketika tahu bahwa Nader mendorong Razieh dan menyebabkan Razieh keguguran.

Film ini tidak akan menarik jika harus saya ceritakan di sini. Hahaha.. Padahal sudah beberapa film yang saya ceritakan di blog ini.

Intinya, yang ingin saya sampaikan adalah perpisahan antara orang tua akan menyebabkan anak menderita. Termeh dan Somayeh sama-sama menderita ketika melihat kedua orang tua mereka bertengkar. Bahkan ada satu scene yang memperlihatkan keakraban Termeh dan Somayeh. Tapi ketika kedua orang tua mereka bertengkar, Somayeh melihat Termeh dengan pandangan benci. Anak kecil yang tidak bersalah harus menanggung ketidakbahagiaan kedua orang tua mereka.

Film ini begitu menyindir. Tentang keluarga, tentang agama, tentang ketidakadilan yang dialami anak-anak. Tema yang diangkat sebenarnya sederhana, namun konflik dalam film ini begitu kuat.

Konflik yang terjadi di antara orang dewasa bukan menyebabkan mereka yang terluka melainkan anak-anak kecil di sekitar mereka.

Baik yang jujur atau baik yang tidak jujur?

Apakah menjadi orang yang baik berarti tidak jujur pada diri sendiri?
Saya lupa melihat (atau mendengar)--bahkan melihat atau mendengarnya pun saya lupa--di mana dan dari siapa pertanyaan itu diajukan. Tetapi pertanyaan tersebut beberapa kali mengusik pikiran saya. Saya pun bertanya pada diri saya sendiri, apakah saya orang yang baik, apakah saya tidak jujur pada diri saya sendiri.

Pertama kali melihat/mendengar pertanyaan itu, saya pikir itu pertanyaan yang salah. Tetapi, setelah saya pikirkan lagi, pertanyaan itu memang sebuah pertanyaan yang bahkan kadang tidak bisa saya jawab. Apakah saya tidak jujur pada diri saya sendiri ketika saya berusaha menjadi orang yang baik? Apakah ketika saya jujur pada diri saya sendiri berarti saya tidak sedang berusaha menjadi orang yang baik? Ah, memutarbalik pertanyaan itu tidak akan memunculkan jawaban tiba-tiba.

Ada kalanya saya tidak jujur pada diri sendiri ketika berusaha menjadi orang yang baik, tapi ada kalanya saya jujur pada diri sendiri ketika itu. Ketika saya menawarkan sesuatu kepada orang yang tidak saya suka, berarti saya tidak jujur pada diri sendiri ketika melakukan hal yang katanya baik itu.

Ya, mungkin itu yang dimaksudkan si penanya pertanyaan tersebut.

Pertanyaan kemudian sedikit saya ubah: Haruskah kita berbuat baik kepada orang yang membuat kita tidak jujur kepada diri kita sendiri?

Saya bukan orang yang suka basa-basi. Ketika di dalam sebuah ruang dengan orang-orang yang saya kenal dan mereka mengenal saya, saya tidak akan berbasa-basi pada orang yang tidak saya sukai. Saya tidak akan membuka percakapan dan menjawab dengan sesingkat mungkin jika ia bertanya pada saya. Saya berpikir, untuk apa saya berpura-pura baik jika saya tidak jujur pada diri saya dan pada orang itu.

Tapi, banyak orang yang memilih untuk berbasa-basi karena kesopanan mengharuskan yang demikian. Berarti ia sedang tidak jujur pada dirinya sendiri. Serba salah memang. Baik tapi tidak jujur, tidak baik tapi jujur, baik tapi jujur dicap tidak sombong, dan tidak baik tapi jujur tapi dicap sombong. Hahahaha..

Lebih baik kita makan es krim saja di tengah siang panas seperti ini. Selamat makaannn :D

Monday, November 12, 2012

Berawal dari Kasur, Kembali ke Kasur

Minggu, 11 November 2012

Hari ini dimulai dengan dering alarm yang seketika saya matikan kembali. Padahal pagi itu saya sudah punya janji. Beruntung tubuh tiba-tiba terbangun setengah jam kemudian. Segeralah saya bersiap.

Saya dan teman-teman dari Nalar akan pergi ke undangan salah satu teman kami di Bekasi. Kami berangkat sekitar pukul 08.30. Perjalanan bersama teman-teman selalu menyengkan.

Ya, layaknya undangan pernikahan. Demikianlah kami pulang dan merencanakan hendak ke jalan-jalan ke mana setelah ini. Hari masih siang.

Curug Cimahi. Ketika kemarin mendengar namanya saya tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Baru kemarin pertama kali ke Cimahi dan pertama kali mendengar Curug Cimahi. Kota Cimahi menyenangkan sejauh yang tampak di sepanjang perjalanan. Bangunan-bangunan klasik terpapar di sepanjang jalan. Udaranya sejuk padahal belum terlalu sore. Kontras dengan udara Bekasi yang membuat tangan takhenti mengibas-ngibas kipas.

Untuk mencapai curug (air terjun) kami harus melewati tangga-tangga yang sudah rapi dibangun. Bahkan untuk ukuran tempat wisata, tangga-tangga ini sungguh membanggakan karena lebih rapi dan 'serius digarap' daripada tempat wisata lain yang pernah saya kunjungi.

Tujuan Kami. Foto: Teh Mona

Tangga-tangga awal masih bisa tersenyum dan tertawa. Tangga-tangga pertengahan masih tersisa sedikit senyum dan tawa bekas tangga-tangga awal. Tapi di tangga terakhir, beberapa di antara kaki, kakinya gemetaran. Saya sampai takut kalau kaki saya berjalan sendiri saking gemetarnya. Hahaha...

Air yang memercik sungguh menyegarkan. Apalagi saat itu angin sepoi-sepoi membantu pergerakan percik air sehingga udara semakin segar. Sayangnya, kaki saya yang gemetaran membuat saya takut menapak batu-batu kokoh di sepanjang genangan air itu. Dan lagi, saya dari dulu takut melihat kumpulan air yang tidak bisa saya lihat ujung dalamnya.

Saat kaki gemetar. Foto: Teh Mona

Sudah nyaris gelap dan kami pulang. Membayangkan tangga-tangga yang akan saya daki membuat saya kembali gemetar. Sungguh bukan akhir yang diinginkan. Berharap ada helikopter mendekat dan membantu saya ke jalan pulang.

Bahkan baru belasan tangga saya capai, terasa perut sudah campur-aduk. Kembali membayangkan apa jadinya di tangga paling atas. Dengan nafas terputus-putus dan nyeri di perut bagian kanan, saya telusuri satu demi satu tangga itu. Beberapa teman sudah tidak terlihat dan beberapa teman masih setia menunggui, meskipun saya tahu pasti mereka kesal melihat kelambatan saya. Hahaha...

Dan, yang membuat saya terus berjalan adalah seorang bapak yang setia menunggui saya di belakang. Bapak itu memanggul dua karung sampah, masing-masing satu di bahunya, yang disangga dengan sebatang kayu. Berkali-kali saya katakan agar bapak itu lebih dahulu melintasi tangga, tapi beliau berkata bahwa silakan saya duluan, pelan-pelan saja, dan bapak tidak akan mendahului saya. Mungkin kalau tidak ada bapak itu di belakang saya, gerak saya akan semakin lambat karena tidak ada yang membuat saya merasa tidak enak.

Akhirnya, tangga terakhir (tangga ke 560 berdasarkan perhitungan teman saya) dan saya tidak bisa berkata apa-apa. Perut saya yang sakit sudah menyita seluruh kerja otak saya. Keringat dingin membanjiri dan saya ingin muntah. Tidak bisa menanggapi lelucon-lelucon teman, tidak bisa berbicara panjang, bahkan serasa tidak bisa menopang kepala.

Kami pulang, dan sebelum saya naik mobil, saya muntah. Sudah saya bilang saya ingin muntah dan legalah saya ketika saya muntah. Paling tidak rasa pahit yang sedari tadi bergelung di ujung tenggorokan bisa dilepaskan.

Ah, perjalanan yang menyenangkan dan melelahkan. Mungkin kemarin pertama dan terakhir kalinya saya mengunjungi Curug Cimahi dan tempat-tempat semacam itu. Hahahaha... Daripada merepotkan orang, lebih baik saya di kamar menonton film.

Semalam, begitu sampai di kamar, saya berganti baju dan segera tidur. Terbangun nyaris 12 jam kemudian dengan betis yang kaku seperti kayu.

Friday, November 9, 2012

SARA dan Masa Kecil

Pembicaraan mengenai SARA selalu menarik jika dibicarakan dengan sudut pandang yang benar. Tidak memihak, tidak menjatuhkan lain pihak, tidak menghina, dan tidak lain sebagainya. Saya pribadi selalu tertarik pada hal yang berhubungan dengan SARA. Saya suka membaca dan menonton yang berkaitan dengan Yahudi-Nazi, tentang Negro, tentang perang saudara, dan tentang lain sebagainya. Tahu tentang hal itu berarti saya tahu bahwa saya (dengan restu-Nya) bisa menghargai perbedaan. Terbukti saya bisa berbaur dengan orang dari latar belakang apa saja. Mungkin karena, dalam alam bawah sadar, saya mengakui bahwa saya berada di pihak yang juga di bawah.

Dulu sekali, seorang teman berkata bahwa saya termasuk kelompok sangat minoritas. Pertama, saya perempuan. Kedua, saya Tionghoa. Ketiga, saya Katolik. Kenyataan itu jelas sudah saya ketahui sejak lama, sejak saya belajar memahami bahwa dunia tidak semudah yang saya gambarkan ketika duduk di bangku sekolah dasar. Saya pun sepakat dengan perkataan teman saya itu. Dan jelas, saya tidak sendirian.

Sejak kapan perbedaan tentang SARA mencuat? Pertanyaan itu yang ditanyakan seorang teman yang lain, di kala kami sedang berbincang santai sambil melihat hujan. Saya katakan saya tidak tahu, tapi yang pasti semua ada kaitannya dengan politik pemerintahan. Ya, apa yang tidak dikaitkan dengan politik? Bahkan Tuhan pun dianggap bermain politik.

Seorang teman yang lain lagi bertanya, mengapa tidak semua orang bisa menilai masalah tentang SARA dari sudut pandang yang tidak memihak. Kali ini kami berbicara agak serius dari biasanya. Saya katakan bahwa tidak semua orang peduli bahwa itu adalah suatu masalah. Bagi saya ini masalah, belum tentu masalah juga buatmu. Begitu pula sebaliknya. Ada lagi orang yang tahu tapi akhirnya pura-pura tidak tahu karena menurutnya itu bukan urusannya. Tidak mau mencampuri urusan orang lain.

Pandangan kita sebagai manusia terbentuk dari kita kecil. Peran keluarga dan lingkungan sangat memengaruhi. Teman saya itu berkata bahwa ia bersyukur bisa lepas dari doktrin-doktrin yang salah dari keluarganya. Ia bersyukur bahwa ia mengerti perbedaan itu bukan untuk dijadikan musuh tapi untuk dihargai. Dan sayangnya, tidak semua orang bisa memilih dan mau berusaha memilih. Kebiasaan dari kecil itu sudah menjadi habitus dan sulit dilepaskan dari kepala kita.

Sama halnya ketika kita melihat lampu lalu lintas. Ketika lampu berubah warna menjadi hijau, kita akan jalan. Teman saya (yang berbincang sambil menatap hujan) berkata bahwa sampai sekarang pun ia sulit melepaskan konsep tentang warna kulit. Orang yang berwarna kulit anu pasti orang baik atau orang yang berwana kulit anu pasti orang jahat.

Ya, begitu dalam doktrin (kalau ini bisa saya sebut doktrin) yang dimasukkan ke dalam kepala kita sedari kita kecil. Hal-hal yang sebenarnya ingin kita abaikan ternyata menancap lebih dalam dari apa yang kita inginkan. Alam bawah sadar kita seolah menjadi lebih sadar.

Sampai sekarang pun kadang saya masih merasakan bahwa pemahaman-pemahaman yang diberikan melalui keluarga masih ada di kepala saya. Tapi kini saya sudah bisa memilih. Saya memandang orang bukan dari apa warna kulitnya, apa sukunya, apa agamanya. Saya memandang orang dari apa yang ia katakan yang berasal dari isi kepala dan hatinya.

Monday, November 5, 2012

Ara, Payung Biru, dan Pria di Sudut Jalan


Rintik hujan mulai turun. Ara bergegas mengeluarkan payung birunya. Ada gunanya juga punya payung, pikirnya. Segera rintik menderas, membuat suara berisik ketika bersentuhan dengan kain payung Ara. Orang-orang di sekitar jalan mulai menyingkir, mencari atap-atap untuk berteduh. Pengendara motor segera menepi, mencari jas hujan yang terselip di bawah jok motornya. Hanya pengendara mobil yang lancar melintasi jalan.

Hujan semakin deras tapi Ara tetap berjalan. Ia ingin segera pulang ke rumahnya. Kasur dan selimut hangat sudah menunggu. Tadi pagi ditinggalkan buru-buru karena Ara sudah terlambat.

Ara tidak peduli ketika ada beberapa mulut usil yang berteriak agar ia menepi. Hujan katanya. Ara tahu saat itu hujan. Tapi ia punya payung biru. Paling tidak ia aman dari serangan air bertubi-tubi.

Di jalan setapak itu, bukan hanya Ara yang berani menjejak tanahnya. Seorang pria berjaket biru berjalan di bawah derasnya air. Ah, itu dia. Pria yang menghantui malam-malam di kala ia tidak bisa lelap. Beranikah ia menyapanya? Untuk apa? Tangkai payung semakin ia genggam erat.

Semakin dekat menuju rumahnya, Ara pelankan langkah. Ia ingin berbagi ruang di bawah payung birunya pada pria itu. Pria berbulu mata lentik dengan bola mata yang menari-nari di pikirannya.

Pria itu menuju sebuah belokan di ujung jalan. Tolong, pelankan langkahmu. Hanya kata-kata tanpa suara yang mampu Ara ucapkan. Ambil payung biruku agar kamu takkuyup disiram hujan.

Rasanya, ingin Ara percepat langkah, samai langkah pria itu. Lalu diberikan payung birunya agar pria itu takusah lagi berjalan terburu-buru. Ara hanya bisa memandangi punggungnya menghilang ke sudut jalan itu. Hujan makin deras. Tinggal Ara dan payung biru, serta bayangan pria itu.

Sunday, November 4, 2012

Kakek yang Manis

Mukamu makin penuh keriput ketika kau tersenyum. Jabat tangan biasa saja yang kauberikan aku terima, karena aku terbayar oleh senyummu. Bahkan kacamata bergagang hitam itu membuatmu semakin menarik.

Langkahmu yang tertatih membuatku jalan lebih pelan dari biasanya. Dan aku menikmatinya. Dari belakang, aku puaskan mata dengan rambut kelabumu.

Kemeja kotak-kotak dan rompi rajutan cokelat kemudian mengundang senyum di wajahku. Kau begitu manis, semanis bau yang keluar dari tubuh rentamu.

Terberkatilah seorang kakek yang duduk di pojok kiri, di depan kursi saya tadi siang di gereja. Hari ini kakek itu membuat saya jatuh cinta. Semoga panjang umurmu, Kek :)